LANGIT7.ID, Jakarta - Learn Quran merupakan perusahaan pengembang aplikasi
software yang memiliki visi besar untuk umat yakni menciptakan solusi teknologi alat belajar Quran terbaik di dunia.
Produk pertama Learn Quran adalah Learn Quran Tajwid, aplikasi mobile yang membantu pengguna mempelajari cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an sesuai hukum tajwid.
Materi pembelajaran yang tersedia dalam aplikasi Learn Quran Tajwid sangat lengkap, mulai dari huruf-huruf Hijaiyah sampai hukum-hukum tajwid seperti
makharijul huruf.
Learn Quran Tajwid juga cocok untuk semua level. Bagi level pemula tidak perlu khawatir, karena Learn Quran memberikan kemudahan dengan penulisan huruf-huruf dasar dan transliterasi huruf latin. Disertakan pula audio untuk mengetahui cara pengucapan.
Untuk mengenal lebih dekat Learn Quran Tajwid, LANGIT7.ID telah mewawancari perintis perusahaan pengembang software tersebut, Mohamad Sani. Berikut kutipan wawancaranya:
Sudah banyak aplikasi Al-Qur'an, apa latar belakang membuat Learn Qur’an?Pertama-pertama, perlu dipahami bahwa Learn Qur'an itu bukan aplikasi mushaf Al-Qur'an. Ia adalah aplikasi untuk belajar Al-Qur'an. Learn Qur'an berbeda dengan semua itu (aplikasi mushaf Al-Qur'an). Jadi, kalau berbicara latar belakang, saya dan perusahaan saya adalah pembuat aplikasi khususnya Android, iOS, dan website.
Lalu, pada 2012 atau 2011, sekitar itu, kami didatangi oleh sekelompok guru ngaji yang punya metode untuk mengajarkan Al-Qur'an yang mereka buat sendiri. Mereka bilang metodenya bagus, dan mereka mau membuat aplikasi, tapi tidak bisa.
Baca juga: Bakal Banjir Pesanan di Ramadhan, Pelaku UMKM Bisa Terapkan 5 Tips IniMereka datang ke kantor kami untuk bekerja sama. Kami yang buatkan aplikasinya. Kontennya dari mereka, karena mereka yang membuat metode pembelajarannya. Maka, ketemulah masing-masing kompetensinya.
Tetapi, sejak 2015, kami sudah tidak bekerjasama lagi dengan mereka. Jadi, Learn Qur'an ini sudah milik perusahaan saya sepenuhnya. Sejak 2015 itu, kami kembangkan terus sampai sekarang.
Kita buat tim khusus yang memang untuk membuat aplikasi ini sampai sekarang. Jadi sudah 7 tahun pembuatan aplikasi Learn Qur'an Tajwid ini.
Bagaimana respon masyarakat terhadap aplikasi Learn Quran Tajwid?Pada 2015, kami lihat minat masyarakat sangat tinggi. Jadi, tanpa upaya
marketing apapun,
download-nya itu ribuan setiap hari. Itu dari seluruh dunia. Jadi, itu penanda bahwa aplikasi ini sangat diinginkan dan dibutuhkan masyarakat.
Dari
download yang ribuan setiap hari itu, bisa sampai puluhan ribu setiap hari, aplikasi Learn Qur'an Tajwid versi Android-nya saja, karena pada 2015 itu kita belum buat iOS-nya. Nah, dari minat masyarakat yang besar itu, ada peluang amal jariyah maupun bisnis yang besar.
Tanggapan masyarakat sangat bagus, bisa dilihat dari
review Google Play Store maupun iOS Store. Tanggapan masyarakat positif, rata-rata bintangnya itu 4,7 dan 4,8. Begitu juga di iOS, seingat saya terakhir 4,7 dan 4,8.
Apa perbedaan Learn Qur'an dengan aplikasi belajar Al-Qur'an yang lain?Perbedaan utamanya di sisi kualitas. Kami memang dengan sengaja, bahkan sudah menjadi misi dan tagline dari perusahaan maupun dari yayasan kami, untuk memberikan aplikasi belajar Al-Qur'an dengan teknologi yang terbaik.
Ibarat di industri mobil, Toyota itu kan perbedaannya dengan merek lain yang penting murah, biar bisa jualan banyak. Nah, Learn Qur'an tidak mengambil strategi seperti Toyota, tetapi mengambil strategi seperti Mercedes atau BMW. Kami sangat serius, puluhan ribu jam kerja bersih mengerjakan Learn Qur'an Tajwid saja, belum terhitung Learn Qur'an Tafsir yang sudah 5 tahun.
Jadi, selama bertahun-tahun, Learn Qur'an Tajwid itu sudah menghabiskan milyaran rupiah. Hanya satu aplikasi, dan puluhan ribu jam kerja bersih, karena memang untuk mengejar kualitasnya.
Kami percaya bahwa di industri
software, agar bisa menjadi yang menang dibanding yang lain, harus memiliki aspek kualitas. Itu strategi yang kami pilih.
Apa langkah anda menjaga kualitas tersebut?Contohnya, selain di tim kami mengerjakan secara serius, kami juga mensertifikasi aplikasi kami, baik itu ke ulama tajwid nomor satu di Indonesia, maupun ke ulama Al-Qur'an di Arab Saudi, dan kami sertifikasi ke ulama-ulama lain.
Jadi sudah banyak ulama yang mengecek Learn Qur'an Tajwid dan memberikan sertifikasi bahwa aplikasi itu bagus. Salah satu ada KH Ahsin Sakho Muhammad, mantan Rektor Institut Ilmu Qur’an. Di Saudi, ada Syaikh Doktor Qasim dan beberapa ulama. Tidak mudah mendapatkan sertifikasi mereka.
Apa yang sudah kami kerjakan bertahun-tahun, menjadi bukti bahwa kami menjaga kualitas. Contohnya kepada KH Ahsin, beliau cek aplikasi kami. Ada lebih dari puluhan sampai ratusan
feedback untuk diperbaiki terlebih dahulu. Sampai sudah diperbaiki semua, dicek semua, barulah belau mau memberikan sertifikasi.
Nah, memang dari sisi kualitas tidak main-main. Betul betul sangat serius. Bahkan, kami sudah pakai qori hafidz 30 juz yang mewakili Indonesia di kompetisi Qur'an di Kuwait, Muhammad Syaihul Basir. Itu
saking pengennya kami sempurnakan.
Dari sisi
software juga begitu. Dari pemilihan teknologi, kami tidak main-main juga, pakai
native development, teknologi terbaru, Android-nya itu pakai Android
Kolin, kalau iOS pakai
swift. Kami update terus ke teknologi terbaru, karena kami ingin menjaga kualitas.
Swift update versi, kami update juga, hanya untuk memberikan teknologi terbaik.
Baca juga: Tafsir Al-Baqarah 189: Fungsi Bulan untuk Tentukan Waktu IbadahItulah beberapa yang kami lakukan untuk membuat kualitas terbaik. Buktinya bisa terlihat dari
review user di Play Store dan iOS Store.
Kami juga punya direktur Syariah yang selalu memberikan masukan, lulusan LIPIA, jurusan Islam terbaik di Indonesia. Beliau adalah lulusan terbaik di angkatan, hafidz 30 juz. Dia adalah Ustadz Nur Fajri Ramadhan, dan sejak 2017 menjadi direktur Syariah Learn Qur’an.
Apa tantangan dalam mendigitalisasi Qur'an?Tantangan digitalisasi Qur'an adalah ketika berbicara tentang
software, khususnya pembuatan aplikasi Android lebih optimize untuk bahasa Inggris maupun bahasa yang menggunakan huruf ABCDE (Latin-red). Jadi, tantangan kalau kita mau membuat satu aplikasi yang ada teks Arabnya.
Karena sebenarnya teks Arab itu tidak
optimize untuk aplikasi, tidak semudah huruf ABCD masukinnya. Apalagi huruf Arab itu dari kanan ke kiri. Secara natural saat membuat
software dari kiri ke kanan. Itu tantangan, bagaimana membuat suatu font, misalkan kalau dalam Learn Quran Tajwid itu pengen tampilannya semaksimal mungkin menggunakan ukuran layar.
Nah, huruf Arab ini kan hurus sambung, beda dengan ABCDE yang tidak sambung. Itu banyak tantangan bagi kami, misal huruf sambung terputus, seperti “fatihah” itu sebenarnya sambung. Kalau tidak pintar-pintar membuatnya, fa-nya bisa terbawa atau terputus sambungannya. Itu suatu tantangan dalam mendigitalisasi Al-Qur'an.
(jqf)