LANGIT7.ID-, Jakarta- - Indonesia saat ini sedang tengah menanti pesta demokrasi lima tahunan yang akan digelar pada 14 Februari 2024. Dalam acara tersebut, rakyat akan memilih pemimpin yang dinilai bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Namun, Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Maarif (Buya Yahya), mengingatkan tentang tiga besar yang perlu dihindari saat memilih seorang pemimpin. Penunjukan pemimpin bukan hanya masalah dunia semata, tetapi juga menyangkut amanah dan keadilan.
1. Hindari Memilih Pemimpin karena Kepentingan Dunia
Buya Yahya menegaskan, dosa besar jika memilih pemimpin semata-mata karena kepentingan dunia, seperti mendukung bisnis atau proyek pribadi. Bahkan, kata dia, pemilik pondok pesantren ataupun tokoh agama akan berdosa jika memilih pemimpin karena terbuai janji duniawi, seperti janji bakal dibangunkan masjid dan sebagainya.
“Pemimpin seharusnya dipilih berdasarkan kualitas kepemimpinan, integritas, dan keadilan, bukan semata karena janji dukungan bisnis yang diberikan oleh calon pemimpin,” kata Buya Yahya melalui tausiah yang disiarkan secara daring, Rabu (7/2/2024).
Baca juga:
4 Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Jadi Imam Salat Berjamaah2. Pemilihan Pemimpin Harus Berdasarkan Kepantasan
Buya Yahya mengatakan, pemilihan pemimpin harus didasarkan pada kepantasan dan kesesuaian dengan tugas kepemimpinan. Pemimpin tidak boleh dipilih hanya karena janji manis semata. Akan tetapi, pemimpin harus dipilih karena pantas dan punya keahlian dalam memimpin sebuah negara dan bangsa.
“Tidak pantas jika seseorang dipilih hanya karena janji untuk mendukung proyek pondok atau masjid, tetapi tidak memiliki kualifikasi atau integritas yang diperlukan untuk memimpin dengan adil,” tutur Buya Yahya.
3. Berbeda Pilihan Bukan Dosa di Hadapan Allah
Buya Yahya menyampaikan, jika terjadi perbedaan pilihan dalam memilih pemimpin, hal tersebut bukan dosa di hadapan Allah. Perbedaan ijtihad dan keyakinan antarindividu dalam menilai kualitas calon pemimpin diperbolehkan.
“Yang terpenting adalah niat yang tulus karena Allah. Berbeda pilihan boleh boleh saja, asalkan dalam memilih pemimpin didasari oleh pertimbangan dan pemikiran yang matang dan kita yakini bahwa calon pemimpin tersebut adalah bagus, ingat yang penting memilih pemimpin bukan karena kepentingan pribadi,” ujar Buya Yahya.
Buya Yahya menegaskan sangat penting memilih pemimpin dengan penuh pertimbangan, integritas, dan kesadaran akan tanggung jawab agama. Memilih pemimpin yang benar-benar pantas dan berkomitmen untuk keadilan adalah langkah yang tidak hanya mendukung kepentingan dunia, tetapi juga mendapat ridha Allah.
“Sebagai umat, kita diminta untuk berijtihad dengan hati yang tulus agar pemimpin yang dipilih mampu memberikan manfaat dan keadilan bagi masyarakat,” ujar Buya Yahya.
(ori)