Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 20 Juli 2024
home masjid detail berita

3 Cara Membangun Kesadaran sebagai Hamba Allah SWT

Muhajirin Sabtu, 16 September 2023 - 19:00 WIB
3 Cara Membangun Kesadaran sebagai Hamba Allah SWT
ilustrasi
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Manusia harus bersujud dan taat kepada Allah SWT karena sebuah alasan. Itu karena manusia merupakan mahluk ciptaan-Nya. Dalam hal ini, ideologi harus dikunci terlebih dahulu.

Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, mengatakan, bila kesadaran sebagai makhluk ciptaan Allah hilang, maka terjadi ketidakseimbangan. Ada proses logika penghambaan yang sebenarnya mudah untuk dicerna.

Namun, karena logika tidak juga diterima oleh kebanyakan manusia, maka titik ketaatan tidak kunjung masuk. Salah satu proses fakta yang membuat lebih cepat merasa sebagai hamba Allah adalah proses penuaan.

“Proses penuaan ini tidak bisa kita tahan karena semua orang akan menjadi tua. Kita bisa berobat kemana pun, namun menjadi tua itu tidak bisa dihindari oleh setiap orang,” kata Ustadz Fauzi saat menyampaikan kajian secara daring, dikutip Sabtu (16/9/2023).

Kecerdasan paling tinggi adalah kecerdasan bertahan hidup. Hal ini yang telah dibuktikan oleh orang-orang tua di sekitar kita. Bagi orang tua, yang semula kokoh menjadi lemah, terang menjadi gelap, kuat menjadi lemah, cepat menjadi lambat, ingat menjadi lupa dan seterusnya.

Ketika melihat hal-hal di sekitar, sesungguhnya manusia bisa mencapai kesadaran sebagai hamba Allah. Di dalam shalat, semua bacaan dan gerakan adalah penegasan sebagai hamba Allah. Totalitas ketaatan sama dengan totalitas penghambaan. Kesempurnaan penghambaan dikejawantahkan dengan kesempurnaan ketaatan.

Ketika manusia bisa menemukan satu kesadaran sebagai hamba Allah, maka akan dengan mudah bergeser kepada ketaatan. Dengan totalitas dalam penghambaan, maka akan muncul totalitas dalam ketaatan. Hal ini yang melahirkan totalitas keimanan. Manusia itu akan merasa nyaman dengan semua keputusan Allah.

“Rasulullah luar biasa takutnya kepada Allah karena beliau sudah menyadari dirinya sebagai hamba Allah. Sementara itu, orang biasa malah berani luar biasa kepada Allah. Kesadaran seseorang atas penghambaan mengantarkan kesadaran atas ketaatan,” ujar Ustadz Fauzi.

Ciri Seseorang Sudah Memiliki Ketaatan yang Baik

1. Lapang dan Ridha terhadap Keputusan Allah
Ciri pertama orang yang sudah memiliki ketaatan yang baik adalah bersikap lapang dan ridha terhadap semua keputusan Allah. Bersikap sangat lapang dan ridha terhadap semua keputusan Allah, baik keputusan Allah di dalam syariat maupun di alam semesta. Diberi keputusan oleh Allah itu sungguh menyenangkan karena membawa kebaikan.

“Ada beberapa keputusan Allah yang membuat kita senang, misal wanita boleh dinikahi. Ada beberapa keputusan Allah yang bisa jadi berat, misalkan perintah berjihad, berzakat, menjaga pandangan dan banyak lain lagi. Kita perlu menerima itu semua karena kita hanyalah manusia yang diciptakan Allah,” ungkap Ustadz Fauzi.

2. Melaksanakan Ketaatan dengan Senang Hati
Semua hal di alam semesta terjadi atas keputusan Allah, maka sudah seharusnya manusia senang dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Berdasarkan survey, 54% seseorang tidak mendapatkan jodoh yang sesuai harapan.

“Apakah kemudian kita jadi menderita? Kita yang memutuskan untuk menerima keputusan Allah ini atau tidak. Begitu Allah hidupkan seorang hamba-Nya, Allah memberinya rahmah. Semua halnya diurus oleh Allah sejak bayi. Dengan demikian, kita senang untuk taat kepada Allah,” tutur Ustadz Fauzi.

Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan sahih, diriwayatkan dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).

Hidup seringkali terasa sempit karena kurangnya penghambaan kepada Allah. Ketika datang provokasi materialisme dan hedonisme, hidup terasa penat. Maniusia merasa kehilangan eksistensi, sehingga hidup selalu dibayang-bayangi oleh pandangan orang lain.

“Apa kata orang kalau anak saya tidak sekolah di sekolah favorit? Apa kata orang kalau HP saya adalah HP yang jadul? Padahal, hidup sebagai hamba Allah itu adalah yang paling menenangkan,” ungkap Ustadz Fauzi.

Orang-orang sekarang sering stres, karena tidak kuat atas cibiran orang-orang di sekitarnya. Sikap “julid” orang-orang sekitar itu seringkali mendesak seseorang untuk berlaku materialistis supaya diterima.

“Kalau tingkat kesadaran kita atas ketaatan ini tinggi, maka kita akan menjalankan seluruh konsep cabang iman dengan senang hati,” ujar Ustadz Fauzi.

Tidak ada orang yang paling kuat dalam sejarah manusia selain dari Firaun (Ramses II). Karena semua keinginannya selalu terwujud dan lupa bahwa semua hal itu adalah pemberian Allah. Maka dia sampai tiba pada pengakuan diri sebagai Tuhan.

“Ketika orang sekuat Firaun yang mengejar Musa itu tidak bisa menanggung bahwa laut itu bisa menenggelamkan dirinya, maka bagaimana dengan para penentang Allah yang lain?” Ujar Ustadz Fauzi.

3. Maksimal dalam Ketaatan kepada Allah
Hal yang membedakan generasi sahabat dengan generasi saat ini adalah dalam tingkat ketaatan kepada Allah. Para sahabat maksimal dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka taat dengan “plong” dan “lepas”, tidak ada tawar-menawar.

Secara kontras, umat muslim sekarang ini lebih sering menawar-nawar Islam daripada menawar-nawar budaya. Ketaatan yang terjadi hanya pada koridor yang semampunya. Muslim yang baik adalah yang bisa totalitas dalam ketaatannya.

“Sikap tawar-menawar yang dilakukan manusia dalam ketaatan itu bisa jadi terjadi karena sikap berlebihan dalam sisi berharapnya di atas sisi ketakutannya. Hal ini bisa jadi karena kurangnya ilmu,” ujar Ustadz Fauzi.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 20 Juli 2024
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan