Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 24 April 2024
home lifestyle muslim detail berita

4 Tingkatan Rezeki dalam Islam, Harta Paling Akhir

Fifiyanti Abdurahman Sabtu, 03 Desember 2022 - 09:33 WIB
4 Tingkatan Rezeki dalam Islam, Harta Paling Akhir
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID - , Jakarta - Allah SWT sudah mengatur rezeki setiap hambaNya dan tidak akan tertukar. Meski demikian, manusia harus tetap berusaha untuk mendapatkannya.

Ahli ekonomi syariah Indonesia, Adiwarman Azwar Karim menjelaskan rezeki dalam Islam terbagi menjadi empat urutan, yaitu kesehatan, anak saleh, husnul khotimah, dan terakhir harta.

Baca juga: Jangan Takut Punya Banyak Anak, Ustaz Nashir: Rezeki Sudah Diatur


1. Kesehatan


Menurut Adiwarman, rezeki yang paling tinggi adalah kesehatan. Sekaya apapun Anda, pastinya hanya bisa membayar bayar dokter, rumah sakit dan lainya tetapi tidak dengan kesehatan.

"Jadi meskipun uang Anda banyak tetapi kalau nanti sakit itu tidak bisa bikin apa-apa," ujar Adiwarman dalam kajian bertajuk Ekonomi Islam Sebagai Solusi, dikutip dari YouTube Masjid Darussalam Kota Wisata, Sabtu (3/12/2022).


2. Anak yang saleh


Kemudian, alumni Institut Pertanian Bogor itu mengatakan rezeki yang berada di urutan kedua adalah anak yang saleh. Sebab ketika Anda meninggal, ia yang akan mengirimkan pahala.

"Aura-aura orang yang sudah meninggal dunia itu kalau malam dia keluar memungut-mungut doa, tetapi ada orang yang tidak ikut keluar untuk mungutin doa karena sudah dikirimkan oleh anaknya. Itulah kenapa dibilang rezeki yang paling utama adalah anak yang saleh, karena begitu kita meninggal dia terus mengirim pahala-pahala," katanya.

Baca juga: Ikhlas dengan Ketetapan Allah SWT, Ini Tanda Mendapatkan Ridho


3. Husnul khotimah


Lalu, rezeki yang paling patut untuk disyukuri adalah husnul khotimah. Anda mungkin menjadi orang baik seumur hidup tetapi ketika meninggal dalam keadaan suul khatimah maka neraka tempatnya.

"Kita kalau menjadi orang baik seumur-umur terus kalau meninggalnya suul khatimah, ya neraka. Disangka orang alim yang suka ceramah sudah pasti masuk surga, belum tentu. Sebab sebelum meninggal berarti perjalanan hidup itu belum finish," tutur Adiwarman yang juga alumni Universitas Indonesia itu.

4. Harta


Terakhir, Adiwarman berkata rezeki yang paling rendah itu adalah harta. Sebab lanjut Adiwarman, harta pada hakekatnya belum menjadi rezeki, ia baru berpotensi.

Baca juga: Ingin Menjemput Rezeki, Oki Setiana Dewi: Miliki Hubungan Baik dengan Allah SWT

Rasulullah Saw mengatakan rezeki itu jika Anda melakukan tiga hal, pertama harta dijual lalu uangnya dikenakan untuk membeli makanan dan makanan itu masuk ke dalam tubuh serta keluar sebagai kotoran.

"Itu baru menjadi rezeki, kalau cuma duit-duit doang itu belum menjadi rezeki, itu baru menjadi potensi rezeki," imbuhnya.

Kedua, apabila uang yang ada Anda belanjakan sesuatu seperti baju, celana, handphone, jam tangan, mobil, rumah, dan lainnya, yang kemudian menjadi usang. Ketiga, apabila harta tersebut Anda sedekahkan. Dan inilah yang akan kekal dalam kehidupan umat muslim nanti di akhirat

"Itu disebabkan dalam ilmu tasawuf disebutkan rezeki rendah itu adalah harta. Rasulullah Saw dalam Shahih Bukhari juga mengatakan sungguh orang yang kaya itu bukanlah orang yang banyak hartanya, tetapi orang yang kaya itu adalah orang yang kaya jiwanya," cetus pria kelahiran 29 Juni 1963 itu.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 24 April 2024
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan