Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 20 Juni 2024
home sosok muslim detail berita

Oman Fathurahman, Peraih Habibie Prize 2023 Hafal Alfiyah dan Konsisten Rawat Manuskrip Nusantara

Muhajirin Senin, 13 November 2023 - 13:21 WIB
Oman Fathurahman, Peraih Habibie Prize 2023 Hafal Alfiyah dan Konsisten Rawat Manuskrip Nusantara
Oman Fathurahman, peraih Habibie Prize 2023 Hafal Alfiyah dan konsisten rawat Manuskrip Nusantara
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengumumkan peraih Habibie Prize 2023. Penghargaan ini diberikan kepada Guru Besar Bidang Filologi pada Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum dalam Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan dengan bidang kepakaran Filologi Plus.

Habibie Prize digelar untuk memberikan apresiasi kepada perseorangan yang aktif dan sangat berjasa dalam penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan berbagai kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang inovatif serta bermanfaat secara signifikan bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.

Oman Fathurahman lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1969. Lulus dari MAN Cipasung Tasikmalaya pada 1987, Oman mondok di Pesantren terpencil saat itu di Haurkuning, Salopa. Setahun kemudian, dia nekat ke Jakarta untuk mengadu nasib demi mengejar cita-cita.

Berbagai pekerjaan ia lakoni agar bisa mengumpulkan biaya kuliah. Mula-mula menjajakan rokok dan permen dengan berjalan kaki dari Kebayoran Lama, Jakarta Selatan hingga Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dia juga pernah menjadi buruh kasar di perusahaan percetakan.

Baru pada 1990, Oman berkesempatan kuliah setelah diterima di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab pada Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia membiayai sendiri kuliahnya dengan berdagang jam tangan, batik, kacamata, dan mengajar mengaji.

Baca juga:KH Ali Mujib: Ada Doa Orang Tua dalam Kesuksesan Anak

Meski begitu, ia aktif berorganisasi bahkan sempat menjabat Ketua Senat Mahasiswa dan Ketua Komisariat HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di Fakultasnya.

Lulus dengan predikat cumlaude pada 1994, Oman mulai berkenalan dengan manuskrip. Berkolaborasi dengan Chambert-Loir, ia menghasilkan karya pertamanya, berjudul “Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia se-Dunia” (Jakarta: EFEO-YOI, 1999). Ini adalah buku babon semacam “mbahnya katalog manuskrip” yang menjadi kajian utama para pengkaji manuskrip Nusantara di seluruh dunia.

Pada 1998, atas beasiswa dari Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa), Oman menyelesaikan studi Magister di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Tesisnya diterbitkan dengan judul “Menyoal Wahdatul Wujud” (Bandung: EFEO-Mizan, 1999).

Sejak itu, ia menggariskan perjalanan hidupnya dengan manuskrip Nusantara. Ia mengembara ke kantong-kantong manuskrip seperti di Minangkabau, Aceh, dan Jawa Barat. Bermodal beasiswa dari the Ford Foundation, pada 2003 Oman berhasil meraih gelar doktornya di kampus yang sama. Disertasinya terbit dengan judul “Tarekat Syatariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks” (Jakarta: EFEO-Prenada, 2008).

Oman hafal Alfiyah—kitab karya Ibnu Malik berisi seribu bait gramatikal Arab tingkat tinggi—dan menguasai naskah kuno dalam empat bahasa: Arab, Melayu, Jawa, dan Sunda. Kemampuan itu mengantarkannya sebagai penerima fellowship dari the Alexander von Humboldt-Stiftung, Jerman, untuk melakukan riset di Cologne University. Selama dua tahun (2006-2008) Oman bersama keluarga tinggal di Bonn, Jerman.

Pada 2010, Oman memperoleh the Chevening Fellowship untuk melakukan riset di Universitas Oxford, Inggris. Pada 2012-2013, giliran para koleganya di Jepang, mengundang Oman sebagai visiting professor di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS).

Pada periode yang sama, koleganya di Sophia University juga mengajak Oman berkolaborasi melakukan penyelamatan dan penelitian manuskrip Melayu Islam di Marawi City, Mindanao, Filipina Selatan.

Pada 2021, ia mendapat undangan meneliti untuk kedua kalinya di Jepang, yaitu di Universitas Kyoto dan Universitas Osaka. Selain itu, ia menjadi narasumber di Prancis, Belanda, Mesir, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain.

Sejak 2017 hingga kini, Oman memimpin DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia), upaya penyelamatan manuskrip Asia Tenggara melalui digitalisasi.

Program yang bertujuan merawat keragaman agama dan budaya Asia Tenggara melalui digitalisasi manuskrip, ini adalah kerja sama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta dan the Centre for the Study of Manuscript Culture (CSMS) Hamburg University, Jerman, atas dukungan dari the Arcadia Foundation.

Dari sini, sekitar hampir setengah juta halaman manuskrip Asia Tenggara dalam berbagai bahasa dan aksara dapat diakses secara daring. Di PPIM pula, Oman turut mengelola jurnal bereputasi internasional Q1 Studia Islamika.

Oman memanfatkan media sosial dan kanal digital untuk memperkenalkan manuskrip ke publik melalui program Ngariksa (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara). Setiap Jumat pukul 20.00 dua pekan sekali, ia tampil rutin secara live streaming melalui Facebook sebagai Kang Oman untuk membacakan naskah kuno yang relevan dengan tema-tema kekinian.

Selama empat tahun terakhir, Ngariksa telah menghasilkan lebih dari 100 episode yang rekamannya dapat disimak di kanal Youtube Ngariksa TV.

Kepiawaian Oman mengkontekstualisasikan konten agama dalam bingkai budaya melalui manuskrip juga mengantarnya sebagai Pejabat Eselon I di Kementerian Agama selama 2017-2021. Di Kementerian terbesar itu, ia tak hanya berkhidmat kepada tiga menteri agama (Lukman Hakim Saifuddin, Fachrul Razi, dan Yaqut Cholil Qoumas), tapi juga mengemban empat jabatan sekaligus: Staf Ahli Menteri, Plt. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Juru Bicara Kementerian Agama, dan Ketua Pokja Moderasi Beragama.

Ia kemudian kembali ke Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, tempat ia pernah menjadi Dekan pada tahun 2014-2015. Selain itu, ia mengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok, Jawa Barat. Pesantren ini didirikan pada 1988 oleh K.H. Achmad Sjaichu.

Pada 8 Agustus 2023, Oman mendapat Penghargaan Pustaka Paripalana dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) atas jasanya dalam usaha pelestarian, penelitian, dan pemajuan naskah Nusantara di Indonesia.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 20 Juni 2024
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:58
Ashar
15:19
Maghrib
17:51
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan