LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim, mengatakan, menilai momentum peringatan Isra Mi’raj harus menjadi upaya membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam. Peradaban Islam pernah berjaya selama 800 tahun.
“Pemantik lahirnya peradaban emas umat Islam, salah satunya adalah keterbukaan dan interaksi dengan karya-karya filsafat dari Yunani dan Persia,” kata Saad dalam kajian PP Muhammadiyah bertema Reaktualisasi
Isra Mi’raj dalam Membangun Peradaban Utama, Sabtu (18/2/2023).
Pada masa itu, Islam tampil unggul dalam penguasaan sains, ilmu pengetahuan, filsafat, dan teknologi saat Barat masih berada dalam masa kegelapan. Kejayaan itu lahir karena pemahaman umat Islam terhadap perintah Iqra’ dalam Surah Al Alaq ayat pertama.
Baca Juga: Bisakah Peristiwa Isra Miraj Dipahami dengan Perspektif Sains?Selain itu, usaha membangun peradaban umat Islam tersebut dipandu oleh akidah tauhid, Al Qur’an, dan sunah. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan diperkaya oleh tuntunan wahyu dan akidah tauhid, sehingga membawa sifat peradaban yang
rahmatan lil-alamin.
Urutan struktur pemahaman wujud (
ontology) Yunani yang terdiri dari alam semesta, dewa, manusia, dan materi digantikan oleh struktur ontologis Islam. Ontologis Islam itu terdiri dari Tuhan (wahyu), manusia, amal shalih, dan alam semesta.
“Apa yang ditawarkan dunia Yunani kita ambil, selektif dihubungkan dengan perintah
Alla dati iqra’ bismi-rabbikalladzi khalaqa (Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pencipta),” kata Saad.
Baca Juga: Isra dan Miraj 2 Peristiwa Berbeda, Ini Penjelasannya Menurut Al-QuranPada masa kejayaan peradaban Islam, wahyu menempati urutan pertama dari struktur ontologis. Setelah itu baru akal, empirisme, dan intuisi. Meski ada perbedaan urutan antara Ibn Taimiyah dan Imam Al-Ghazali antara unsur itu, tapi keduanya sepakat bahwa wahyu berada di urutan pertama.
Kejayaan peradaban Islam mulai bergeser setelah perang salib. Barat yang berhasil mengusir dominasi otoritarianisme kelompok agama (gereja) pada masa pencerahan, mulai melancarkan sekularisasi.
Sejak saat itu pula, Barat mulai menggali karya-karya sains dan filsafat Yunani dan Islam, yang ternyata perkembangan keilmuan itu justru bertentangan dengan otoritas agama setempat.
Baca Juga: Isi Sidratul Muntaha di Langit 7 Sebagaimana Disaksikan RasulullahPada akhirnya, Barat mulai memakai paradigma struktur ontologis utama pada rasio dan pembuktian empiric lewat pemantik dari Immunuel Kant dan Rene Descartes. Adapun unsur wahyu dan intuisi mulai dibuang.
Saad mengatakan, dari konteks sekularisasi ini muncul istilah populer dari Nietschze, “Tuhan telah mati” dan ungkapan Karl Marx, “Agama adalah candu”. Saat Barat sudah mengingkari keberadaan Tuhan, maka lahirlah filsafat eksitensialisme.
Uniknya, posisi manusia yang berada di posisi kedua dalam peradaban Islam dan posisi ketiga di peradaban Yunani justru ditempatkan pada posisi pertama. Itu kiblat dari sekularisme. Sejak revolusi Industri 1.0 sampai 4.0, sekularisme bahkan telah meracuni pandangan alam (
worldview) umat manusia.
Baca Juga: Menag: Isra Mi'raj Tonggak Lahirnya Ibadah Salat Lima Waktu“Manusia ada di
first structure. Tapi, semenjak revolusi industri 1.0, eksistensi manusia semakin hari semakin hilang, yang terwujud adalah karya manusia berupa teknologi handphone, kita hilang,” ujar Saad.
Saat menegaskan, tantangan sekularisme yang semakin membuat manusia jauh dari Tuhan ini yang digarap serius oleh PP Muhammadiyah lewat berbagai kegiatan dakwah di bidang riil seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial-kemasyarakatan.
“Nah ini sekali lagi peradaban (sekuler) yang akan menghancurkan peradaban umat manusia. Walaupun berbasis pada sains dan teknologi, maka kita bertugas menjaga, mewujudkan peradaban itu dengan mengembalikan posisi Allah di posisi (struktur ontologis) yang tertinggi itu,” ujar Saad.
Baca Juga: Isra Miraj adalah Fondasi KebangkitanMuhammadiyah juga harus berusaha mengembalikan kejayaan Islam yang pernah berjaya selama delapan abad. Peradaban yang dibangun melalui pemaknaan Islam sebagai agama peradaban sesuai Quran Surat Al-Alaq ayat pertama.
“
Golden age yang 800 tahun itu sudah tidak ada, maka kita perlu membangun
the second golden age of Islamic history dan Muhammadiyah tentu saja dengan pendidikan-pendidikannya itu bagian dari membangun
the second age of golden Islamic history,” ungkap Saad.
(jqf)