Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 26 Mei 2024
home masjid detail berita

Kebenaran Al-Qur'an Mutlak, Kenapa Tafsir Bisa Berbeda-Beda?

Muhajirin Jum'at, 19 Mei 2023 - 07:30 WIB
Kebenaran Al-Qur'an Mutlak, Kenapa Tafsir Bisa Berbeda-Beda?
Kebenaran Al-Quran mutlak dan menjadi rujukan umat Islam dalam setiap kehidupan.
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pemikiran Islam sudah jelas tegak di atas fondasi Al-Qur'an dan Hadits. Al-Qur'an dan Hadits menjadi rujukan umat Islam. Lalu, kenapa tafsir Al-Qur'an maupun Hadits kerap berbeda-beda?

Menteri Agama RI periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, mengungkapkan, paham agama di dunia terus mengalami perubahan dan perkembangan secara dinamis. Ini berdasarkan fakta otak manusia terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan situasi dan kondisi zaman yang tidak statis.

Di sisi lain, pandangan para ulama di setiap zaman belum tentu relevan digunakan dengan konteks yang terjadi pada zaman lain. Hal itulah yang kerap menimbulkan perbedaan ulama kontemporer dalam menafisrkan teks keagamaan.

"Bukan perkembangannya yang harus dihindari, karena ini (perkembangan zaman) sesuatu yang niscaya. Pasti akan berkembang beragama itu," kata Lukman di depan para tokoh agama yang mengikuti ToT penggerak moderasi beragama di Jakarta, dikutip laman resmi NU, Jumat (19/5/2023).

Baca juga:Berbakti ke Orang Tua, Rahasia Gus Baha Bisa Jadi Ulama Cerdas

Perkembangan paham agama ini juga tidak terlepas dari perbedaan-perbedaan yang muncul dalam memahami teks kitab suci, serta perkataan dan perilaku dari rasul, nabi, dan ulama. Itu karena teks agama yang menjadi rujukan umat beragama dalam memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.

Dalam memahami teks ini, setiap individu memiliki sudut pandang yang berbeda dan menghasilkan tafsir yang berbeda pula. Itu berdasarkan wawasan dan perspektif masing-masing. Terlebih pada teks itu sendiri, terkadang multitafsir atau memiliki banyak makna.

"Orang boleh jadi perspektifnya sama, wawasan ilmu pengetahuannya sama, lingkungan strategis dan ekosistemnya sama, tapi tetap terbuka peluang untuk munculnya keragaman paham keagamaan karena teks rujukan keagamaannya memang multitafsir," ungkap Lukman.

Banyak istilah, kosakatan, diksi, yang memang multitafsir. Sehingga, keragaman itu merupakan keniscayaan. Keragaman ini juga yang kemudian membawa individu kepada posisi-posisi tertentu dalam beragama. Ada yang bergeser ke posisi terlalu kiri ataupun terlalu ke kanan.

Maka pada titik ini penting membuat jalan tengah dengan beragama dalam jalur moderat yang menjadi esensi perintah agama.

"Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama, denganc ara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bersama," ujar Lukman.

Baca juga:Manfaat Tahajud Bagi Muslim, Diberi Perlindungan oleh Allah SWT

4 Metode Penafsiran Al-Qur'an

Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan penafsiran Al-Qur'an, di antaranya latar belakang mufassir, sumber penafsiran, motode tafsir, dan lain sebagainya. Metode penafsiran diperlukan sebagai media penyajian tafsir dan terkait dengan tujuan penulisan.

Perbedaan metode tidak jarang mempengaruhi hasil penafsiran, sehingga penting mengenal metode penafsiran Alquran. Beda metode, akan berbeda pula produk tafsir. Secara umum, dikutip laman tafsiralquran.id, ada empat metode yang populer digunakan para ulama tafsir.

1. Metode Tahlili
Metode tahlili adalah metode tafsir yang sifatnya tajzi’i, yakni mengurai secara rinci satu persatu bagian terkecil dari ayat al-Quran. Umumnya pemaparan berdasarkan tartib mushafi, di mana mufassir menafsirkan ayat al-Quran secara berurutan dari surah Al-Fatihah sampai surah An-Nas.

Metode tahlili merinci segala macam aspek ayat. Mulai dari makna mufradat, analisis kebahasaan (i’rab), ragam qiraat hingga berbagai hukum yang dapat disarikan darinya (istinbatul hukm). Diperkaya pula dengan komponen-komponen penafsiran lain seperti konteks turunnya ayat (asbabun nuzul), relasi antarayat atau antarsurat (munasabah) serta riwayat-riwayat terkait.

Kelebihan dari metode ini adalah pembahasannya yang komprehensif, sehingga sangat cocok bagi pengkaji yang ingin mendalami tafsir Alquran. Kekurangannya, antara lain metode ini tidak mengarah pada penyelesaian masalah yang konkret di masyarakat. Dengan istilah lain kurang membumi karena tidak dikaitkan pada problematika di dunia nyata.

Selain itu, karena saking luasnya pembahasan, banyak hal yang tidak dibutuhkan pembaca ikut disertakan. Mufassir juga kadang terjebak pada kecenderungan mazhab. Tidak jarang tafsir model ini mengaitkan ayat tidak pada tempatnya.

2. Metode Ijmali
Metode ijmali ialah metode menafsirkan Alquran dengan penjelasan yang global, ringkas dan dengan diksi populer serta jelas. Tidak seperti metode tahlili yang rinci, dalam metode ijmali mufassir terkadang hanya menafsirkan lafaz-lafaz yang dirasa perlu diberi penjelasan. Penjelasannya pun tidak panjang lebar, akan tetapi secukupnya saja sesuai kebutuhan.

Kitab tafsir yang memakai metode ini lebih mudah dipahami karena tidak bertele-tele. Tafsir al-Jalalain misalnya yang hanya menyisipkan penjelasan singkat di sela-sela ayat. Sifatnya yang praktis membuatnya cocok untuk pemula atau bagi orang yang punya waktu terbatas.

Sedangkan dari sisi kurangnya, tafsir ijmali tidak dapat memberikan penjelasan ayat secara detail dan dari berbagai sudut pandang. Sehingga kurang memuaskan bagi pembaca yang menginginkan penjelasan mendalam.

3. Metode Muqarin
Metode muqarin atau komparatif merupakan metode tafsir yang berusaha membandingkan antara satu ayat dengan ayat lain yang redaksinya mirip atau antara ayat dengan hadis yang sekilas tampak bertentangan. Bisa juga perbandingan antara berbagai penafsiran ulama yang berbeda satu sama lain, serta antara teks Alquran dengan teks dari kitab suci agama lain.

Keunggulan menggunakan metode ini, mufassir dapat memberikan wawasan yang luas dari berbagai sudut pandang untuk kemudian pembaca dapat menilai mana penafsiran yang lebih relevan dibandingkan penafsiran lain. Pembaca juga dapat mengetahui faktor-faktor yang mengakibatkan munculnya persamaan maupun perbedaan pendapat tersebut.

Kelemahan tafsir dengan metode ini barang kali akan cukup menyulitkan dan kurang sesuai untuk kalangan awam atau pemula, sebab pembahasan tafsir terkadang sangat kompleks dan mendalam.

4. Metode Maudui
Metode maudui merupakan metode menafsirkan Alquran yang didasari pada tema tertentu. Setidaknya ada tiga macam metode maudui yang populer saat ini.

Pertama, mufassir menginventarisasi ayat-ayat yang mengandung kosakata tertentu untuk kemudian menafsirkannya. Ini berguna untuk mengetahui bagaimana penggunaan kosakata tersebut dalam Alquran dan apa saja makna yang dikandungnya.

Kedua, mufassir menghimpun dan membahas suatu aspek dari Alquran. Misalnya kitab Ash-Shamil fi balaghatil Qur’an yang ditulis oleh KH. Afifuddin Dimyati. Kitab ini khusus mengkaji sisi sastrawi Alquran.

Ketiga, dari metode maudui adalah tematik surat, yakni mufassir membatasi penafsirannya pada surat tertentu. Misal, ia hanya menafsirkan surat Yusuf dalam satu kesatuan. Biasanya mufassir akan menentukan terlebih dahulu tema sentral surat (mihwar/’amud), sehingga apapun interpretasi selanjutnya akan berkaitan dengan tema sentral tersebut.

Salah satu yang menjadi kelebihan tafsir maudui ialah mufassir fokus membahas suatu tema tertentu, sehingga pembaca mendapatkan pemahaman yang utuh terkait bagaimana konsep qur’ani atau pandangan dunia (weltanschauung) Alquran tentang tema tersebut.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 26 Mei 2024
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan