LANGIT7.ID, Yogyakarta - Ummat Islam di Yogyakarta tak asing lagi dengan Masjid Jogokariyan yang berlokasi di wilayah Mantirjeron. Rumah ibadah ini memiliki sejarah panjang, apalagi bila dikaitkan dengan keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Masjid Jogokariyan didirikan oleh Pengurus Muhammadiyah Ranting Karangkajen sebagai media dakwah untuk memperkuat dan menginternalisasi nilai-nilai Islam bagi warga sekitar. Sebab pada saat itu, masyarakat sekitar lebih mengutamakan kultur kejawen.
Bangunan ibadah ummat Islam yang berada di Jalan Jogokariyan ini awal mulanya dibangun pada 1966. Proses pembangunan Masjid Jogokariyan tidak terlepas dari kontribusi para pengrajin batik dan tenun di kampung itu.
Baca Juga: UYM, Ustadz Jazir dan Wali Kota Bengkulu Siap Hadiri Webinar Muharram LANGIT7.IDPemberian nama Jogokariyan ini berpegang pada sunnah Rasulullah, ketika memberi nama pada masjid, selalu membubuhkan nama kampung atau lokasinya, misal Masjid Kuba di Madinah karena berada di Kampung Kuba.
Selain itu, para pendiri Masjid Jogokariyan berharap masyarakat lebih mudah menemukan lokasi atau keberadaan rumah ibadah ini karena berada di tempat perkampungan warga.
Saat ini Ketua Takmir Masjid Jogokariyan dieman oleh Ustadz Muhammad Jazir Asp. Dia juga salah satu tokoh penting dalam mewujudkan masjid tersebut sebagai pusat peradaban.
Saksikan webinar Langit7.id bertema "Muharram Momentum Kebangkitan Ekonomi Umat dari Masjid dan Pesantren". Pendaftaran KLIK DI SINIUstadz Jazir, sapaannya, masih menyimpan erat cita-cita masjid tersebut, yakni mengembalikan nilai-nilai Islam di masyarakat sekitar. Masjid pun bukan hanya tempat shalat, tapi juga pusat sosialisasi.
Pria kelahiran Oktober 1962 ini merupakan lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Itulah mengapa selalu hadir gagasan brilian di kepalanya.
Baca Juga: Ustadz Fanni Rahman, Tokoh Masjid Jogokariyan Meninggal DuniaMantan dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII Yogyakarta ini melakukan beberapa perombakan terhadap sistem Masjid Jogokariyan, di antaranya membuka akses 24 jam agar semua orang dapat masuk masjid.
Bukan hanya itu, dia juga mengusulkan para pengurus Masjid Jogokariyan juga menyisihkan uang untuk diberikan sebagai modal usaha dan beasiswa untuk mahasiswa sekitar atau luar yang aktif dalam kegiatan Masjid Jogokariyan.
(bal)