Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 13 April 2024
home edukasi & pesantren detail berita

Sumatera Thawalib Parabek, Pesantren Tertua di Sumatera Didik Banyak Tokoh Bangsa

Muhajirin Selasa, 15 November 2022 - 15:55 WIB
Sumatera Thawalib Parabek, Pesantren Tertua di Sumatera Didik Banyak Tokoh Bangsa
Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi (foto: istimewa)
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi merupakan salah satu pesantren tertua di Sumatera. Pesantren ini telah mendidik banyak tokoh bangsa, di antaranya Buya Hamka dan Wakil Presiden RI ke-3, Adam Malik.

Pesantren ini didirikan salah satu ulama pembaharu Sumatera bernama Syekh Ibrahim Musa Parabek pada 1910 M. Syekh Ibrahim Musa lahir di Desa Parabek, Banuhampu, Bukittinggi pada 12 Syawal 1301 H/15 Agustus 1884 M. Dia masuk ke dalam kategori ulama pembaharu, setelah tiga serangkai ulama pembaharu Minangkabau lain seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Abdullah Ahmad, dan Haji Rasul (Abdul Karim Amrullah).

“Pada 1910, Syekh Ibrahim Musa Parabek setelah menuntut ilmu di Mekkah pulang ke Tanah Air mendirikan madrasah. Madrasah itu sebelumnya hanya sebuah halaqah. Dari halaqah menjadi klasikal. Apa yang dilakukan oleh beliau merupakan ijtihad,” kata Ustadz Abdul Somad (UAS) saat mengisi kajian di Pesantren Parabek pada Jumat (5/11/2022).

Baca Juga: Soekarno Ternyata Seorang Santri, Belajar dari Minang hingga Cianjur

Syeikh Ibrahim Musa Parabek menuntut ilmu di Mekkah selama Sembilan tahun. Dia pulang ke Tanah Air pada 1910. Pada saat itu pula, dia membuka halaqah untuk mengajar masyarakat sekitar. Dia sempat kembali lagi ke Mekkah selama dua tahun dan kembali pada 1916.

Pada waktu itu, Syekh Ibrahim mengembangkan pengajian halaqah diberi nama Mudzakaratul Ikhwan. Melihat animo masyarakat, pada 1918, beliau mengubah Mudzakaratul Ikhwan (Jamiatul Ikhwan) menjadi Sumatera Thawalib.

Syekh Ibrahim memadukan metode pendidikan halaqah (sorogan dan bandongan) dengan sistem klasikal, yang kemudian hari dikenal sebagai madrasah. Pada 1939, pesantren ini memperluas sayap Pendidikan.

Syekh Ibrahim bersama sang menantu, H Bustami Abdul Ghani, membuka takhassus yakni masa pendidikan lanjutan selama 3 tahun setelah tamat 7 tahun. Namun, proses belajar-mengajar di pesantren ini sempat terganggu saat tentara DAI Nippon dan agresi Belanda.

Baca Juga: Buya Hamka Tak Hanya Ulama dan Sastrawan tapi juga Pejuang Kemerdekaan

Namun, setelah Indonesia merdeka, pesantren ini terus mengalami perkembangan. Pada 1949, kepengurusan Sumatera Thawalib dipercayakan kepada Abdul Muis St Batungkek Ameh (menantu Syekh Ibrahim). Sedangkan, Syekh Ibrahim lebih banyak mengajar di kelas tertinggi yakni kelas IV dan VII.

Pada 1958, pelajaran ditambah dengan mata pelajaran umum. Masa Pendidikan di Parabek 7 tahun yaitu 4 tahun (sampai kelas IV) dengan nama Sumatera Thawalib dan 3 tahun (dari kelas V-VII) dengan nama Kulliyatuddiniyah.

Setelah Syekh Ibrahim wafat pada 25 Juli 1963, pengelolaan Sumatera Thawalib Parabek dilanjutkan dengan mendirikan Yayasan Syekh Ibrahim Musa (YASIM) yang diketuai oleh H. Abdul Munir Dt.Palindih.

Sejak 1968, kepengurusan Sumatera Thawalib terus mengalami perubahan. Sejak Syekh Ibrahim wafat, kepengurusan dipercayakan kepada Abdul Muis St Batungkek Ameh yang menjadi Koordinator Sekolah, H Abdur Rahman menjadi kepala Madrasah tingkat Tsanawiyah, dan Mukhtar Said menjadi Kepala Kulliyatuddiniyah.

Baca Juga: 3 Cara Mendidik untuk Lahirkan Generasi Hamka Masa Kini

Sistem pembelajaran pun sedikit banyak mengalami perubahan, namun tidak meninggalkan warisan keilmuan dari Syekh Ibrahim. Misal pada 1 Juli 1979, Sumatera Thawalib Parabek menjadi 6 tahun yakni 3 tahun tingkat MTs dan 3 tahun tingkat MA. Itu berdasarkan musyawarah Yayasan Syekh Ibrahim Musa Parabek dengan alumni MST, Rektor IAIN, Kakanwil, dan para ulama.

Sistem madrasah ini sama sekali tidak mengurangi identitas Sumatera Thawalib Parabek. Kajian kitab kuning tetap dilakukan. Namun, pelajaran-pelajaran umum juga dimasukkan untuk memberikan keseimbangan pengetahuan kepada santri, seperti pembukaan jurusan IPA pertama pada 2012.

Selain itu, pada 2016, Ma’had Aly Sumatera Thawalib Parabek dibuka dan diresmikan berdasarkan SK Direktur Jenderal Pendidikan Islam Diniyah dan Pondok Pesantren Agama RI tentang pendirian unit Pendidikan setara perguruan tinggi ini. Ma'had Aly ini fokus pada program studi Fiqh dan Ushul Fiqh.

Baca Juga: KH Hasan Abdullah Sahal: Bangsa Indonesia Beruntung Ada Pesantren

Tahun ini, Thawalib Parabek kembali membuka unit Pendidikan baru yakni Pendidikan Diniyah Formal tingkat Ulya/sederajat Aliyah. Selain itu, pesantren ini juga kembali bekerjasama dengan Al-Azhar Mesir untuk mendatangkan syekh yang bermukim di lingkungan Parabek yakni Syekh Ali Abdurrabbuh.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 13 April 2024
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:57
Ashar
15:14
Maghrib
17:56
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan