Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 21 Februari 2024
home wisata halal detail berita

Grebeg Sudiroprajan, Simbol Kerukunan Etnis Tionghoa dan Jawa di Solo

arif purniawan Selasa, 24 Januari 2023 - 04:00 WIB
Grebeg Sudiroprajan, Simbol Kerukunan Etnis Tionghoa dan Jawa di Solo
Rangkaian karnaval Grebeg Sudiro. (Foto : Instagram/@grebegsudiro)
LANGIT7.ID, Solo - Kegiatan Grebeg Sudiroprajan 2023 di kawasan Pasar Gede, Solo, berlangsung semarak. Gemerlap lampion merah dan kuning tergantung di atas jalan kawasan Pasar Gede di ruas Jalan Urip Sumoharjo hingga depan Balai Kota Solo di Jalan Jenderal Sudirman.

Grebeg Sudiroprajan, atau Grebeg Sudiro menjadi salah satu rangkaian setiap Perayaan Imlek di Solo. Jembatan Kali Pepe yang berada tak jauh dari Tugu Jam Pasar Gede, dihiasi gemerlap ratusan lampion kuning dan merah yang sangat indah di malam hari.

Setiap perhelatan Grebeg Sudiro, Kali Pepe yang biasa digunakan sebagai wahana perahu sungai. Kemilau puluhan lampion menyinari air kali, dimanfaatkan anak-anak muda untuk ber-swafoto berlomba meng-upload di akun sosial media masing-masing.
Dalam tradisi Jawa, grebeg bermakna perayaan rutin dan ucapan syukur dalam memperingati suatu peristiwa penting.

Baca juga: Jokowi Ajak Warga Sulawesi Tenggara Jaga Kebersihan Kawasan Pantai Malalayang

Dalam setiap penyelenggaraan grebeg, sebagai salah satu penanda khasnya adalah munculnya gunungan atau tumpeng yang biasanya berisi hasil bumi dan jajanan lokal.

Sementara, Sudiro merupakan nama yang diambil dari sebuah kampung bernama Kampung Sudiroprajan yang berada di sekitar kawasan Pasar Gede. Grebeg Sudiro adalah perayaan grebeg yang menjadi penanda akulturasi etnis Jawa dan Tionghoa di Kampung Sudiroprajan itu sendiri.

Awalnya, Tradisi Grebeg Sudiro untuk memperingati ulang tahun Pasar Gede Hardjonagoro setiap tanggal 12 Januari. Namun sejak 3 Februari 2008, perayaan Grebeg Sudiro melibatkan warga etnis Tionghoa dan etnis Jawa yang tinggal di kawasan Kampung Sudiroprajan.

Lantaran memiliki semangat mengusung kebhinnekaan dan keberagaman, maka Pemerintah Kota Solo sangat mendukung menjadi perayaan rutin tahunan sejak 2010.

Dikutip dari laman Pemkot Surakarta, Grebeg Sudiro sendiri memiliki dua kegiatan pokok yaitu sedekah bumi dan kirab budaya. Sedekah bumi merupakan bentuk rasa syukur para pedagang di Pasar Gede dan masyarakat sekitar dan Kirab Budaya dimaknai sebagai kerukunan dua etnis yaitu Tionghoa dan Jawa, serta etnis lainnya yang tinggal di Solo.

Adapun yang ditampilkan dalam kirab budaya seperti tarian khas Jawa serta perform Liong dan Barongsai. Sebagai informasi, Kelurahan Sudiroprajan merupakan wilayah perkampungan yang masuk dalam Kecamatan Jebres, Solo. Kampung ini akrab disebut Kampung Pecinan, sebab banyaknya etnis Tionghoa bermukim di sana. Kelurahan Sudiroprajan wilayahnya mencakup Kampung Kepanjen, Balong, Mijen, Ngampil, Samaan, Ketandan, Limolasan, dan Balong Lengkong.

Baca juga: Negara-Negara Muslim Jadi Tempat Paling Aman di Dunia

Kampung-kampung yang tersebar di kawasan Sudiroprajan, konon sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat. Maka tak heran, pengaruh Jawa dan Tionghoa sudah sangat melebur dan bersatu secara rukun tanpa ada gejolak.

Di kawasan itu juga berdiri beberapa situs tua seperti Kelenteng Tien Kok Sie yang diklaim salah satu kelenteng tertua di Indonesia dan menjadi cagar budaya yang harus dilindungi. Situs lain di Kampung Sudiroprajan adalah keberadaan Prasasti Bok Teko yang masih bisa ditemui keberadaannya di Kampung Balong, yang konon kawasan warga etnis Tionghoa tertua di Indonesia.
Begitu indah perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa hidup rukun di kawasan Kampung Sudiroprajan.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 21 Februari 2024
Imsak
04:32
Shubuh
04:42
Dhuhur
12:10
Ashar
15:19
Maghrib
18:18
Isya
19:27
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan