LANGIT7.ID, Jakarta - Alumnus Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), Ilham Ibrahim, menilai, santri dan pesantren memiliki tantangan tersendiri di era disrupsi saat ini.
Ilham mengatakan, tantangan pesantren dan santri saat ini adalah adanya dilematis penyemaian modernitas atau merawat nilai-nilai tradisional. Dia mencontohkan penggunaan alat-alat teknologi modern seperti gawai yang kebanyakan masih dilarang di pesantren.
“Ini ujian paling membingungkan bagi dunia pesantren pada abad ke-21. Banyak orangtua santri sebelum memasukkan anaknya ke pesantren biasanya nanya, ‘di sini boleh bawa
handphone apa tidak?’,” kata Ilham kepada Langit7.id, Sabtu (22/10/2022).
Penggunaan gawai atau
handphone bagi santri menimbulkan dilematis bagi pengasuh pesantren. Jika gawai dilegalkan di pesantren, kata dia, apa bedanya antara asrama dengan kost.
Baca Juga: Mengapa Santri Haram Membawa HP ke Pesantren? Ini Penjelasannya
Kalaupun penggunaan gawai dilarang, Ilham menyebut ada orang tua handphone untuk anaknya di pesantren. Tak hanya, banyak pula santri yang menyelundupkan gawai tanpa sepengetahuan orang tua dan pengasuh pondok.
“Para santri biasanya diam-diam memiliki
handphone. Sampai sekarang, persoalan
handphone di asrama ini belum menemukan solusi paling memuaskan bagi kedua belah pihak (santri dan pengelola pesantren),” ujar Ilham.
Di sisi lain, pesantren juga memiliki tantangan tersendiri di era disrupsi saat ini. Menurut dia, era disrupsi bagi santri memberi peluang dan tantangan. Banyak pesantren gulung tikar karena sosok Kiai kharismatiknya meninggal dunia.
Ada pula pesantren yang tutup karena kekurangan fasilitas. Seperti tidak mampu menyediakan laboratorium komputer dan perangkat teknologi digital modern untuk membantu santri dalam proses belajar.
Baca Juga: Yenny Wahid Dirikan Pesantren Programmer di Sleman, Yogyakarta
Pesantren yang piawai memanfaatkan teknologi digital, memiliki kemungkinan besar untuk berkembang. Meski itu masih memerlukan pembuktian beberapa tahun ke depan.
“Karenanya, sangat penting bagi saya memiliki
skill dalam bidang tulis menulis, sinematografi, fotografi, membuat video pendek,” ungkap Alumnus Ponpes Miftahul Ulum Muhammadiyah, Cibiuk Garut itu.
Menurut dia, konten-konten keagamaan di tangan seorang santri yang melek teknologi digital memiliki pengaruh luas di masyarakat, ketimbang ceramah dari mimbar ke mimbar.
Baca Juga: Pesantren Harus Melek Digital Atasi Otoritas Keilmuan yang Hilang di Medsos
Atas dasar itu, Ilham berpesan kepada seluruh santri di Indonesia untuk bersabar dan menyayangi diri sendiri. Santri perlu meluangkan waktu untuk mengucapkan terimakasih pada diri sendiri karena bisa bertahan di pesantren.
"Setiap malam sempatkan waktu buat ucapkan terimakasih pada tubuh kalian, kasih pujian terbaik untuk diri kalian karena telah berjuang bersama hingga bisa bertahan ditempa di pesantren. Jika telah berdamai dengan diri sendiri, insyaAllah segalanya tidak akan menjadi beban,” jelas Ilham.
(jqf)