Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 22 Februari 2024
home masjid detail berita

Perbedaan Infak, Sedekah dan Wakaf

Muhajirin Rabu, 17 Mei 2023 - 05:00 WIB
Perbedaan Infak, Sedekah dan Wakaf
Wakil Ketua I Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat.Foto/ist
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) merupakan sebuah instrument distribusi kekayaan alam dalam system ekonomi Islam. Keempat instrument itu hanya zakat yang hukumnya diwajibkan, bagi ketiga lainnya menjadi sarana berderma terhada sesama muslim.

Ziswaf memiliki dua makna yakni usaha menjalan perintah Allah SWT (keshalihan spiritual) dan usaha menunaikan tanggungjawab sosial (keshalihan sosial). Dengan begitu, keadilan sosial bisa terwujud di tengah masyarakat.

Wakil Ketua I Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan, keempat instrument ekonomi Islam tersebut memiliki makna yang berbeda-beda.

Baca juga:Wakaf Harus Produktif, Bukan Hanya Makam, Masjid dan Madrasah

1. Sedekah
Menurut UAH, sedekah merupakan nama umum dari segala perbuatan amal baik dan amal shalih. Maka, tidak harus dalam berbentuk uang, melainkan bisa juga dalam bentuk harta benda lain seperti barang atau makanan. Meski sedekah umum lebih umum dikenal di masyarakat.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesame muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR Tirmidzi)

Sementara, menurut ar-Raghib al-Ishfani dalam kitab Abdurra’uf am-Manawi, at-Tauqif fi Muhimmat at-Ta’rif, sedekah merupakan harta benda yang dikeluarkan orang dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Sedekah adalah harta-benda yang dikeluarkan orang dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, pada dasarnya sedekah itu digunakan untuk sesuatu yang disunnahkan, sedang zakat untuk sesuatu yang diwajibkan.”

Maka secara umum, zakat dan infak pun termasuk ke dalam sedekah, karena bagian dari perbuatan baik dan amal shalih. Letak perbedaannya dapat dilihat dari ketentuan syariat yang sudah Allah tetapkan.

2. Zakat
UAH menjelaskan, zakat hukumnya wajib ditunaikan bagi umat Islam yang mampu dan memiliki kelebihan harta. Zakat yang dikeluarkan pun memiliki perhitungan masing-masing, tergantung dengan harta yang dimiliki.

Sebagai contoh, zakat firah yang dikeluarkan setiap Ramadhan sebesar satu sha’ dan zakat mal yang dikeluarkan setiap akhir tahun berdasarkan besaran harta yang dimiliki.

“Kalau zakat itu spesifik bahkan bentuknya adalah kewajiban jika sudah memiliki Batasan dan syarat-syarat ketentuan tertentu,” ujar UAH dalam tausiahnya yang disiarkan secara daring, dikutip Selasa (16/5/2023).

Zakat pun harus diberikan kepada delapan golongan, sebagaimana termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 60. Golongan itu adalah fakir, miskin, muallaf, budak, orang yang terikat dengan hutang karena kepentingan maslahata agama atau umum, orang-orang yang berjuang menyiarkan ajaran Alla, dan orang-orang di perjalanan yang kesulitan bekal di jalan menuju Allah.

Sementara, Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj mengatakan, zakat adalah sebuan nama yang menyebutkan kadar harta tertentu yang didistribusikan kepada kelompok tertentu pula dengan pelbagai syarat-syaratnya.

3. Infak
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib menjelaskan, infak adalah membelanjakan harta-benda untuk hal-haln yang mengandung kemaslahatan. Oleh karena itu, orang yang menyia-nyiakan harta bendanya tidak bisa disebut sebagai munfiq (orang yang berinfak).

UAH menjelaskan, infak terbagi menjadi dua jenis. Ada infak yang wajib dan ada infak yang sunnah. Infak yang wajib adalah infak seorang suami kepada keluarga (nafkah). Infak yang bersifat sunnah setelah infak wajib terpenuhi.

“Ada infak yang sifatnya sunnah, setelah selesai kebutuhan keluarga, kelebihannya digunakan untuk infak sunnah. Contohnya kepada orang tua, orang dekat, yatim, dan orang yang kesulitan di jalan tidak memiliki bekal,” ujar UAH.

Selebihnya, ada pula infak umum seperti membantu untuk pembangunan masjid. “Itu ada di Qur’an Surah kedua (Al-Baqarah) ayat 261, kaidah infak umum dibalasnya itu langsung 700 kali lipat oleh Allah SWT,” tutur UAH.

4. Wakaf
Wakaf adalah menahan harta yang bisa diambil manfaatnya dengan tetap kekalnya zat hart aitu sendiri dan mentashrrufkan kemanfaatannya di jalan kebaikan. Tujuan wakaf ini untuk mendekatkan dirinkepada Allah.

Konsekuensi dari hal ini adalah dzat harta-benda yang diwakafkan tidak boleh ditasharrufkan. Itu karena yang ditasharrufkan adalah manfaat dari harta benda yang diwakafkan tersebut.

“Sedang mentasharrufkan kemanfaatannya itu dalam hal kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.” (Taqiyyuddin Abi Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi asy-Syafi’i, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar)

Dalam fikih Islam, wakaf berarti hak pribadi dipindah menjadi kepemilikan secara umum atau lembaga agar manfaatnya mampu dinikmati masyarakat. Jadi, pengertian wakaf adalah pemberian suatu harta dari milik pribadi menjadi kepentingan bersama, sehingga kegunaannya mampu dirasakan oleh masyarakat luas tanpa mengurangi nilai harta tersebut.

Tujuan dari wakaf sama seperti bersedekah, yakni mencari pahala sebanyak-banyaknya. Namun bedanya dengan sedekah, manfaat wakaf dirasakan oleh banyak orang, sehingga pahalanya senantiasa mengalir, meski wakif sudah meninggal. Misalnya wakaf masjid, properti, dan lain sebagainya.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 22 Februari 2024
Imsak
04:32
Shubuh
04:42
Dhuhur
12:10
Ashar
15:18
Maghrib
18:17
Isya
19:27
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan