Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Rahasia Mendidik Anak Agar Taat Kepada Orang Tua

Muhajirin Sabtu, 28 Agustus 2021 - 18:18 WIB
Rahasia Mendidik Anak Agar Taat Kepada Orang Tua
Ilustrasi cara mendidik anak agar shalih dan shaliha. Foto: Langit7.id/iStock
LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Islamic Parenting, Ustadz Bendri Jaisyurrahman, menjelaskan, kunci utama dari pengasuhan adalah mengikat hati anak (ta'liful qulub). Saat hati sudah terikat, maka orang tua akan sangat mudah memberikan nasihat kepada anak.

Ustadz Bendri mengutip perkataan Ibnu Taimiyah, sesungguhnya hati adalah raja dan yang lain adalah prajurit. Artinya, jika hati seseorang sudah tunduk, maka yang lain pasti mengikuti. Ini sangat relevan dengan konsep pengasuhan anak.

Baca Juga: Kabar Gembira, Diet Tak Melulu Harus Mengurangi Makan

“Kalau ingin anak mengikuti nasihat kita, pakailah kaidah yang disampaikan para ulama. Ikat hatinya dulu sebelum dikasih tau, kasih tau dulu sebelum dikasih tugas. Inilah yang membuat anak-anak kita mudah tunduk bahkan taat, ketika kadang-kadang berbeda keinginan dengan orang tua,” kata Ustadz Bendri melalui kanal youtube KMII Jepang, Sabtu (28/8/2021).

Ustadz Bendri mengutip firman Allah Ta’ala dalam surah As-Saffat ayat 102 yang menceritakan kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ibrahim merupakan sosok ayah yang jarang pulang. Suatu ketika saat pulang ke rumah, ia mendapatkan perintah menyembelih Ismail.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102).

Ayat itu menunjukkan sosok Ibrahim yang sangat menghargai hak-hak anak. Dia bukan tipe ayah otoriter. Meskipun harus mengikuti perintah Allah, namun tetap meminta pendapat sang anak. Jawaban Ismail menunjukkan karakter seorang anak yang sudah taat kepada orang tua.

Baca Juga: Tips Jitu Melamar Pekerjaan, Wawancara Jadi Tahap Krusial

“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Sayyid Quthb dalam tafsir Fi-Dzilalil Qur’an mengatakan, kalimat Ismail tidak lazim menunjukkan ketaatan. Kalau orang benar-benar taat, maka jawaban umumnya adalah “labbaik” atau yang familiar “sami’na wa atha’na”. Namun Ismail tidak menjawab Ibrahim menggunakan kalimat tersebut.

Sayyid Qutub mengatakan, Ismail sebenarnya takut, dan itu manusiawi. Seorang anak mau disembelih oleh ayahnya sendiri, maka sangat wajar jika ada rasa takut. Namun karena yang meminta adalah ayahnya serta Ismail memiliki keimanan dalam hati, maka ia memaksakan diri untuk berani.

“Maka sejatinya setiap anak ada kalanya berbeda pendapat dengan orang tuanya. Tapi kalau ayah sudah menjadi sosok yang dicintai, dirindukan, dan dipercaya, maka anak akan mengalah dan berusaha mengalahkan rasa takut atau egonya,” ucap Ustadz Bendri.

Dalam kekinian, Ustadz Bendri mencontohkan seorang ayah yang meminta anaknya kuliah di Fakultas Kedokteran. Namun anak sebenarnya memiliki kehendak lain, anggap saja ingin kuliah jurusan ekonomi. Namun karena diminta oleh sang ayah, maka dia berusaha menurunkan ego dan mengikuti keinginan ayah.

Baca Juga: Pasca Sembuh dari Covid-19, Waspadai Post Covid Syndrome

“Sebenarnya anak pengen kuliah ekonomi, tapi karena papanya yang minta, maka dia menyerahkan keputusan kepada bapak. Maka perhatikan, ketika anak sering membantah, bahkan melawan omongan orang tua, itu disebabkan orang tua gagal mengikat hati sang anak,” ucap Ustadz Bendri.

Buah Kesalahan Pengasuhan

Anak tidak bisa taat karena ancaman. Taat kepada orang tua terbagi dua, taat karena cinta dan taat karena terpaksa. Jika taat karena cinta, maka anak dengan bahagia mengikuti keinginan orang tua. Taat karena ancaman akan meninggalkan efek panjang bagi anak.

Taat karena ancaman memiliki dua efek negatif. Pertama, anak akan menyusun kekuatan dengan niat membalas kala dewasa nanti. Anak itu akan menjadi liar dan tak mau dinasihati. Saat kecil memang taat, tapi saat dewasa akan melawan orang tua.

Efek kedua, anak cenderung inferior bahkan menjadi tidak percaya diri. Ini karena saat kecil terus mendapat ancaman dan sering ditakut-takuti. Maka itu, orang tua tidak boleh geer jika anak karena ancaman. Anak yang minder ini memiliki tiga ciri, di antaranya:

1. Gerakan Minimalis

Jika anak mengalami stres atau sering diancam, maka ia akan menjadi anak yang memiliki kepribadian pendiam. Malas bergerak. Saat ada pelajaran olahraga misalnya, ia hanya bergerak seadanya. Tidak ada semangat yang terpancar dari wajah. Berbeda dengan anak-anak lain yang memiliki kepercayaan diri.

2. Ekspresi Minimalis

Ustadz Bendri mencontohkan, jika dalam suatu kelas, terdapat anak pendiam saat yang lain tertawa, maka patut diberi perhatian lebih. Ia lambat merespon hal-hal lucu. Bahkan cenderung tak menghiraukan. Kaku saat bergaul dan sangat senang menyendiri.

3. Tidak Berani Menatap Mata Lawan Bicara

Ini masalah yang tidak boleh disepelekan. Jika mendapati anak tidak memandang mata saat berbincang, maka berikan pendekatan psikologis. Jiwa anak itu tengah terganggu. Jiwa anak itu sedang terus terinjak-injak, sehingga mata sebagai jendela jiwa tidak berani terbuka. Ia tidak percaya diri terhadap lingkungan sekitar.

“Buah dari kesalahan pengasuhan menghasilkan anak-anak yang mungkin taat tapi rentan dipengaruhi. Ketika kita mampu menaklukkan hati anak, kita sejatinya lebih mudah dalam mengasuhnya,” ucap Ustadz Bendri.

Baca Juga:

Kenali Gejala Stroke Sejak Dini

Tiap Jumat Bakda Ashar Waktu Mustajab Berdoa, Berikut Doanya


(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)