Ayat ke-55 dari Surat Al-Baqarah merekam peristiwa penting dalam rangkaian perjalanan Bani Israil yang dipaparkan sebagai pelajaran berharga bagi umat Nabi Muhammad.
Ajaran Islam menekankan pentingnya menjaga kesucian hati dari berbagai prasangka dan dorongan untuk mencari-cari kesalahan orang lain agar ukhuwah Islamiyah tetap terjalin dengan kokoh.
Setelah menguraikan penyelamatan dari cengkeraman Fir'aun, peristiwa pembelahan laut, hingga pengampunan atas penyembahan anak sapi, Allah melanjutkan penjelasan-Nya mengenai pemberian kitab dan petunjuk kepada Nabi Musa.
Setelah menguraikan mukjizat penyelamatan dari cengkeraman Fir'aun hingga peristiwa perjanjian di Bukit Thursina, ayat ini secara khusus menyingkap keagungan kasih sayang Ilahi.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Jika ayat sebelumnya membahas penyelamatan dari kekejaman dan penindasan Firaun, ayat ini menyajikan peristiwa penyelamatan yang jauh lebih dahsyat melalui terbelahnya laut.
Masjid-masjid di Inggris membuka pintu untuk publik lewat inisiatif Muslim Council of Britain. Warga bisa ikut tur, diskusi, hingga bertanya soal Islam.
Signifikansi ayat ini terletak pada cakupan kandungannya yang memuat tiga poin utama secara sekaligus: penyebutan nikmat penyelamatan, gambaran kekejaman Firaun dalam menyiksa Bani Israil, serta penegasan bahwa seluruh rentetan peristiwa tersebut menyimpan ujian yang sangat besar dari Allah.
Ayat ini menegaskan tanggung jawab individual di mana tidak ada satu pun jiwa yang bisa menggantikan peran jiwa lain, menetapkan bahwa syafaat hanyalah milik Allah.
Al-Biqa'i menjelaskan bahwa ayat ini hadir untuk mengikis kekhawatiran bahwa penggabungan anak-anak tersebut akan mengurangi pahala orang tua, sekaligus menegaskan prinsip bahwa tiada seorang pun yang memikul dosa orang lain.
Keutamaan Bani Israil berlaku terbatas pada era atau zaman mereka atas nikmat kerajaan, kenabian, dan kitab suci, bukan keutamaan mutlak atas seluruh zaman.
Kedudukan ayat ini sangat penting karena mengorelasikan secara langsung antara kepastian iman terhadap hari akhirat dan kemudahan dalam menjalankan ibadah.
Kedudukan ayat ini sangat penting dikaji karena menjadi pijakan utama akidah seorang Muslim terhadap wahyu Ilahiyaitu mengimani Al-Qur'an sebagai kitab pamungkas yang mengonfirmasi kebenaran kitab-kitab terdahulu
Komisi Warisan Arab Saudi menemukan sebuah masjid kuno di situs arkeologi Al Maallamah, wilayah Al-Baha. Bangunan tersebut diperkirakan berasal dari abad pertama Hijriah atau lebih dari 1.300 tahun lalu.
Dalam paparan materi tersebut, Kiai Jeje menegaskan bahwa adanya perubahan fatwa atau keputusan hukum dalam Islam bukanlah bentuk pengubahan terhadap syariat itu sendiri, melainkan penyesuaian dalam penerapan ijtihad terhadap situasi dan kondisi yang berkembang.
Komisi Warisan Arab Saudi mengungkapkan bahwa keberadaan struktur masjid ini menjadi kepingan informasi penting untuk memahami dinamika sosial dan evolusi arsitektur Islam pada era-era awal.
Dalam konteks kehidupan yang lebih luas, perintah ini menegaskan prinsip fundamental bagi setiap mukmin dalam mengarungi berbagai cobaan dan beban ketaatan.