LANGIT7.ID, Jakarta - Penulis
Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab, meluruskan kesalahpahaman terkait bulan Rajab di tengah masyarakat muslim. Dalam Al-Qur'an, kata dia, terdapat 12 bulan yakni Muharram, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Itu termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 36.
Haram secara bahasa diartikan mulia. Dalam bahasa Indonesia berarti bulan yang dihormati. Haram juga bisa berarti terlarang. Ini karena sesuatu yang dihormati memiliki banyak larangan.
Misalnya, masjid merupakan tempat ibadah umat Islam yang dihormati. Lantaran status terhormat tersebut, ada banyak larangan yang mengikuti seperti tidak boleh melakukan jual beli dalam masjid, karena bisa menimbulkan keributan.
Quraish Shihab mengatakan, kehormatan empat bulan itu sudah diakui dan ditetapkan sebelum Muhammad diutus menjadi nabi dari Tanah Arab. Orang musyrik sangat senang berperang, bahkan masalah sepele saja bisa diselesaikan dengan pertumpahan darah.
Meski begitu, mereka memiliki naluri untuk hidup damai. Maka itu, mereka menetapkan ada empat bulan yang tidak boleh dilakukan perang. Jika hendak berperang, mereka menangguhkan bulan.
"Misalnya, kalau Muharram besok, mereka tangguhkan jadi dua bulan lagi, supaya mereka bisa perang. Sehingga yang terjadi adalah kekacauan perhitungan bulan," kata Quraish Shihab melalui kanal
Youtube-nya, dikutip Rabu (2/2/2022).
Ketika Islam datang, Al-Qur'an memperkuat aturan tersebut. Para ulama menganjurkan memperbanyak kebaikan dan tidak melakukan keburukan pada bulan-bulan tersebut. Ibnu Abbas dalam tafsirnya mewanti-wanti umat Islam agar melakukan banyak kebaikan pada bulan-bulan itu.
"Pada bulan Rajab, kita dituntut untuk menghindari keburukan dan melakukan aneka kebaikan," ucap Quraish Shihab.
Meski begitu, sebagian orang terkadang menambah-namahkan, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah. Misalnya, jika memasuki Rajab, sebagian orang mengucapkan kata selamat berdoa:
Allahumma barik lana fi rajab wa sya'ban wa balighna ramadhan.Kalimat itu bagus, tapi bukan hadits. Boleh saja berkata seperti itu, tapi tidak boleh mengatakan itu hadits. Masalahnya, dahulu orang mengatakan itu hadits untuk melakukan dan mendorong orang lain melakukan kegiatan positif.
"Hadits menyangkut Rajab ini, banyak dibuat orang yang bermaksud baik, tapi bodoh, dia mengatasnamakan nabi," ucap Quriash Shihab.
Hal yang dipermasalahkan dalam hal ini bukan kebaikan yang dilakukan pada bulan Rajab, tetapi menyebut beberapa yang dilakukan bersandar pada ucapan dan perkataan Nabi Muhammad SAW.
Padahal, ketika diperiksa, tidak ada landasan kuat dalam hadits nabi. Jadi, boleh saja membaca doa tertentu ketika memasuki bulan Rajab, tapi tidak boleh menganggap doa itu khusus dianjurkan oleh Rasulullah SAW, kalau tidak ada riwayat shahih langsung dari nabi.
(jqf)