Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 14 Juni 2024
home sosok muslim detail berita
Islam di Amerika

Kisah Ilhan Omar, Muslimah Pengungsi Somalia Jadi Anggota Kongres Amerika

Muhajirin Selasa, 28 Februari 2023 - 12:40 WIB
Kisah Ilhan Omar, Muslimah Pengungsi Somalia Jadi Anggota Kongres Amerika
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali bersama muslimah anggota kongres Amerika Serikat, Ilhan Omar (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Washington DC - Ilhan Omar menjadi salah satu dari generasi baru politikus muda di Amerika Serikat. Muslimah kelahiran 4 Oktober 1982 itu menjadi anggota kongres Amerika dari Partai Demokrat. Dia memenangkan distrik kongres ke-lima Minnesota pada November 2018.

Ilhan Omar menjadi keturunan Somalia yang pertama, orang Amerika kelahiran Afrika pertama, dan salah satu dari dua Muslimah Amerika pertama yang menjadi anggota Kongres AS. Ilhan adalah pengungsi (refugee) dari Somalia yang datang ke Amerika di saat masih berumur 7 tahun.

“Tentu yang juga membanggakan karena Ilhan yang berdarah Yaman-Somalia ini konsisten dengan ajaran Islam di antaranya tetap memakai hijab,” kata Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali, saat berbincang-bincang dengan Ilhan Omar dalam sebuah acara yang diinisiasi perserikatan warga Yaman di US (YAMA) pada Ahad malam (26/2/2023) waktu setempat.

Baca Juga: Ukir Sejarah, Puluhan Muslim Terpilih dalam Pemilu Sela AS 2022

Saat menyampaikan pengantar di acara YAMA, Ilhan selalu merasa sebagai orang biasa saja. Padahal, menjadi anggota Kongres AS merupakan status luar biasa di Amerika Serikat. “Tapi bagi saya, kesempatan ini tidak merubah siapa saja,” kata Ilhan kepada Shamsi Ali.

Lika-Liku Perjalanan Hidup Ilhan


Ilhan sempat merasakan masa-masa kecil di Somalia. Bukan perkara mudah tinggal di sana. Dia mengenang saat harus berlari bersama keluarganya ke sana kemari untuk menyelamatkan diri. Ibunya adalah keturunan Yaman. Ayahnya yang asli Afrika (Somalia). Singkatnya, Allah mentakdirkan dirinya bersama keluarga diterima untuk menjadi pengungsi di Amerika.

Perjalanan hidup Ilhan yang pahit menjadi cambuk untuk melakukan perubahan. Maka, sejak di sekolah menengah hingga mahasiswi selain sungguh-sungguh belajar, juga aktif dalam berbagai kegiatan kampus dan komunitas.

Semua ini menjadi inspirasi baginya untuk mengambil bagian di dunia kontestasi politik. Singkatnya, dia pun terpilih menjadi anggota kongress mewakili Minnesota dengan pemilih yang tidak seperti selama ini disangkakan.

“Banyak yang menyangka jika pemilih beliau mayoritasnya warga Somali. Ternyata 90% konstituen Ilhan itu dari White Americans (warga kulit putih),” kata Shamsi Ali.

Baca Juga: Tak Hanya dari Timur Tengah, Ini 7 Ulama Terkemuka Asal Barat

Menjadi anggota Kongres Amerika juga bukan jalan mudah. Ternyata, konstestasi Ilhan untuk menjadi anggota Kongress adalah kontestasi termahal. Untungnya dia mendapat dukungan penuh dari konstituen. Termasuk dukungan dari banyak pihak, seperti Komunitas Muslim dan Afrika secara umum.

Rintangan Setelah Jadi Anggota Kongres

Setelah terpilih menjadi anggota Kongres Amerika juga sangat tidak mudah. Di antara tantangan itu adalah karena Ilhan satu-satunya anggota Kongress Muslimah dan berhijab. Artinya mau atau tidak, keislaman itu sangat visible (nampak).

“Ini akan menemukan reaksi negatif dari sebagian anggota Kongres yang masih rasis dan Islamophobik. Bahkan sebagian dari anggota partainya sendiri (Demokrat). Beliau mengisahkan bahwa pernah dalam elevator ada seorang anggota Kongress yang berbisik ke telinganya: “you don’t deserve to be here” (kamu tidak berhak ada di sini),” tutur Shamsi Ali.

Ilhan menghadapi semua itu dengan kesabaran (kekuatan, bukan kelemahan). Keadaan itu tidak menjadikannya lemah dan putus asa. Bahkan, dia terpilih menjadi anggota komite Hubungan Luar Negeri, salah satu komisi yang bergengsi dan terhormat.

Posisi itulah yang kemudian beliau jadikan pintu untuk menyuarakan banyak pihak yang termarjinalkan. Termasuk kaum Uighur di China, Kashmir dan Muslim India, hingga ke Umat Muslim Yaman dan tentunya yang klasik isu bangsa Palestina.

Baca Juga: Awalnya Musuhi Islam, Kini Para Politisi Eropa Ini Jadi Muslim Taat

Selain tegas dalam membela hak-hak mereka yang termarjinalkan beliau berhasil membangun koalisi di antara anggota Kongress. Koalisi ini memiliki mindset yang sama tentang hak-hak kaum yang termarjinalkan, termasuk bangsa Palestina.

“Karenanya memang diakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan itu. Sebagian anggota Kongres, walau minoritas, semakin terbuka mengeritik kesemena-menaan Israel terhadap bangsa Palestina. Sesuatu yang pada masa-masa lalu dianggap tabu dan anti Amerika,” kata Shamsi Ali.

Vokal Membela Hak Palestina

Keadaan bangsa Palestina yang semakin runyam saat ini disebabkan oleh sikap sebagian negara-negara Muslim yang memilih berkompromi dengan Israel. Beberapa negara mayoritas Muslim telah menandatangani hubungan diplomatik dengan Israel. Ini semakin membuka pintu bagi Israel untuk menekan dan membumi hanguskan bangsa Palestina.

Shamsi Ali lalu menanyakan tentang mana yang lebih efektif dalam upaya membela bangsa Palestina. "Apakah tetap memboikot hubungan diplomasi atau membangun hubungan diplomasi seraya memperjuangkan hak kemerdekaan mereka?," tanya Shamsi Ali.

“Masalah itu kembali kepada masing-masing negara berdasarkan keadaan dan kepentingannya," jawab Ilhan. Tapi dia mempertanyakan, “Apakah Israel akan semakin rela memberikan hak-hak Palestina setelah negara-negara Islam membangun hubungan diplomasi?” tutur Ilhan saat menjawab pertanyaan Shamsi Ali.

Baca Juga: Catat Sejarah, Politisi Muslim AS-Somalia Ini Masuk dalam Pemerintahan Biden

Posisi tegas Ilhan ini yang menjadi alasan bagi sebagian untuk menuduhnya dengan “anti-semit” atau anti Yahudi. Ternyata bagi sebagian orang mengkritik Israel sama dengan mengkritik kaum Yahudi. Sebuah sikap yang tentu tidak rasional, sebab mengkritik kebijakan pemerintah tidak harus identik dengan kritikan kepada agama.

Aktif Suarakan Isu Yaman Hingga Uighur

Dalam isu Yaman Ilhan secara terbuka mengaku mendapat tekanan dari Saudi Arabia. Itu karena kritikannya kepada Saudi yang melakukan serangan militer ke Yaman yang berakibat fatal seperti saat ini. Dia menyampaikan, tekanan Saudi itu justeru dirasakan melalui lawan-lawan politiknya di Kongres.

Selain isu Yaman, Ilhan juga pernah mendapatkan respon cukup mengagetkan dari dubes negara-negara ASEAN. Dia pernah mengundang beberapa Dubes negara ASEAN, termasuk Indonesia untuk membicarakan Uighur. Ilhan meminta negara-negara Muslim di Asia Tenggara minimal membuat pernyataan atau meminta klarifikasi tentang kamp konsentrasi Cina.

“Ternyata tak satupun yang bersedia melakukan itu,” tutur Shamsi Ali.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 14 Juni 2024
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:57
Ashar
15:17
Maghrib
17:49
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan