LANGIT7.ID - , Jakarta - Wisudawan doktor termuda
Institut Teknologi Bandung Moh. Mu'alliful Ilmi meyakini rasa keingintahuan atau
curiosity merupakan ruh
ilmu pengetahuan. Dalam menyelesaikan studi doktoralnya di Program Studi Kimia, di usia 26 tahun, Ilmi berpegang teguh pada prinsip tersebut.
Menurutnya rasa ingin tahu dan haus akan ilmu membuatnya terbuka dengan pengetahuan multidisiplin. Dia pun mengaku terus mengikuti dinamisasi
penelitian yang sejalan dengan topik penelitiannya.
Baca juga: Misteri Basmalah dalam Disertasi Doktoral Immanuel KantDi samping itu, pemaknaan akan hakikat ilmu pengetahuan juga merupakan esensi dari proses belajar.
Menurut Ilmi, yang berhasil mempublikasikan
paper reviewnya di
Journal Archaelogical and Anthropological Sciences ini, saat menjalani proses belajar perlahan akan menemukan relevansi ilmu dalam kehidupan.
“Jangan terlalu memikirkan belajar buat apa, kenapa sih kita belajar ini. Kita jalani dulu, nanti sambil berjalan kita akan menemukan sendiri kegunaan dari ilmu yang kita pelajari,” ungkap Ilmi seperti dikutip dari laman ITB, Jumat (28/10/2022).
Dia mengakui, selama menjalani studi doktoral dirinya dituntut membagi waktu antara akademik dan keluarga. Namun, ada tips yang membuatnya berhasil menyelesaikan studi tepat waktu.
Hal pertama adalah melakukan segala sesuatu dengan terarah. Kemudian selalu berprogres seiring waktu tidak masalah sekecil apa progres tersebut.
Tips ketiga, mengatur skala prioritas untuk
efisiensi waktu, tenaga, dan pikiran. Selanjutnya, fokus pada tujuan dan motivasi awal agar etos kerja tetap terjaga. Sedangkan langkah terakhir adalah mengenali cara belajar agar mempermudah penyerapan pengetahuan dan implementasinya.
Baca juga: Hebat, Muslimah Alumnus Unhas Raih Gelar Doktor di Irlandia pada Usia 25 TahunPrinsip dan tips tersebut dijalani Ilmi hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studi doktoral lebih cepat dan menjadi wisudawan S3 termuda Wisuda Pertama ITB Tahun Akademik 2022/2023.
Sebagai informasi, disertasi Ilmi berjudul "Aspek Kimia pada Diskolorasi Gambar Cadas Maros-Pangkep dan Lembata” berangkat dari hasil penelitiannya tentang aspek kimiawi yang berperan dalam perubahan warna pada lukisan prasejarah.
Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui komposisi pigmen warna yang digunakan dan menentukan strategi
konservasi untuk lukisan purba.
“Pembimbing ke-2 saya, Dr. Pindi Setiawan, M.Si., meninggal dunia satu bulan setelah ujian disertasi saya, dan itu menjadi pengalaman menyedihkan selama studi S3. Semoga saya dapat meneruskan cita-cita beliau untuk melanjutkan penelitian terkait lukisan prasejarah di Indonesia.”
Fokus penelitiannya tersebut juga berhasil mengantarkan Ilmi untuk menjadi pembicara pada European Synchrotron Radiation Facility (ESRF) di Grenoble tahun 2020 lalu. Dalam acara tersebut Ilmi mempresentasikan hasil penelitiannya terkait analisis sifat fisikokimia pigmen gambar cadas di Situs Karim, Sangkulirang, Kalimantan Timur.
Baca juga: Berkontribusi pada Perdamaian Dunia, Alumnus Gontor Raih Doktor Honoris CausaPerannya di ESRF 2020 membuahkan kerja sama sehingga ia diberikan kesempatan untuk mengirimkan sampel ke ESRF untuk dianalisis lebih lanjut. Hal ini tentu saja merupakan pengalaman yang sangat berharga mengingat ESRF merupakan fasilitas penelitian ternama di Eropa.
(est)