Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 13 April 2024
home sosok muslim detail berita

Berkontribusi pada Perdamaian Dunia, Alumnus Gontor Raih Doktor Honoris Causa

Muhajirin Jum'at, 23 September 2022 - 19:00 WIB
Berkontribusi pada Perdamaian Dunia, Alumnus Gontor Raih Doktor Honoris Causa
Habib Chirzin memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (foto: istimewa)
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID, Yogyakarta - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menganugerahi Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Sosiologi Perdamaian kepada Drs. M. Habib Chirzin dalam Sidang Senat Terbuka pada Rabu (21/9/2022).

Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor periode 1986 itu dinilai memiliki peran penting dalam bidang sosiologi perdamaian. Dia telah memberikan kiprah dalam pengembangan dan pengarusutamaan nilai-nilai perdamaian melalui kegiatan sosial di lapangan, seminar, workshop, dan diskusi sejak 1982.

Aktif Keliling Dunia Bawa Misi Perdamaian

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Phil Al Makin, mengatakan, Habib Chirzin melakukan presentasi keliling dunia membawa topik perdamaian. Tercatat 92 kali presentasi di puluhan kota di penjuru buana yang pernah dilakukan.

Habib Chirzin sudah pernah presentasi di Sri Lanka, Bangkok, Manila, Kathmandu, Rio de Janeiro, Kuala Lumpur, Melaka, Kota Kinabalu, Penang, Singapura, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Makna Tema Muktamar Muhammadiyah: Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta

"Pak Habib sudah presentasi keliling dunia, temanya adalah kedamaian, kerjasama, aktif. Jadi, anugerah ini sangat layak dan kita harus mengakui reputasi beliau yang melampaui kita," ujar Al Makin, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Jumat (22/9/2022).

Menyebarkan Nilai-Nilai Perdamaian

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah periode 1986-1989 itu sudah menyebarkan nilai-nilai pemikiran perdamaian, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Tercatat, sudah 92 kali dia menyampaikan presentasi makalah dalam seminar, workshop, dan konferensi internasional.

Dalam sidang tersebut Habib Chirzin menyampaikan pidato berjudul 'Wacana Baru Perdamaian dan Perlunya Mengarusutamakan Keamanan Manusia', dengan kajian menggunakan perspektif Maqashid al-Syari'ah.

Dia menilai, maqashid al-Syari'ah merupakan bingkai lintas adanya lintas disiplin. Lintas disiplin ini diperlukan untuk menghadapi dunia pascaperang dingin. Saat ini diperlukan pendekatan baru, sebab pada masa lalu masyarakat berpikir tentang perdamaian sebagai antitesis perang.

Baca Juga: Manfaatkan Momen G20, PBNU Ingin Agama Jadi Solusi Masalah Global

Padahal, pasca perang dunia global sudah berkembang. Perdamaian bukan lagi lawan dari perang, tapi peacelessness atau ketidakamanan. Pada masa lalu, perdamain dan perang sangat terkait dengan konsep-konsep negara yang konsen terhadap batas wilayah dan cara menjaga perbatasan dari invasi negara lain.

Paradigma itu memunculkan berbagai macam perlombaan senjata yang merugikan pembangunan. Perlombaan senjata menguras begitu besar energi di dunia. Bahkan, orang-orang cerdas 'dimanfaatkan' untuk masuk ke dalam sistem pernag.

Pascaperang dingin, jebolnya Tembok Berlin, dan melumernya Tirani di Uni Soviet, maka ancaman manusia saat ini bukan lagi berupa militer. Konflik saat ini justru bukan antarnegara, tapi antarkelompok di dalam negara. Konflik itu bisa disebabkan perbedaan etnik, kemiskinan akut, perubahan iklim, dan seterusnya.

"Maka jika dulu dalam menciptakan perdamaian ada adagium si vis pacem para bellum, sekarang adagiumnya berubah menjadi si vis pacem para pacem (kalau engkau ingin damai, siaplah untuk damai)." kata Habib Chirzin, dikutip laman resmi Muhammadiyah.

Baca Juga: Sekjen Liga Muslim Dunia Serukan Pentingnya Nilai Agama Bangun Perdamaian

Maka itu, perdamaian justru bermula dari dalam diri masing-masing dunia. Ketika setiap manusia menyadari itu, maka akan terbentuk masyarakat yang cinta akan kedamaian.

Perdamaian Dibutuhkan untuk Atasi Kesehatan Masyarakat

Habib Chirzin menilai pandemi Covid-19 sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan manusia. Masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia, mengalami ketidakamanan selama corona mewabah.

Pandemi corona yang mendorong banyak negara mengeluarkan pembatasan pergerakan manusia telah berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Secara tidak langsung, corona telah menjelma sebagai bentuk ketidakdamaian (peacelessness) sekaligus ancaman bagi keamanan manusia yang baru.

Dia juga juga mencontohkan penyakit menular yang tidak bisa ditangani karena interaksi global yang buruk. Penyebaran HIV/AIDS menjadi ancaman terhadap keamanan manusia. Pada 2002, 42 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, lebih dari 95% dari mereka di negara-negara berkembang, dan 75% di sub-Sahara Afrika.

Diperkirakan lima juta orang terinfeksi HIV/AIDS pada 2002. Setengah dari mereka adalah anak muda, dengan wanita muda dan anak perempuan sangat terpengaruh. Anak-anak yatim piatu akibat penyakit itu berjumlah 11 juta di wilayah sub-Sahara (UNAIDS/WHO, 2022).

Baca Juga: 4 Peran Indonesia Jadi Juru Damai Konflik di Berbagai Negara

Setiap tahun, ada lebih dari 300 juta kasus malaria dan 60 juta orang terinfeksi tuberculosis yang menyebabkan dua juta kematian setiap tahun. Pada 2020, hampir satu miliar orang terinfeksi dan 35 juta meninggal karena tuberculosis.

Prevalensi malaria tinggi dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen atau lebih per tahun. Ebola adalah penyakit ganas lain yang menyebabkan kematian pada 50-90% kasus (WHO, 2000).

Keamanan Manusia dan Pemberdayaan Perempuan

Menurut Habib Chirzin, permasalahan penting dalam konsep keamanan manusia adalah tentang keadilan gender serta perlindungan perempuan dan anak-anak, baik di masa konflik, pasca konflik, dan masa damai.

"Berakhirnya perang dingin memberi negara-negara ruang untuk merevisi kebutuhan keamanan dan ancaman yang mereka hadapi berlandaskan kepada Deklarasi universal hak asasi manusia dan Konvensi penghapusan semua bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW) pada 1979," kata Habib Chirzin.

Baca Juga: Juru Damai, Posisi Umat Islam di Tengah Konflik Rusia-Ukraina

CEDAW menuntut kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan publik dan politik, di hadapan hukum, pendidikan, pekerjaan, penyediaan perawatan kesehatan, pernikahan dan keluarga.

Hal ini secara eksplisit mendesak negara-negara untuk menekan eksploitasi perempuan dan perdagangan perempuan, serta memperbaiki situasi perempuan pedesaan sebagai kelompok yang sangat kurang beruntung.

"Agenda baru keamanan internasional memasukkan pertimbangan non-militer, dengan munculnya gender dalam laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) 1994," kata Habib Chirzin.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 13 April 2024
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:57
Ashar
15:14
Maghrib
17:56
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan