LANGIT7.ID, Jakarta - Sebelum sistem pendidikan modern berupa sekolah dikenalkan oleh penjajah Belanda, Indonesia sudah memiliki sistem pendidikan sendiri berupa
pesantren.
Menurut Sejarawan Mun'im Sorry menyebut pesantren memiliki corak yang berbeda dengan sistem sekolah ala Belanda. Baik dari segi kurikulum, sistem pembelajaran hingga mata pelajaran yang diajarkan.
Kemudian muncul sistem madrasah yang jadi antitesis sekolah ala penjajah. Di era kemerdekaan pesantren dan madrasah responsif dengan tantangan zaman. Maka tak heran jika saat ini madrasah dan pesantren menggabungkan pendidikan agama dan pendidikan umum.
Sekolah dan MadrasahJumlah sekolah di Indonesia merupakan yang terbesar ketiga di Asia setelah China dan India. Mun’im menjelaskan, Indonesia memiliki sekira 60 juta siswa di Indonesia, sekitar 4 juta guru, dan lebih dari 300 institusi pendidikan.
“Ini memperlihatkan betapa luasnya cakupan pendidikan di Indonesia. Karena itu tidak heran kalau pendidikan di Indonesia dinaungi oleh dua lembaga yakni Kemendikbud-Ristek dan Kemenag,” kata Mun’im dalam webinar Pendidikan Agama Islam: Tantangan dan Respon Pendidikan Islam di Era Society 5.0, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Pesantren Lembaga Pendidikan Terunggul Sebelum Belanda Jajah Indonesia
Hal itu menyebabkan Indonesia memiliki dualisme sistem pendidikan. Kemenag meliputi 16% lembaga pendidikan dan Kemendikbud-Ristek sebesar 84%. Sistem pendidikan di bawah naungan Kemendikbud-Ristek bisa berkaca pada sejarah.
Pada saat berada di bawah penjajahan, Belanda memperkenalkan sistem pendidikan sekuler (sekolah). Sebagai respon terhadap pendidikan Belanda yang sekuler, umat muslim di Indonesia memperkenalkan sistem pendidikan madrasah.
“Sistem pendidikan madrasah dikenal di Indonesia sejak awal abad ke-20,” kata Mun’im.
Doktor Studi Islam dari University of Chicago Divinity School, Amerika Serikat itu menjelaskan, madrasah akhirnya menjadi antitesis dari pendidikan sekuler yang dikembangkan oleh Belanda.
“Maka itu kita bisa mengerti kenapa Indonesia saat ini memiliki dualisme pendidikan,” ujar Mun’im.
Baca Juga: Kerajaan Dikooptasi Belanda, Pesantren Jadi Basis Massa Melawan Penjajah
Meski pada awalnya pendidikan madrasah fokus pada materi-materi agama, tetapi dalam perkembangannya juga mengakomodasi pendidikan umum. Pendidikan umum dimasukkan ke dalam kurikulum madrasah pada saat Kementerian Agama dipimpin Prof. Abdul Mukti Ali pada 1971.
“Jadi, ketika Kemenag di bawah pimpin Mukti Ali ketika diperkenalkan apa yang disebut Direktorat Madrasah yang diperkenalkan pada 1971. Sistem pendidikan dualisme terjadi di semua jenjang pendidikan, dari sejak SD sampai perguruan tinggi,” ujar Mun’im.
Pesantren dan MadrasahSistem Madrasah di Indonesia cukup muda dibanding pendidikan madrasah di berbagai dunia Islam. meski begitu, Indonesia sebenarnya memiliki lembaga pendidikan Pesantren yang paling tua.
Bahkan, kata Mun’im, menurut beberapa sarjana pesantren (langgar, surau) sudah muncul sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sistem pendidikan langgar (pesantren) lalu diakomodasi ketika Islam berkembang di Indonesia.
Ada tiga perbedaan mendasar antara pesantren dan madrasah. Pertama, kelas. Pesantren lama tidak mengenal sistem kelas, berbeda dengan madrasah. Madrasah menggunakan sistem kelas di semua jenjang.
Baca Juga: Pesantren Jamsaren, Berawal dari Surau Kecil Berperan Besar Melawan Penjajah
Kedua, kurikulum. Madrasah memiliki kurikulum yang tetap. Sementara, pesantren kuno atau tradisional tidak memiliki kurikulum yang tetap.
Ketiga, mata pelajaran. Madrasah mengakomodasi pendidikan agama dan pendidikan umum. Sementara, pesantren tradisional semata-mata memfokuskan pada pendidikan agama.
“Sebagaimana madrasah di awal, pesantren juga sebagai antithesis dari lembaga sekolah yang diperkenalkan oleh Belanda. Maka itu, jika merefleksikan lembaga pendidikan pesantren itu sepenuhnya berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan umum,” kata Mun’im.
Lembaga pendidikan Belanda fokus pada pendidikan umum, maka Pesantren fokus pada ilmu agama. Kalau siswa di sekolah Belanda menggunakan dasi, maka para santri menggunakan topi atau kopiah. Sekolah umum memakai celana, maka santri di pesantren biasanya memakai sarung. Kalau sekolah umum ada di kota, maka biasanya pesantren ada di pedesaan.
Baca Juga: Ekopesantren, Langkah Nyata Pesantren Selamatkan Lingkungan
“Jadi, dari awal pesantren atau pendidikan Islam muncul sebagai antitesis terhadap pendidikan model Belanda,” ucap Mun’im.
Pendidikan Islam Responsif Terhadap Tantangan ZamanMun’im mencatat hal menarik dalam perkembangan sistem pendidikan Islam di Indonesia. Pendidikan Islam sangat bersifat responsif. Pendidikan Islam, madrasah dan pesantren, sangat adaptif dalam merespons tuntutan zaman.
“Hampir semua pesantren sekarang sudah mengadopsi sistem kelas, memiliki kurikulum yang tetap, dan mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum. Kemenag saat ini juga sudah memiliki Direktorat Pesantren yang dibentuk pada 2001,” ujar Mun’im.
(jqf)