LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah, dan Teknik dari Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (MBHTE BARMM) Filipina datang ke Indonesia untuk mempelajari sistem pendidikan madrasah dan pesantren. Institusi tersebut berencana mendirikan Madrasah Negeri di negara Mutiara Laut Orien.
Dirjen Madaris Bangsamoro Filipina, Tahir G Nalg, mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Atas dasar itu, dia datang ke Indonesia untuk mempelajari sistem pembelajaran di madrasah dan pesantren.
Di sisi lain, Tahir mengungkapkan, lulusan madrasah di Bangsamoro saat ini masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Masih ada kesenjangan antara lulusan sekolah umum dan lulusan madrasah.
Baca Juga: MAN Insan Cendekia Jadi SMA Terbaik di Indonesia Berdasarkan Hasil UTBK
“Kita ingin belajar, bagaimana lulusan pesantren dan madrasah dapat berkancah di dunia kerja layaknya lulusan sekolah umum,” kata Tahir, dikutip laman resmi Kemenag, Jumat (16/9/2022).
Rombongan tersebut berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Di antaranya Pondok Pesantren Al Hamid Jakarta Timur, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta, dan MAN Insan Cendekia (IC) Serpong Tangerang Selatan. Mereka juga berkunjung ke Madrasah Masjid Istiqlal Jakarta.
Dalam kunjungan tersebut, Tahir mengaku terkesan melihat aktivitas belajar-mengajar yang ada di madrasah dan pondok pesantren. Dia berharap, sistem tersebut bisa diadopsi untuk mengembangkan pendidikan Islam di Filipina.
“Kami sangat berharap bisa mengadopsi hal hebat yang diterapkan oleh sistem pendidikan Islam di Indonesia. Ke depannya, semoga kami bisa mengirim delegasi kami untuk belajar langsung di madrasah dan pesantren di Indonesia agar langsung bisa diterapkan di madrasah kami,” kata Tahir.
Baca Juga: Ubah Hutan Angker Jadi Pesantren Internasional, Kiai Asep Dikira Pelihara Tuyul
Rombongan itu juga berkunjung ke Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kemenag RI di Jakarta. Dalam kesempatan itu, Dirjen Pendis, Muhammad Ali Ramadhani, menjelaskan, Kemenag membawahi lebih dari 77 ribu lembaga madrasah.
Kemudian, ada 700 lembaga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) baik negeri maupun swasta, dan 35 ribu lebih pondok pesantren di seluruh Indonesia. Dhani menjelaskan, madrasah di Indonesia pada dasarnya sama dengan sekolah umum. Hanya saja, hal yang membedakan adalah pelajaran agama.
“Bedanya satu, bahwa kami menambahkan pelajaran agama sebagai inti penyelenggaraan madrasah, sehingga kami tidak merubah, tapi menambah,” kata Dhani di hadapan delegasi Filipina itu.
(jqf)