LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Baitul Makmur dapat menjadi percontohan masjid berkelanjutan. Masjid di Telaga Sakinah Cikarang Barat, Bekasi ini termasuk yang sukses menerapkan konsep ramah lingkungan.
Ketua DKM Masjid Baitul Makmur, Muhammad Suhapli, berbagi kisah bagaimana mengelola masjid ramah lingkungan lewat Program Eco Masjid. Secara umun, masjid memanfaatkan benda bekas pakai untuk didaur ulang.
Misalnya,
masjid memanfaatkan air bekas wudhu untuk penghijauan dan budidaya ikan lele. Membuat sumur resapan /biopori, mading digital, dan penghematan energi listrik dengan lampu led, sensor otomatis, grouping, lampu penerangan jalan dengan sumber energi tenaga surya.
Baca juga: Unik, Begini Potret Masjid Kremlin ala YogyakartaMasjid menerapkan konsep 3R, yakni reduce, reuse, recycle) dan program Gerakan Sedekah Sampah untuk mengurangi polusi. Salah satu contoh dengan mengurangi sampah menggunakan mading informasi secara digital dan laporan digital untuk mengurangi penggunaan kertas.
“Dan setiap ada acara masjid kita menggunakan tempat minum atau tumblr untuk mengurangkan sampah plastik,” ujar Suhapli dalam “Webinar Pra konferensi Nasional Masjid Ramah Lingkungan dari Masjid Wujudkan Kehidupan Berkelanjutan, yang diadakan Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia atau (LPLH & SDA) MUI secara daring, baru-baru ini.
Tak hanya sukses menjadi masjid ramah lingkungan, Baitul Makmur juga memakmurkan masjid dengan beragam program pemberdayaan. Program dan kegiatan yang ada pengajian sore anak-anak kurang lebih 450 anak, minuman dingin gratis, sarapan pagi bareng, berbagai kajian rutin, majelis taklim ibu-ibu, baksos donor darah, halal center bm corner, tersedia wifi gratis, perpustakaan, dan lift untuk lansia disabilitas.
Baca juga: Tafakkur Alam Melalui Masjid Kubah 99 Asmaul Husna di MakassarAda pula atm beras, berbagi nasi boks dan aneka snack setiap Jumat Berkah, borong pedagang Jumat Berkah, cukur rambut gratis setiap hari Jumat (10 orang), service sepeda gratis Jumat Berkah, orang tua asuh (ota), santunan Rp250 ribu/bulan untuk sekolah 16 anak yatim/dhuafa, pernikahan gratis, bansos sembako/voucher belanja, pulsa gratis, dan vaksinasi massal.
Dia menyatakan,
kemakmuran masjid tidak diukur dari megahnya bangunan, luasnya tanah atau saldo kas yang ada, tapi kemakmuran suatu masjid diukur dari seberapa banyak orang yang hadir berjamaah saat sholat lima waktu, seberapa besar masjid memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya dan seberapa banyak masjid mengambil peran dan memberi solusi terhadap persoalan yang dihadapi umat atau jamaahnya.
(sof)