Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 24 April 2024
home lifestyle muslim detail berita

Tanpa Disadari, 5 Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Merusak Potensi Anak

esti setiyowati Kamis, 31 Agustus 2023 - 06:21 WIB
Tanpa Disadari, 5 Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Merusak Potensi Anak
ilustrasi
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pola asuh orang tua mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebab itu, setiap tindakan dan ucapan orang tua yang diarahkan kepada anak harus dipahami dan dicermati.

Pakar pendidikan anak usia dini Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Rachma Hasibuan mengatakan, setiap ucapan orang tua bisa berdampak pada psikologis dan perkembangan karakter anak.

Ia pun meminta orang tua untuk berhati-hati dalam memiliki kalimat yang akan diucapkan. Terkait itu, ada beberapa kebiasaan orang tua yang tanpa disadari itu berdampak pada potensi dan perkembangan anak, yaitu:

Baca juga:Zat Penyebab Polusi Udara dan Dampak Buruk Kesehatan

1. Membanding-bandingkan anak
Sikap membanding-bandingkan ini bisa meruntuhkan kepercayaan diri anak pada usaha dan kemampuannya.

Menurut Rachma, mentalitas anak pun menjadi tertekan sehingga mereka takut untuk melakukan apa pun. Sikap ini lambat laun akan membatasi perkembangan potensi anak.

2. Mencela fisik dan psikis
Menyakiti perasaan dengan mengatakan hal-hal negatif seperti celaan fisik atau psikis, bisa berdampak besar pada anak.

Rachma mengatakan, kebiasaan ini bisa menyebabkan anak menjadi tidak percaya diri, membenci dirinya sendiri, merasa cemas bahkan dalam waktu yang lama itu bisa sampai terjadi gangguan mental.

3. Mengkambinghitamkan anak
Ada kebiasaan orang tua yang memiliki dampak negatif ke anak yaitu suka mengkambinghitamkan anak dari suatu kejadian atau persoalan.

"Biasanya beberapa orang tua yang ketika ada persoalan melimpahkan kekesalan kepada anaknya dengan kata-kata seperti, gara-gara kamu nih, karena perbuatanmu, ulahmu, dan kata serupa lainnya," kata Rachma, dikutip dari laman Unesa, Rabu (30/8/2023).

Sikap ini dapat membentuk anak menjadi diam, tidak berani mengungkapkan pendapatnya karena takut disalahkan. Anak berpotensi diam dan tidak menceritakan apapun kepada orang tuanya.

Sehingga, dikhawatirkan anak menceritakan permasalahannya kepada orang yang tidak tepat di luar sana.

4. Menakut-nakuti anak
Menakuti-nakuti anak seperti menyampaikan kalimat; kalau tidak bobo, nanti digigit setan dan lainnya, secara tak langsung menimbulkan efek ketakutan serius bagi anak, merusak imajinasi mereka tentang realitas dan lama kelamaan anak berpotensi trauma.

5. Membiasakan atau mengucapkan kalimat yang ‘membuang’ nilai positif
Contohnya, "Nak, berbohong itu tidak masalah loh". Kalimat-kalimat tersebut dapat berpengaruh negatif. Di mana anak akan merasa bahwa berbohong merupakan hal yang wajar.

Lantas apa yang harus dibiasakan orang tua?

Rachma menganjurkan sejumlah hal sederhana yang bisa dibiasakan orang tua kepada anak.

"Pertama, memberi contoh dalam bentuk perilaku. Pada masa pertumbuhan dan perkembangannya, anak cepat menyerap dan meniru apa yang ada di lingkungannya. Termasuk kebiasaan orang tuanya," jelasnya.

Karena itu, orang tua perlu memberi contoh dan menjadi teladan perilaku bagi anak. Itu lebih efektif untuk membentuk perilaku sejak dini.

Kemudian, mengucapkan kalimat positif dan memotivasi, seperti sesekali memberikan apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

"Dengan begitu, kepercayaan diri seorang anak terbangun. Selain itu juga bisa membantu anak untuk berkembang dan tidak merasa frustasi saat mengalami kegagalan," tambah Rachma.

Ketiga, membangun hubungan baik dengan anak salah satunya melalui komunikasi dari hal-hal kecil.

Kedekatan dan harmonisasi keluarga dapat diwujudkan melalui komunikasi antar anak dan orang tua.

"Komunikasi ringan seperti menanyakan keseharian kepada anak, pendapat mereka tentang makanan misalnya, baju dan seterusnya. Ini bisa membuat anak menjadi lebih dekat dengan orang tuanya," bebernya.

Keempat, orang tua perlu membiasakan anak rasa tanggung jawab.

"Paling sederhana seperti orang tua sesekali minta maaf kepada anak, jika misalnya orang tua melakukan kesalahan," terang Rachma.

Sikap ini sekaligus membiasakan anak akan rasa tanggung jawab, mengakui kesalahan dan minta maaf ketika suatu waktu mereka berbuat salah.



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 24 April 2024
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan