Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 21 Februari 2024
home edukasi & pesantren detail berita
Khazanah Islam di Nusantara

Tradisi Jawa Sambut Tahun Baru Islam, Sedekah Hingga Ziarah

Muhajirin Sabtu, 30 Juli 2022 - 17:40 WIB
Tradisi Jawa Sambut Tahun Baru Islam, Sedekah Hingga Ziarah
Grebeg Suro, salah satu tradisi sedekah masyarakat Jawa di bulan Muharram (foto: Pesona Indonesia)
LANGIT7.ID, Jakarta - Masyarakat Jawa menyebut bulan Muharram sebagai bulan Suro. Orang Jawa memiliki tradisi unik dalam merayakan Muharram atau tahun baru Islam.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof Nursyam, menjelaskan, Islam dan Jawa sudah menjadi entitas kebudayaan yang menyatu dan tidak terpisahkan. Jika tidak bisa dipisahkan, maka Islam dapat berkolaborasi dengan tradisi Jawa.

"Sehingga Islam dan Jawa dapat membangun demokrasi dan kemodernan. Keduanya saling memberikan sumbangannya dalam satu kesatuan untuk membangun peradaban yang agung dan mendunia," jelas Prof Nursyam di blog-nya, dikutip Sabtu (30/7/2022).

Maka itu, ada beberapa hal yang bisa dipahami mengenai perilaku orang Islam Jawa, terkait perayaan 1 Muharram atau 1 Suro. Founder Nursyam Centre (NSC) dan Friendly Leadership Training itu mencatat lima tradisi terkait perayaan 1 Muharram:

1. Tradisi Mencintai dan Menghormati Keris dan Benda Pusaka Lain

Keris atau benda-benda pusaka lainnya tentu bukanlah tradisi asli Islam. Tapi, hampir di semua kerajaan Islam dijumpai benda-benda pusaka. Bahkan, para Wali juga memiliki benda-benda pusaka.

Baca Juga: Muhammadiyah: Sambut Tahun Baru Islam Tidak Dianggap Bid'ah

Di dalam cerita, misalnya Kanjeng Sunan Giri memiliki Kiai Kolomunyeng. Raja Mataram memiliki Kiai Sengkelat. Ada juga Kyai Nogososro Sabuk Inten dan sebagainya. Ini tentu melengkapi kehebatan para empu (pembuat keris) seperti Empu Gandring dalam cerita Kerajaan Tumapel, atau Empu Supo dalam cerita Walisongo dan sebagainya.

"Bahkan di setiap wilayah juga menyimpan tradisi senjata-senjata sakti, seperti Rencong di Aceh, Tombak dan Keris di Jawa, dan sebagainya," tutur Prof Nursyam.

2. Tradisi Puasa Khas

Pada bulan Suro penganut Islam Jawa melakukan puasa patigeni, puasa mutih, puasa ngrowot, puasa ngebleng dan sebagainya. Puasa patigeni dilakukan dengan cara tidak memakan makanan hasil perapian.

Puasa mutih artinya hanya makan nasi putih dan air putih saja saat berbuka. Puasa ngrowot dilakukan dengan hanya memakan buah-buahan, puasa ngebleng dilakukan dengan menanam dirinya di tanah dan sebagainya.

"Puasa-puasa ini tentu saja dilakukan dengan tujuan untuk melatih kejiwaan dan kekuatan batin agar dekat dengan Allah sing agawe urip (Tuhan yang mencipta kehidupan). Urip iku urup artinya bahwa hidup itu adalah pengabdian kepada Tuhan untuk kepentingan kemanusiaan," ungkap prof Nursyam.

Selain itu, bulan Suro di kalangan Orang Jawa dikenal sebagai bulan tirakatan. Tirakat yang dilakukan oleh Orang Jawa tentu agak berbeda dengan tarekat dalam pengertian organisasi kaum sufi.

Tirakatan artinya tindakan untuk pendekatan khusus kepada Allah melalui puasa, berdzikir atau eling kepada-Nya, dan melanggengkan ritual-ritual khusus yang dianggap sebagai cara atau jalan agar bisa berdekatan dengan Tuhan.

3. Tradisi Memandikan Pusaka yang Dianggap Memiliki Kesaktian

Memang, banyak masyarakat yang tidak meyakini pusaka seperti keris, tombak, bahkan batu akik memiliki kekuatannya sendiri. Kekuatan khusus yang hanya dimiliki oleh benda-benda tersebut. Kekuatan itu adalah anugerah Allah kepada alam.

"Ada keistimewaan yang dimiliki oleh benda-benda tersebut karena sesungguhnya adalah representasi dari kekuasaan Allah. Orang Jawa meyakini bahwa ada representasi kekuasaan Allah pada benda-benda di alam ini," ucap Prof Nursyam.

Prof Nursyam menjelaskan, keyakinan itu tidak sama dengan konsep dinamisme di dalam agama-agama primitif, yang beranggapan bahwa setiap benda memiliki kekuatan sehingga bisa disembah.

Di dalam tradisi Islam-Jawa, benda-benda itu adalah representasi Tuhan untuk menunjukkan tentang tanda-tanda kebesaran-Nya bisa terdapat di antara kita semua. Bukan untuk disembah.

"Akan tetapi dijadikan sebagai bukti bahwa Allah itu maha kuasa dan berkuasa untuk menjadikan benda atau apa saja bisa memiliki ciri khas yang berbeda dengan lainnya," ujar Prof Nursyam.

Para empu pembuat keris atau tombak tentu tidak hanya menggunakan kekuatan fisik, tetapi dengan lelaku atau tirakat atau riyadhah yang sangat mendasar. Mereka mencipta pusaka tersebut dengan semedi (upacara-upacara khas) untuk meminta kepada Allah agar yang diciptakannya menjadi penjaga alami bagi yang memilikinya.

"Di dalam tradisi Jawa, maka pembuatan pusaka-pusaka istimewa dilakukan sampai berbulan-bulan karena banyaknya upacara ritual yang harus diselenggarakan. Orang Jawa sangat menghargai prosesi itu, sehingga memuliakannya," tutur Prof Nursyam.

4. Tradisi Ziarah Kubur para Orang Suci

Ziarah kubur sekarang sudah merupakan bagian dari tradisi Islam Indonesia. Tidak hanya Orang Jawa yang melakukan ritual ziarah kubur para wali atau penyebar Islam. Akan tetapi makin banyak orang yang melakukan ziarah Wali. Di Jawa dikenal ziarah Wali Songo (Wali Sembilan).

Wisata ziarah ini dilakukan secara berjamaah. Meskipun saat ini ziarah makam wali tidak terbatas pada bulan-bulan tertentu, namun demikian khusus bulan Muharram kuantitas peziarahnya semakin banyak.

Ritual ziarah makam suci dilakukan dengan harapan Allah memberikan keselamatan dan keberkahan hidup selama setahun berlangsung. Mereka mempercayai para waliyullah adalah wasilah yang baik agar doanya diterima oleh Allah.

Baca Juga: Sejarah Asal Mula Bedug dan Hubungan Eratnya dengan Masjid

"Mereka bukan berdoa kepada arwah Waliyullah, akan tetapi menjadikan orang suci ini sebagai perantara yang baik untuk doa yang dilantunkannya kepada Allah," tutur Prof Nursyam.

5. Tradisi Sedekah

Tradisi sedekah juga mewarnai bulan Suro. Ada keyakinan bulan Muharram adalah bulan yang sangat baik untuk sedekah. Orang yang banyak sedekah kepada orang miskin dan anak yatim.

Mereka meyakini, melalui sedekah kepada anak yatim pada 10 Muharram, maka Allah akan menurunkan keselamatan dan keberkahan. Itu yang membuat banyak orang yang berlomba-lomba mengeluarkan sedekah pada bulan Muharram ini.

"Kita tentu tidak bisa memvonis apakah pelaksanaan upacara-upacara ini memiliki dalil naqli atau tidak, akan tetapi satu hal yang penting adalah adanya keyakinan bahwa di bulan Suro ini segala keprihatinan dan tirakatan harus dilakukan," pungkas Prof Nursyam.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 21 Februari 2024
Imsak
04:32
Shubuh
04:42
Dhuhur
12:10
Ashar
15:19
Maghrib
18:18
Isya
19:27
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan