LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim, mengatakan, secanggih apapun teknologi manusia, tidak akan bisa melampaui kecanggihan
Isra dan Mi’raj. Peristiwa isra dan mi’raj tidak bisa dinalar oleh logika manusia, bahkan tidak bisa dijangkau dengan teknologi apapun sampai hari ini. Hal itulah yang membuat isra dan mi’raj menjadi ujian keimanan umat Islam.
Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi sahabat yang memiliki keimanan paling teguh dalam persoalan tersebut. Saat diberitahu oleh Rasulullah, dia langsung percaya tanpa ragu sedikitpun.
Baca Juga: Refleksi Isra Miraj, Kejayaan Peradaban Islam Harus DikembalikanIsra berarti peristiwa Rasulullah SAW diperjalankan sejauh 1.239 km dari Mekkah ke Masjid Al-Aqsa di Madinah. Sementara, mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW melewati langit ketujuh dan Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah. Peristiwa itu hanya terjadi dalam semalam.
Selama 14 abad setelah peristiwa itu, masih banyak manusia yang mempertanyakan kebenaran ajaran Islam melalui peristiwa isra dan mi’raj. Mereka umumnya meminta bukti logis berdasarkan pada nalar empiris.
Saat menegaskan, isra mi’raj merupakan ujian keimanan yang bersifat mustahil dan tidak akan mampu diverifikasi secara empirik, meskipun manusia telah menguasai teknologi antariksa secanggih sekarang.
Baca Juga:
Rumah Sahabat Ini Jadi Tempat Rasulullah Berangkat saat IsraPada masa kini, peristiwa isra mungkin bisa dipahami melalui teknologi pesawat terbang, tetapi peristiwa mi'raj mustahil untuk diverifikasi sains sampai kapanpun.
“Apalagi sampai ke langit ke tujuh, karena lebih luas dari as-samawat wal ardh (langit dan bumi). Kalau as sama’ (langit) saja, dunia ini 10 persennya saja ada 300 milyar galaksi, yang 90 persen tersedot masuk
black hole (lubang hitam),” kata Saad dalam kajian PP Muhammadiyah bertema
Reaktualisasi Isra Mi’raj dalam Membangun peradaban Utama, Sabtu (18/2/2023).
Jika dibandingkan dengan peristiwa mi’raj, teknologi canggih saat ini yang dikuasai umat manusia masih bersifat remeh. Itu karena sejatinya peristiwa isra dan mi'raj dalam semalam adalah penegasan keunggulan Allah Ta’ala.
Baca Juga: Bisakah Peristiwa Isra Miraj Dipahami dengan Perspektif Sains?“Ini manusia kalau kita hubungkan dari mekkah ke Yerussalem, melampaui galaksi. Kala itu, kehidupan manusia masih kuno. Belum (sampai pada) penerbangan antarbintang, karena bintang yang paling dekat (dengan bumi) jaraknya empat tahun cahaya. Kecepatan cahaya sendiri per detik adalah 300 ribu kilometer,” tegas Saad.
Oleh karena itu, peristiwa isra dan mi’raj yang nampak mustahil dari rasio empiris manusia sebetulnya menegaskan kekuasaan Khaliq, Allah Ta’ala atas semua mahluk-Nya. Apalagi, nanti pada hari kiamat, akan ada lebih banyak lagi kejadian yang tidak sesuai dengan penalaran empiris.
“Tidak mungkin Muhammad itu berdusta, karena ini (isra mi’raj) ada konteks hubungan dengan Allah. lebih spesifik lagi
tanzihul min qaumil kafiri ‘anil-syarikah. Membersihkan (keagungan) Allah dari ucapan orang-orang kafir bahwa ada yang sebanding dengan-Nya,” ujar Saad menegaskan.
Baca Juga: Isra dan Miraj 2 Peristiwa Berbeda, Ini Penjelasannya Menurut Al-Quran(jqf)