Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 13 April 2024
home wirausaha syariah detail berita

Kisah dan Perjuangan Pasangan Muda Membangun Rumah Sakit Syariah

tim langit 7 Senin, 11 Maret 2024 - 13:44 WIB
Kisah dan Perjuangan Pasangan Muda Membangun Rumah Sakit Syariah
Foto: istimewa
skyscraper (Desktop - langit7.id)
LANGIT7.ID-BEKASI; Kisah pasangan keluarga muda; Fathan Qaedi dan Rizqina Fadila Rosyani benar benar inspiratif. Fathan yang masih berusia 26 tahun dan istrinya, Fadila yang masih berusia 23 tahun, menorehkan prestasi yang mengagumkan. Bagaimana tidak! Di usianya yang masih muda, pasangan ini mendirikan sebuah Klinik Utama Taksim Medika berstandar syariah, di Jalan KH R.Makmun Nawawi, Cibarusah, Bekasi.

Nama Taksim, adalah sebuah alun alun yang menjadi pusat keramaian di Turki. Nama alun alun ini dijadikan nama Klinik, karena di tempat inilah awal mula pasangan muda ini bertemu. Keduanya menjalin hubungan hingga sampai ke jenjang pernikahan.

Apakah pasangan muda yang mendirikan Klinik Taksim ini punya latar belakang dokter? Ternyata tidak. Fathan adalah sarjana pertanian lulusan perguruan tinggi di Turki. Sementara Fadila sarjana psikologi. Keduanya sama sama lulusan dari universitas di Turki. Yang juga mengagumkan, Fadilah diam diam menyandang predikat Hafidzoh. Keren, psikolog sekaligus hafidzoh. Bahkan Fadila, sebelum kuliah di Turki, juga sempat belajar di Yordania. Fathan sendiri juga dikenal anak muda yang pintar. Setelah lulus SMA di Aceh, ia mendapatkan dua beasiswa di sebuah perguruan tinggi di Australia dan Turki. Kedua beasiswa itu ia ambil semua. Namun akhirnya yang ia pilih kuliah di Turki. Mungkin sudah ditakdirkan Fathan harus memilih Turki. Kalau tidak di Turki, tentu ia tidak bisa ketemu Fadila dan menjadikannya sebagai istri.

Kisah dan Perjuangan Pasangan Muda Membangun Rumah Sakit Syariah

Meskipun bukan dokter, namun Fathan dan istrinya memiliki komitmen yang kuat untuk mengabdikan hidupnya demi kepentingan masyarakat. Bagi anak muda asal Aceh ini, pengabdian kepada masyarakat sangat penting karena sebenarnya apa yang dilakukan tersebut adalah untuk membuktikan pengabdian yang sesungguhnya kepada Allah SWT.

Menurut Fathan, perjuangannya mendirikan Klinik Taksim, ia lakukan sendiri. Mulai mencari lokasi, research, mengurus perijinan, mencari dokter spesialis sampai saat pembangunan Gedung Klinik pun dilakukan sendiri. Karena fokus pada pendirian Klinik sampai sampai tidak berfikir membangun rumah tinggal lebih dulu. Urusan tempat tinggal, ia memilih kontrak rumah di dekat tempat Klinik.

Fathan merasa perjuangannya membangun Klinik mendapatkan kemudahan dan berkah yang luar biasa. Salah satu yang ia rasakan, awal mula mencari lahan yang akan dijadikan lokasi bangunan Klinik Taksim, bertemu keluarga pemilik tanah yang sudah almarhum. Namanya Haji Sugeng. Karena keluarga almarhum berada di Malang, Fathan harus mondar mandir ke Malang untuk memastikan bisa membeli lahan yang sudah diincar tersebut. Benar benar beruntung. Keluarga Haji Sugeng, yang kagum dengan perjuangan Fathan ingin mendirikan Klinik Taksim, malah tidak mengijinkan tanahnya dibeli. Justru tanahnya dipersilakan untuk dimanfaatkan. Akhirnya disepakati antara Fathan dan keluarga almarhum Haji Sugeng bekerjasama. Tanah seluas 2.084m2 milik almarhum Haji Sugeng disertakan sebagai penyertaan saham. Yang menarik, ketika ada keuntungan dari Klinik Taksim, keluarga Haji Sugeng tidak akan mengambil sepersen pun. Namun, pihak keluarga meminta agar keuntungan yang menjadi bagiannya dibagikan kepada anak anak yatim.

Kini, Klinik Taksim sudah berdiri megah tiga lantai. Juga sudah mulai beroperasi. Memiliki 20 kamar rawat inap. Salah satu kamar rawat inap VIP diberi nama almarhum Haji Sugeng. “Ini untuk penghormatan kepada almarhum,” ujar Fathan yang juga CEO Klinik Taksim. Hal unik lainnya, nama nama ruangan dan kamar rawat inap banyak menggunakan nama nama asal Turki. Ini ia lakukan karena ingin memberikan penghormatan yang besar kepada negara Turki karena telah berjasa memberikan beasiswa kepadanya. “Saya dan istri sudah bersepakat untuk membalas jasa jasa Turki yang sudah memberikan beasiswa dan banyak memberikan pelajaran dalam kehidupannya selama belajar di Turki,’’ katanya.

Kisah dan Perjuangan Pasangan Muda Membangun Rumah Sakit Syariah

Klinik yang sudah berpredikat kelas utama ini memiliki dua dokter spesialis: spesialis penyakit dalam dan spesiais anak. Untuk tahap berikutnya, Fathan sudah merencanakan menambah dokter dokter spesialis lainnnya.

Klinik Taksim memiliki standar kebersihan yang tinggi. Benar juga. Saat penulis menyaksikan Klinik Taksim, memberi kesan super clean. Menurut Fathan yang juga dibenarkan istrinya, standar kebersihan itu bagian dari sebuah peradaban. “Sebuah ciri seseorang memiliki peradaban yang tinggi, bisa dilihat dari menjaga kebersihannya,” kata Fathan. Ia menambahkan, ibarat rumah, kalau mau melihat seseorang itu berperadaban tinggi, salah satunya bisa dilihat dari kamar mandinya. Dulu, katanya, saat masih tinggal di kampung melihat peradaban masih rendah. Potret itu bisa dilihat bagaimana seseorang yang berurusan dengan “hajat pribadi” cukup lari ke sungai atau di sembarang tempat. Potret masa lalu itu, menurut dia adalah potret peradaban yang masih rendah. Kini, ketika peradaban sudah maju, tentu potret lama tidak bisa dipertahankan. “Peradaban manusia harus naik kelas,” katanya.

Setelah Kliniknya jalan, Fathan tidak mau berpangku tangan. Ia langsung tancap gas untuk mengurus akreditasi. Ia ingin menaikkan level Klinik Taksim menjadi Rumah Sakit Ibu Anak dengan predikat rumah sakit Syariah. Ia berharap tahun depan akreditasi RS Ibu Anak Syariah sudah bisa terwujud.

Saat ini Kliniknya sudah benar benar dijalankan dengan konsep Syariah. Ia memilih berhaluan Syariah, selain karena masalah prinsip, ia melihat market Syariah sedang tumbuh. Sementara Klinik atau rumah sakit Syariah masih bisa dihitung dengan jari. Ia optimistis bahwa market Syariah yang dipilih tidak keliru. Karena sekarang masyarakat muslim banyak yang ingin mendapatkan pelayanan rumah sakit yang bisa menjaga privasinya. Untuk memastikan berstandar Syariah, kliniknya telah dilakukan audit oleh Majelis Upaya Kesehatan Islami Seluruh Indonesia (MUKISI), di mana lembaga ini berada di bawah MUI.

Fathan memiliki mimpi besar. Ia dan istrinya ingin mengembangkan RS IBU Anak berstandar Syariah di wilayah Bekasi. Saat ini, rumah sakit yang memenuhi standar di Bekasi masih minim. Ia mencontohkan, pasien pasien di Muara Gembong rujukannya banyak diarahkan ke rumah sakit di Cibarusah. “Marketnya sangat besar,” katanya. Seraya menambahkan bahwa bersama istrinya, ingin memiliki banyak RS Ibu Anak dengan berstandar Syariah di setiap wilayah.

Fathan dan istrinya siap berlari kencang. Sebagai anak muda, memiliki prinsip tidak mau menyerah. Keduanya sama-sama sudah menancapkan komitmen pengabdian sejati. Karena itu, ia membangun SMILE sebagai sebuah nilai (value) dalam perjuangannya. SMILE, menurut Fathan memiliki arti “Sefty, mutu, inovatif, luwes dan empati”. Ia optimistis ketika value itu diterapkan secara disiplin, maka akan lebih mudah dalam menghadapi kompetisi di market. Masyarakat diyakini semakin confident dengan memanfaatkan rumah sakitnya untuk berikhtiar mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik



(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 13 April 2024
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:57
Ashar
15:14
Maghrib
17:56
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan