Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home masjid detail berita

Masjid Agung Banten: Persilangan Arsitektur Jawa, China, dan Belanda

Muhajirin Sabtu, 16 April 2022 - 03:40 WIB
Masjid Agung Banten: Persilangan Arsitektur Jawa, China, dan Belanda
Masjid Agung Banten. Foto: Dok. Simas Kemenag
LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Agung Banten merupakan bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Banten yang kini menjadi destinasi para wisatawan. Masjid legendaris itu dirancang oleh tiga arsitek yakni Raden Sepat dari Majapahit, Tjek Ban Tjut dari China, serta Hendrik Lucaz Cardeel dari Belanda. Ban Tjut diberi gelar Pangeran Adiguna, sementara Cardeel mendapat sebutan Pangeran Wiraguna dari Kesultanan Banten.

Masjid ini berada di wilayah Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Bangunan masjid itu berbatasan dengan perkampungan di sebelah utara, barat, dan selatan, alun-alun di sebelah timur, dan benteng keraton di tengah.

Para wisatawan bisa dengan mudah mengakses lokasi bangunan yang sarat nilai sejarah tersebut. Akses ke lokasi bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Dari Terminal Pakupatan, Serang wisatawan bisa menggunakan bis jurusan Banten Lama atau menyewa mobil angkutan umum menuju lokasi. Perjalanan bisa ditempuh kurang lebih setengah jam.

Masjid yang bergaya gaya arsitektur China, Hindu, Eropa, dan Jawa itu berdiri megah di atas tanah 1,3 hektar dan dikelilingi tembok dengan ketinggian satu meter. Menara masjid itu juga cukup unik, karena mirip dengan mercusuar dan terletak di sebelah timur masjid.

Mengutip laman resmi Pemprov Banten, salah satu khas masjid itu adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Saat memasuki kawasan kompleks masjid, wisatawan bisa berziarah ke makam sultan-sultan Banten serta keluarganya. Di antaranya makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Di sisi selatan bangunan inti masjid terdapat paviliun tambahan. Paviliun dua lantai itu bernama Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno, bangunan itu dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel.

Sejarah Pembangunan Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten: Persilangan Arsitektur Jawa, China, dan Belanda
Masjid Agung Banten berpengaruh terhadap perkembangan agama Islam di Banten. Arstiktur bangunan dirancang oleh arsitek asal Tionghoa dan Belanda. Pembangunan masjid dimulai pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570 Masehi).

Sultan Maulana Hasanuddin merupakan raja pertama Kesultanan Banten. Ia adalah putra Sunan Gunung Jati, penguasa Cirebon sekaligus ulama Wali Songo yang merintis dakwah agama Islam di Jawa, termasuk Banten. Setelah Sultan Maulana Hasanuddin wafat, pembangunan dilanjutkan oleh Sultan Maulana Yusuf (1570-1580).

Arsitektur Bangunan

Mengutip laman Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama RI, kompleks masjid seluas 1,3 ha dikelilingi pagar tembok setinggi satu meter. Pada sisi tembok terdapat dua buah gapura di bagian utara dan selatan yang letaknya sejajar. Bangunan masjid menghadap ke timur ditopang fondasi masif dengan tinggi satu meter dari halaman.

Ruang utama berbentuk empat persegi panjang berukuran 25x19 meter. Lantai terbuat dari ubin berukuran 30x30 cm berwarna hijau muda dan dibatasi dinding pada empat sisinya.

Kemudian, dinding timur menjadi pemisah ruang utama dengan serambi timur. Ada empat pintu utama (dengan lubang angin) di dinding timur. Pintu ditempatkan dalam bidang segi empat pada dinding berukuran 174x98 cm dengan dua daun pintu dari kayu. Di atas pintu berbentuk lengkung setengah lingkaran, ada dua buah lubang angin pada dinding timur yang mengapit pintu.

Pintu paling selatan berbentuk persegi panjang dan terdapat hiasan motif kertas tempel. Dinding barat berhias pelipis rata, penyangga, setengah Iingkaran dan pelipit cekung. Dinding sisi utara membatasi ruang utama dengan serambi utama dengan sebuah pintu masuk berbentuk empat persegi panjang ukuran 240x125 cm, berdaun pintu dua buah dari kayu.

Jendela pada dinding utara dua buah dengan dua daun jendela berbentuk segi empat berukuran 180x152 cm. Dinding selatan cuma mempunyai satu pintu. Pintu itu menghubungkan ruang utama dengan bangunan Pawestren di dekat sudut barat dinding.

Menara Masjid
Masjid Agung Banten: Persilangan Arsitektur Jawa, China, dan Belanda
Di masjid tersebut terdapat menara dengan tinggi 23 meter. Menara yang dibangun pada abad ke-18 M itu memiliki 82 buah anak tangga untuk sampai ke atas. Di dalam menara, terdapat empat pintu berbentuk sama dengan pintu masuk menara.

Menara itu diperkaya dengan tiga bangunan yaitu kaki, tubuh, dan kepala. Kolam berada di serambi timur berbentuk persegi panjang yang terbagi menjadi empat bagian kolam koak. Kolam berukuran 28,10x3,10m dan memiliki kedalaman antara 75-100 cm.

Di sekeliling kolam terdapat tembok setinggi 1,29 m dan tebal 32 cm. Kolam-kolam tersebut dipisahkan oleh pematang tembok dan dihubungkan dengan lubang pada masing-masing pematang. Arsitek menyediakan tangga turun dengan tiga buah anak tangga dari arah halaman dan lima anak tangga dari serambi timur yang digunakan ke kolam.

Pawestren
Masjid Agung Banten: Persilangan Arsitektur Jawa, China, dan Belanda
Mengutip laman Warisan Budaya Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdibud) RI, Masjid Agung Banten memiliki bangunan pawestren yang terletak berdampingan dengan ruang utama. Pawestren adalah ruangan yang menempel pada dinding sebelah masjid dan merupakan tempat salat bagi kaum wanita.

Di dinding selatan, terdapat pintu yang menghubungkan pawestren dengan serambi pemakaman selatan. Bangunan itu dilengkapi dengan lubang angin berbentuk segi tiga dan hanya sebagian terbuka karena tertutup atap makam selatan. Di sebelah barat dinding pawestren hanya terdapat lubang angin dengan bentuk kumpulan segi tiga dengan bunga di antaranya.

Tiyamah
Masjid Agung Banten: Persilangan Arsitektur Jawa, China, dan Belanda
Kemegahan Masjid Agung Banten diperkaya dengan bangunan tambahan bernama Tiyamah. Bangunan itu terletak di sebelah selatan masjid. Bangunan itu bergaya arsitektur Belanda kuno yang dibangun oarsitek Belanda, Hendrick Lucas Cardeel. Hendrick Lucas Cardeel masuk Islam dan diberi gelar Pangeran Wiraguna oleh Sultan Banten.

Diperkaya dengan Sentuhan Arstiktur Modern

Masjid Agung Banten direnovasi untuk menarik minat generasi milenial untuk beribadah sekaligus mempelajari situs bersejarah. Bangunan yang memadukan gaya arsitek Jawa, Tiongko, dan Belanda itu kian menarik dengan adanya payung-payung besar yang mirip di Masjid Nabawi Mekah. Ada pula deretan taman hijau yang bikin suasana sekitar makin teduh.

Lantai masjid juga sudah dilapisi marmer mewah dan rapi. Saat berada di aera depan masjid, wisatawan hanya akan melihat hamparan putih bersih.

(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)