LANGIT7.ID - , Jakarta -
Pakar Ekonomi sekaligus Rektor Universitas Widya Mataram, Prof Edy Suandi Hamid, menilai
ekonomi syariah atau ekonomi Islam menjadi salah satu tawaran alternatif dalam menghadapi krisis.
Dia mencontohkan saat terjadi krisis ekonomi 1998 dan pandemi Covid-19, lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia justru bertahan. Terutama sektor
perbankan syariah yang relatif tumbuh lebih baik daripada konvesional.
Baca juga: Ekonomi Syariah Jadi Tanda Al Quran Relevan Sepanjang Masa“Ini mungkin merupakan satu sinyal, bahwasanya
ekonomi Islam bisa bertahan pada segala situasi,” kata Edy webinar Ekonomi Islam di Akademi Hikmah Channel, dikutip Sabtu (19/11/2022).
Akan tetapi, Edy mencatat, mayoritas umat Islam belum menyadari keuntungan menerapkan sistem ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari. Ekonomi syariah memang terus mengalami perkembangan secara teoritik, namun implementasi di lapangan masih menemui banyak kendala.
Di sisi lain, banyak pula umat Islam yang tidak memahami definisi ekonomi syariah. Edy menyebut 20 persen penduduk dunia beragama Islam, namun angka itu hanya menghasilkan atau memproduksi 6,6 persen PDB dunia. Artinya, masih banyak orang Islam yang miskin.
“Jadi, ada ironi. Seharusnya, kalau ekonomi Islam sudah diterapkan, yang ini betul-betul di atas rata-rata kemakmurannya, bukan malah di bawah rata-rata,” kata Edy.
Hal tersebut disebabkan
umat Islam tidak memahami sistem ekonomi syariah. Banyak yang menganggap ekonomi syariah hanya sebatas sektor keuangan saja, seperti perbankan syariah dan
asuransi syariah.
Baca juga: Ma'ruf Amin Ungkap Empat Strategi Transformasi Ekonomi SyariahPadahal, ekonomi syariah meliputi banyak aspek, mulai dari kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi secara luas. Tiga hal itu terpetakan dalam sistem perekonomian Islam. Ekonomi syariah tidak boleh disempitkan hanya dalam persoalan keuangan saja.
“Kalau kita ingin mengimplementasikan ekonomi Islam dalam kehidupan sehari, maka di semua bidang kita praktikkan. Misalnya ekonomi Islam di bidang perdagangan. Perdagangan di Indonesia masih sangat kecil yang berbasis ekonomi syariah. Pariwisata juga, farmasi juga, fashion. Itu yang belum terjadi,” ujar Edy.
Maka itu, kata Edy, tantangan umat Islam saat ini adalah menerapkan nilai-nilai ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari. Islam harus diterapkan secara kaffah, termasuk dalam kegiatan produksi dan konsumsi.
“Itu harus berdasarkan Al-Qur’an dan hadits,” ujarnya.
Selain itu, Edy menyebut salah satu prinsip ekonomi syariah adalah efisiensi. Artinya, pengelolahan sumber daya ekonomi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Itu agar mencapai kebahagiaan hakiki. Tidak boleh mengelola dengan keborosan.
Dalam ekonomi Islam, Allah menyediakan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Itu berbanding terbalik dengan anggapan ekonomi konvensional yang menyebut sumber daya alam itu terbatas.
Baca juga: Banyak Santri Sukses, Diharapkan Jadi Penggerak Ekonomi Syariah“Tetapi, tidak cukup kalau mau memenuhi keserakahan manusia. Di situlah ada aspek-aspek yang yang mendorong produksi, tapi juga ada pengendalian, supaya manusia itu tidak serakah, tidak boros,” kata Edy.
Menurut Edy, menerapkan ekonomi syariah sebagain sistem perekonomian tunggal memang tidak mudah. Terlebih, dalam mengadapi ragam permasalahan, mayoritas masyarakat masih berkiblat pada ekonomi kapitalis. Meski ekonomi kapitalis sudah banyak melahirkan keluhan-keluhan dan kekecewaan terkait persoalan ketidakmerataan dan ketidakadilan.
“Dalam Islam, pemerataan dan keadilan adalah sesuatu yang prinsip, yang harus diterapkan. Jadi, tantangan kita untuk menerapkan ekonomi syariah masih cukup panjang. Kedua, harus kita mulai dari diri kita sendiri,” ucap Edy.
Baca juga: Wapres Ingin Ilmu Ekonomi Syariah Masuk Kurikulum Pesantren(est)