alexametrics
Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Minggu, 26 Juni 2022
home global news detail berita

Dear Tun Mahathir, Tanah Melayu Bukan Hanya Milik Satu Negara Saja

ahmad jilul qurani farid Kamis, 23 Juni 2022 - 16:47 WIB
Dear Tun Mahathir, Tanah Melayu Bukan Hanya Milik Satu Negara Saja
ilustrasi (langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad melalui pernyataannya memunculkan kembali polemik klasik antara Malaysia dan Indonesia yang merupakan bangsa serumpun.

Dalam sebuah acara di Selangor, Mahathir menyebut bawa seharusnya Malaysia mengklaim Singapura dan Kepulauan Riau sebagai wilayahnya karena merupakan bagian dari tanah melayu.

“Seharusnya kita tidak hanya menuntut agar Pedra Branca, atau Pulau Batu Puteh, dikembalikan kepada kita, kita juga harus menuntut Singapura dan Kepulauan Riau, karena mereka adalah Tanah Melayu,” kata Mahathir, melansir Strait Times.

Tak hanya sampai situ, Mahathir juga menyenggol konflik teritorial antara Malaysia dan Indonesia di Sipadan dan Ligitan. Di mana pada akhirnya International Court of Justice (ICJ) memenangkan klaim Malaysia terhadap pulau yang berada di Selat Makassar itu.

Baca Juga: Mahathir Klaim Kepri Bagian Malaysia, Padahal Pusat Budaya Melayu Ada di Indonesia

Klaim Mahathir tidak bisa dianggap sebagai angin lalu, sebab bara dalam sekam konflik kultural maupun politik antara Indonesia dan Malaysia selalu berpotensi muncul. Dari taraf yang biasa saja hingga yang serius sampai merepotkan Indonesia di ICJ, diakhiri lepasnya wilayah itu dari Indonesia.

Pakar Hubungan Internasional University of Queensland, Australia, Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, menyebut klaim politisi baik di Indonesia maupun Malaysia terhadap teritori maupun budaya yang ada di negara tetangganya akan selalu muncul jika tak ada pemahaman sejarah global yang baik.

“Tanpa pemahaman sejarah global yang tepat tentang wilayah kita, kita akan melihat lebih banyak politisi semacam ini yang ingin mengklaim 'ini' atau 'itu' berdasarkan klaim historis yang sangat sempit,” kata Umar kepada LANGIT7.ID, Rabu (22/6/2022).

Baca Juga: Wawancara Khusus Mahathir Mohamad: Romantisme Pasang Surut Hubungan Indonesia Malaysia

Merupakan tanggung jawab bagi para akademisi untuk mengkaji dan mengkonseptualisasikan sejarah global tersebut. Tanpanya, pemahaman tentang kemelayuan akan selalu memunculkan polemik karena tiap pihak memiliki versinya masing-masing.

“Ini sebenarnya adalah panggilan bagi para sarjana Asia Tenggara untuk menganggap serius sejarah global. Kita tidak dapat memahami 'Melayu' tanpa memahami keterlibatan mendalam antara berbagai Kesultanan dan Kerajaan di seluruh nusantara sejak bertahun-tahun yang lalu,” terang Umar.

Menurut Umar, kita sering salah memahami Malaysia sebagai Melayu. Padahal orang Melayu itu jauh lebih luas, karena dulunya banyak sekali Kerajaan Melayu yang saling berkompetisi.

Di tubuh Kesultanan Johor saja, pernah terjadi perang saudara saat kesultanan itu berpusat di Pulau Penyengat pada tahun 1719. Atau konflik antar kerajaan seperti antara Kesultanan Johor dengan Kesultanan Siak. Dan berbagai konflik rumit lain yang seringkali melibatkan pihak penjajah seperti VOC.

Baca Juga: Wawancara Khusus Mahathir Mohamad: Peradaban Islam Bangkit jika Muslimin Amalkan Nilai Keislaman

Dengan latar belakang demikian, kata Umar, akhirnya wajar kalau orang Melayu tersebar dimana-mana. Tidak hanya berada di semenanjung Malaya milik Malaysia, namun lintas negara sampai ke Sumatera hingga Kalimantan.

“Dan semua negara kepulauan di Asia Tenggara sebenarnya punya ikatan Melayu satu sama lain. Wong sejarah kita saling terhubung,” kata Umar.

Masalahnya, negara bangsa di Indonesia juga Malaysia merupakan warisan kolonialisme. Dan garis batas yang ditentukan adalah garis batas yang dulunya diberi penjajah buat menandai teritori negara merdeka yang terwariskan secara legal dan politis di masa setelah penjajahan.

Artinya, baik Malaysia termasuk Indonesia tidak bisa mengklaim bahwa semua tanah Melayu adalah bagian dari teritorinya sebab kemelayuan tidak bisa dibatasi pada satu negara semata.

“Ini soal kesalahpahaman dalam memahami identitas Melayu.Melayu itu identitas transnasional sebenarnya.Tidak bisa dibatasi satu negara dan agama,” pungkas Umar.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
right-1 (Desktop - langit7.id)
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Minggu 26 Juni 2022
Imsak
04:31
Shubuh
04:41
Dhuhur
11:59
Ashar
15:20
Maghrib
17:52
Isya
19:06
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:23 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian Kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada Kitab Allah untuk memutuskan (perkara) di antara mereka. Kemudian sebagian dari mereka berpaling seraya menolak (kebenaran).
QS. Ali 'Imran:23 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan