Langit7, Banten - Ikan tilapia atau yang bisa disebut masyarakat sebagai ikan nila, memiliki pangsa pasar yang cukup besar.
Bahkan, ikan ini diyakini menjadi pesaing kuat ikan lele, dalam kebutuhan konsumsi. Selain harganya yang terjangkau, ikan nila juga memiliki kandungan gizi yang cukup baik.
Dalam 100 gram ikan nila terkandung sekitar 95 kalori dan beragam nutrisi, yakni 20 gram protein, 2 gram lemak, 10 miligram kalsium, 25 miligram magnesium, 170 miligram fosfor, 300 miligram kalium, 40 mikrogram selenium, dan 25 mikrogram folat.
Baca juga: Usaha Tak Khianati Hasil, Ini Rahasia Soto Angkring Mas Boed Tetap EksisSelain itu, ikan ini juga mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6, zat besi, zinc, kolin, mangan, vitamin B12, vitamin D, serta vitamin K
Sementara untuk peluang pasarnya, data dari Biro Pusat Statistik Indonesia mencatatkan, volume ekspor ikan nila tahun 2020 mencapai 12,29 ribu ton dengan nilai ekspor mencapai USD78,44 juta.
Secara keseluruhan, data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan, total ekspor perikanan RI mencapai USD5,2 miliar atau setara dengan Rp72,8 triliun sepanjang 2020. Dari nilai tersebut, USD4,84 miliar merupakan ekspor ikan konsumsi, yang secara volume ekspor mencapai 1,26 juta ton.
Potensi dari pasar ikan nila itu juga turut dimanfaatkan muslim asal Banten. Ialah Endang, yang memutuskan menjadi pebudi daya ikan nila sejak pandemi Covid-19 mulai melanda Tanah Air.
Dia mengaku, keputusan itu diambil karena pekerjaan lamanya sebagai pengawas konstruksi PLN cukup terdampak pandemi.
Baca juga: RM Sate Bang Tekun, Sediakan Makan Gratis untuk Berbuka Puasa SunnahTidak mau berdiam diri tanpa pergerakan, Endang mulai memikirkan langkah selanjutnya demi menyambung hidup. Hingga dia memilih budi daya ikan nila sebagai penggantinya.
"Sudah hampir 15 tahun (bekerja di PLN), tapi karena pandemi pekerjaan kita jadi agak berkurang. Maka itu kita coba budi daya ikan nila, dengan kapasitas awal 10 ribu di tiga kolam," ujar Endang dikanal YouTube agromaritim.
Seperti kebanyakan orang merintis usaha, Endang juga mengembangkan usahanya secara bertahap. Dia selalu menyisihkan keuntungan dari hasil panennya demi perkembangan usaha.
Untuk satu kolam dengan model bioflok diperlukan dana setidaknya Rp10 juta. Di kolam biofloknya itu, Endang menebar benih nila dengan kapasitas hingga 3.500 ekor.
"Kita pilih ikan nila karena jarak dari tebar benih ke masa panen tidak begitu lama. Jadi masa panennya sekitar 2-3 bulan," jelasnya.
Dalam waktu tersebut, lanjut Endang, nila sudah bisa dipanen dengan ukuran 5-6 ekor per kilogramnya. Sementara untuk pemasaran, dia sudah menjalin kerja sama dengan distributor.
"Alhamdulillah ada hasilnya, bahkan kami dari awal hanya 3 kolam, kini sudah berkembang hingga punya 9 kolam, di lahan seluas 1.500 meter persegi ini," tambahnya.
Baca juga: Halal Center, Upaya Pemerintah Dorong Perkembangan Industri HalalMenurutnya, pasang-surut dalam usaha merupakan hal yang lumrah terjadi. Untuk itu, diperlukan tekad kuat dan kerja keras untuk bisa meraih kesuksesan dalam berwirausaha.
"Jadi jangan takut rugi lah, kalau usaha kita harus coba terus," katanya.
(zul)