LANGIT7.ID, Jakarta - Ketika Allah Ta'ala menghendaki adanya hari akhir, maka umat manusia dalam keadaan kebingungan yang luar biasa atas terbelahnya bumi menjadi potongan-potongan lain.
Hal tersebut sebagaimana Allah Ta'ala jelasan dalam Al-Qur'an Surat Al Hajj Ayat 1-2:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ . يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ
Artinya: "Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.
Dalam kajian tafsir Ibnu Katsir, Ketua Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), KH Zae Nandang menjelaskan di saat manusia melihat ke langit di hari kiamat, maka langit itu bagaikan bergolak mendidih, kemudian matahari dan bulannya ditutup.
"Dan berjatuhan menyebar bintang-bintang kemudian dilepas dari mereka, sebagaimana sabda Rasul bahwa yang mati, mereka tidak mengetahui sesuatu dari demikian itu," kata Kiai Zae Nandang dalam kajian tafsir yang diikuti
Langit7, Selasa (3/1/2023).
Baca Juga: Tafsir Surat Al Hajj Ayat 2: Tidak Ada Keraguan dalam Al-QuranMenurut dia, dalam kondisi tersebut maka terkejutlah semua yang ada di langit dan bumi kecuali yang Allah Ta'ala kehendaki sebagaimana dalam Surat An Naml Ayat 87:
وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَفَزِعَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَكُلٌّ اَتَوْهُ دٰخِرِيْنَ
Artinya: "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri".
"Pertama, mereka adalah para syuhada yang syahid menegakan agama Allah. Tentu ada tahapan-tahapan syahid dan yang tertinggi adalah mereka yang terbunuh di medan perang, untuk menegakan kalimat Allah," ujarnya.
Lebih lanjut, Kiai Zae Nandang menyebut yang kedua adalah wanita yang melahirkan lalu mati, jika dia seorang mukminah, maka wanita itu mati dalam keadaan syahid di bawah para syuhada. "Ketiga, mereka yang membela hartanya, lalu mati oleh perampok. Maka dinyatakan syahid dibawah yang paling tinggi tadi dan lainnya," ujarnya.
Dari beberapa tahapan ini yang paling tinggi adalah mereka para syuhada yang gugur di medan perang, karena membela agama Allah Ta'ala. Kendati demikian, Kiai Zae Nandang juga menyampaikan tidak semua syuhada mati di medan perang, lalu Rasul menyatakan dia di neraka.
"Kenapa, ternyata berangkat ke medan perang bukan untuk menegakan kalimah Allah dan tidak disertai keikhlasan. Jadi tidak semua yang gugur di medan perang itu syahid," tuturnya.
Baca Juga: KH Zae Nandang: Kecenderungan Berbuat Maksiat Tanda Iman Lemah(zhd)