LANGIT7.ID-, Jakarta- - Itikaf memiliki arti sebagai berdiam diri di masjid dalam suatu waktu dengan melakukan ibadah-ibadah tertentu untuk mengharapkan ridha Allah Ta'ala.
Imam Nawawi, yang disepakati Asy-Syarbini dan Al-Kauhaji dalam kitab "Mughni Al Muhtaji dan Zaadul Muhtaji", mendefinisikan itikaf dengan menetapnya seorang dalam masjid dengan disertai niat khusus.
Dalam buku "Itikaf Penting dan Perlu", disebutkan itikaf adalah ibadah dan cara paling utama untuk bertaqqarub dengan Allah SWT. Adapun dalil disyariatkannya itikaf adalah firman Allah SWT:
وَاِذۡ جَعَلۡنَا الۡبَيۡتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمۡنًا ؕ وَاتَّخِذُوۡا مِنۡ مَّقَامِ اِبۡرٰهٖمَ مُصَلًّى ؕ وَعَهِدۡنَآ اِلٰٓى اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ اَنۡ طَهِّرَا بَيۡتِىَ لِلطَّآٮِٕفِيۡنَ وَالۡعٰكِفِيۡنَ وَالرُّکَّعِ السُّجُوۡدِ
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!" (Al-Baqarah: 125).
Baca juga:
Imam Besar Masjid Istiqlal Sebut Paus Fransiskus Akan Berkunjung Ke IstiqlalItikaf dianjurkan dilakukan pada bulan Ramadhan, khususnya 10 hari terakhir. Seperti dilakukan Rasulullah SAW.
Dari Ibnu Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw selalu beri‘tikaf pada sepuluh hari yang penghabisan di bulan Ramadan.” (Muttafaq ‘Alaih).
Dalam hadis lain disebutkan: “Bahwa Nabi saw melakukan i’tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Muslim).
Keutamaan Itikaf pada Bulan Ramadhan
Keutamaan dari itikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan adalah untuk meraih lailatul qadar, malam yang dimuliakan Allah SWT.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, lailatul qadar merupakan malam yang didambakan seluruh umat Islam di dunia. Pada malam ini, setiap amalan akan diganjar seolah-olah dikerjakan selama seribu bulan.
“Menghidupkan ibadah menggapai lailatul qadar bisa di awal waktu atau di akhir waktu, tidak ada ketentuan, namun diutamakan di akhir waktu,” kata Buya Yahya dalam kajian Ramadhan, dikutip Jumat (29/3/2024).
Maka itu, kata dia, umat Islam tidak sepatutnya memilih-milih hari atau waktu untuk memperbanyak ibadah. Jika memperbanyak ibadah sejak awal Ramadhan, atau setidaknya 10 terakhir Ramadhan, maka sudah pasti mendapatkan lailatul qadar.
Buya Yahya menegaskan, siapapun yang memperbanyak ibadah untuk mencapai lailatul qadar, maka dia akan mendapatkannya. Sekalipun dia menemui lailatul qadar dan tidak sadar telah mendapatkan kemuliaan itu.
“Tidak harus di masjid, bisa di rumah. Jangan sampai karena tidak ke rumah Anda tidak membuat dan mendapatkan kebaikan. Bagi perempuan yang di rumah sementara suami di masjid, jangan mau ketinggalan, bangun perbanyak istighfar mohon ampun dan ibadah malam,” ungkap Buya Yahya.
Tata Cara I’tikaf
Mengutip buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-Hari dari Kandungan hingga Kematian karya Dr. Muh. Hambali, tata cara i’tikaf bisa dilakukan seperti berikut:
1. Membaca Niat I’tikaf
Niat i’tikaf harus ditentukan sebelum melakukan i’tikaf. Apabila dilakukan karena nazar, mazhab Syafi’i mensyaratkan untuk manta’yin’menentukan niat.
Namun, bila dilakukannya pada 10 malam terakhir Ramadhan, maka bacaan niatnya:
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ
“Aku berniat i’tikaf di masjid ini, sunnah karena Allah Ta’ala.”
2. Berdiam Diri di Masjid
Itikaf adalah berdiam diri di dalam masjid. Namun, bukan hanya diam, tapi sambil memperbanyak dzikir, tafakkur, membaca tasbih, dan diutamakan untuk banyak membaca Al-Qur’an. Bisa juga memperbanyak shalat sunnah di masjid.
3. Taqarub Ilallah
Taqarub Ilallah adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbanyak amalan, berdoa dan merefleksi kesalahan yang diperbuat.
(ori)