LANGIT7.ID - , Jakarta -
Kekerasan yang dialami guru dan tenaga
pendidikan oleh siswa atau sebaliknya membuka mata banyak pihak. Aktivitas Pendidikan sekaligus Direktur Yayasan Guru Belajar,
Bukik Setiawan mengatakan kasus murid melakukan kekerasan terhadap guru memperjelas bahwa selama ini ruang-ruang kelas di Indonesia penuh dengan kekerasan baik secara verbal, fisik, maupun psikologis.
Menurut dia, ada faktor-faktor pendorong hingga seorang murid sampai melakukan kekerasan.
"Seperti kita ketahui seorang murid dengan power yang lebih lemah tetapi kalau sampai melakukan kekerasan kepada guru pasti ada suatu faktor-faktor pendorong dimana membuat situasi-situasi yang tidak kondusif, tidak sportif sehingga memicu mereka untuk melakukan kekerasan," ujar Bukik kepada Langit7 di Jakarta, Kamis (22/12/2022).
Baca juga: Ustadz Fahmi Salim: Masjid Sebaiknya Dikelola DKM Berpendidikan"Ini juga memperkuat simulasi riset di Indonesia bahwa tingkat kekerasan di sekolah kita masih tinggi termasuk
bully segala macam," lanjut dia.
Penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong itu lantas menjelaskan penyebab terjadinya kekerasan terhadap guru yang dilakukan oleh murid.
"Penyebab terjadinya kekerasan pada guru karena ruang kelas kita cenderung tidak dikelola dengan baik. Ruang kelas kita itu kayak hutan rimba, siapa yang kuat maka dia yang berkuasa," katanya.
Padahal, seharusnya ketika berbicara tentang pendidikan, ruang kelas harus dikelola secara demokratis. Guru dan murid harus bersepakat terkait kelas yang diikuti dan direfleksikan secara berkala sebagai acuan perilaku atau tindakan yang mendukung pelajaran.
Baca juga: Pendidikan Islam Harus Mampu Jawab Tantangan Era Industri 4.0 dan Society 5.0Bukik menuturkan, sejauh pengalaman dan pengamatannya serta terbukti pada hasil raport pendidikan, sistem kesepakatan kelas atau dikelola secara demokratis di Indonesia masih dalam kategori jarang yakni di bawah 20 persen. Artinya, selebihnya tidak dikelola sehingga menjadi seperti hutan rimba.
"Kebetulan saja sekarang kasusnya adalah murid yang terasa memiliki power sehingga mereka yang melakukan kekerasan, tetapi di kasus yang lain bisa jadi pihak sebaliknya yang melakukan kekerasan," cetus Bukik
(est)