alexametrics
Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 26 November 2022
home edukasi & pesantren detail berita

Kajian Ahad Pagi: Rumus Bangkit untuk Menjadi Pemenang

redaksi Ahad, 20 November 2022 - 07:05 WIB
Kajian Ahad Pagi: Rumus Bangkit untuk Menjadi Pemenang
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam kesempatan yang berbahagia di hari yang penuh berkah ini, saya ingin mengajak saudara sekalian untuk mengintrospeksi diri. Sekaligus merenung dan semoga terdorong untuk menyusun agenda aksi untuk melakukan berbagai hal konkret, agar umat Islam yang tengah terpuruk dan tertinggal ini dapat kembali bangkit menjadi pemenang dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Oleh KH. Bachtiar Nasir

Selepas runtuhnya khalifah Utsmaniyyah, umat Islam mengalami berbagai macam tekanan. Umat juga seakan belum mendapat momentum untuk kembali bangkit membela agamanya dan mendapat kejayaaan. Namun demikian, saya berharap kita akan selalu bangga terhadap agama ini, berusaha keras menjaganya, dan berupaya mendapat pertolongan Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana dalam surat An-Nashr ayat 1-3:

إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ
وَرَأَيْتَ ٱلنَّاسَ يَدْخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًۢا

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat."

Sejatinya, rumus untuk menang itu hanya satu yaitu jika Allah menolong kita. Jadi, yang harus digarisbawahi dan diusahakan sekeras mungkin disini adalah bagaimana supaya Allah berkenan menolong kita. Ini adalah hal yang harus kita upayakan dengan sungguh-sungguh. Islam itu mulia dan tinggi. Namun, Islam menjadi mulia dan ditinggikan itu tergantung pada umat dimana Islam itu berada. Apakah Muslim disana berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapat pertolongan Allah Ta’ala atau tidak.

Rumus mendapat pertolongan Allah juga sederhana, yaitu jika kamu menolong agama Allah maka Allah juga akan menolong kamu dan memenangkan kamu dan diteguhkannya kedudukanmu.

Baca Juga: Mengenal Tadabbur Al-Quran dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Surat Muhammad ayat 7:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Allah Al-Aziz juga akan lemahkan musuhmu. Allah Azza wa Jalla juga akan meneguhkan posisimu di mata semua manusia dengan segala kecukupan dan ketenangan. Tidak akan dikurangi apa pun yang telah engkau miliki dan Allah Rabbul Izzati akan penuhi apa pun yang masih kurang darimu.

Namun, jika engkau menjauh dari Allah Ta’ala dan tidak bertekad untuk menolong agama Allah dengan segala karunia yang engkau miliki saat ini, maka engkau akan merasa hampa. Tidak mendapat apa-apa dan hanya akan terus merasa kurang dan lelah. Padahal tidak ada pekerjaan besar apa pun yang engkau kerjakan. Inilah yang disebut dengan pecundang.

Para ulama terus berpikir keras apa yang menjadi penyebab kekalahan ummat Islam. Dulu, orang-orang Syam adalah orang-orang dengan kekayaan yang sangat banyak. Mereka yang selalu memberikan hartanya untuk kebangkitan Islam. Orang-orang Yaman adalah orang-orang yang besar badannya dan kuat-kuat. Merekalah yang selalu memasang badan untuk membela Islam. Semua negara itu sekarang hancur dan umat Islam tidak memiliki daya untuk membela agamanya dan saudaranya. Indonesia pun tak kurang terancam. Negara ini sekarang sedang ditarget untuk dihancurkan.

Penyebab semua ini adalah kurang teguhnya kita berpegang kepada tali Allah. Lemahnya janji kita kepada Allah Azza Wajalla. Banyaknya umat Islam hari ini yang menjual agamanya untuk kepentingan dunianya yang singkat dan sedikit.

Surat Ali Imran ayat 103:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."

Tali agama Allah itu ada tiga:

Pertama, janji kita kepada Allah. Kedua, agama Allah, dan ketiga Kitabullah.

Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa bangkit dan menang? Jawabannya: Kita harus bepergang kepada tali pertolongan Allah! Itu yang pertama. Tidak ada alternatif lain. Komitmenkan ulang janji kita kepada Allah Ta’ala. Jadilan perempuan dan laki-laki tangguh. Yang siap mengorbankan karunia Allah yang dimilikinya untuk kepentingan agama Allah. Jangan lemah, jangan minder, apalagi berputus asa. Dan, jangan malas! Mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Sesungguhnya perubahan besar itu terjadi dari langkah-langkah kecil yang kita mulai dari sekarang.

Jangan segan untuk berdoa dan jangan berputus asa manakala doa belum terjawab sesuai harapan. Jadilah seperti Nabi Zakaria yang tidak pernah ragu akan pertolongan Allah. Jangan lemah harapan ketika memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, walaupun dalam jangkauan nalar manusia, itu tidak mungkin.

Nabi Zakaria ketika itu memohon anak dari sisi Allah, bukan dari sisinya. Artinya Nabi Zakaria memohon pertolongan kepada Allah bukan karena adanya faktor “kemungkinan” yang dimilikinya dan tidak pernah ragu meminta dari Robbnya. Tidak pernah mengeluh dan tidak pernah kecewa pada Allah. Dikabulkan atau tidak, sesungguhnya tidak penting karena ketika berdoa sesungguhnya sudah disiapkan jawaban doa oleh Allah Ta'ala. Namun, jika berdoa saja sudah malas mana mungkin pertolongan itu datang.

Baca Juga: Mengenal Kitab Karya Ulama Nusantara yang Jadi Rujukan Internasional

Jadilah pribadi yang kuat dengan beristighfar memohon ampun berdoa kepada Allah atas dosa dan kelemahan kita. Juga jangan egois. Mohonkan ampun pula untuk saudara-saudara kita, kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Juga ingatlah kuat-kuat, bahwa Allah hanya akan menolong, kalau kita benar-benar bertekad menolong agama Allah. Dan, pertolongan Allah hanya akan turun kepada orang-orang yang berjamaah. Kuatkanlah ikatan persaudaraan bersama orang-orang beriman. Orang yang bersaudara j jangan pernah mengkhianati saudaranya. Jangan dengki, jangan dendam, dan jangan banyak perasangka kepada saudara kita. Persaudaraan inilah yang akan mendatangkan kekuatan dari Allah dan dengan jalan ini, kita kan dimenangkan oleh Allah.

Evaluasi diri; kadang kita tidak ingin memaafkan, tidak ingin bekorban demi kepentingan saudara seiman, malas silaturrahmi, dan lain sebagainya. Namun ingatlah, hanya orang-orang berimanlah yang mampu menengakkan agama Allah yang salah satu sayarat untuk mencapainya adalah dengan persaudaraan.

Nanti di hadapan Allah Ta’ala, kita kan ditanya. Kita hidup di zaman Islam terpuruk, dihina, dan lemah. Kita hidup di zaman Yahudi sedang kuat merajalela. Apa yang sudah kamu perbuat? Nanti kita akan ditanya malaikat, kenapa kamu mati dalam keadaan seperti ini, padahal Allah sudah memberikan segala yang terbaik sebagai modal kamu memenangkan agama Allah? Mengapa kamu tidak bergerak? Mengapa kamu diam?

Pimpinan AQL Islamic Center

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
right-1 (Desktop - langit7.id)
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 26 November 2022
Imsak
03:56
Shubuh
04:06
Dhuhur
11:43
Ashar
15:07
Maghrib
17:56
Isya
19:10
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan