Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 17 April 2024
home edukasi & pesantren detail berita

Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 10)

nabil Sabtu, 30 Maret 2024 - 04:29 WIB
Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 10)
skyscraper (Desktop - langit7.id)


LANGIT7.ID-, Jakarta- - Selain percaya kepada hari akhir, manusia bertakwa juga senantiasa berorientasi pada kehidupan akhirat dibandingkan kehidupan dunia. Sebab Kehidupan dunia hanyalah ujian sementara untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di akhirat.

Allah berfirman dalam surah An-Nisa [4]: 77.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيلًا

Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun." (Qs. An-Nisa [4]: 77)

Ayat tersebut mengandung maksud agar manusia yang bertakwa lebih berorientasi kehidupan akhirat dibandingkan dengan kehidupan dunia. Di dalam Alquran, kata akhara (آخر) dan enam kata bentukannya disebutkan sebanyak 250 kali. Akhara 70 kali, akhiri/akhirati 155 kali, akh-khara 15 kali, taakh-khara tiga kali, musta'khirin satu kali, dan yasta'khirun enam kali.

Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami lima hal terkait dengan akhirat. Pertama, secara bahasa al-akhirat berarti al- aqsha sesuatu yang jauh, baik dari sisi jarak maupun waktu. Masjid al-Aqsha dalam surah Al-Isra [17]:1 dapat dipahami dengan masjid yang jauh. Menurut para ahli tafsir, Masjid al- Aqsha terletak di Baitul Maqdis, Yerussalem, Palestina. Jarak Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha sekitar 1.461 km. Sesuatu yang dekat disebut al-dunia. Allah Swt. menghiasi langit yang dekat al-sama al-dunia) dengan bintang-bintang dan menjadikannya untuk pelempar setan (Qs. Al-Mulk [67]: 5).

Kedua, al-akhirat bisa juga dimaknai orientasi kehidupan jangka panjang atau jauh ke masa depan (future orientation) bukan orientasi kehidupan jangan pendek (immediate orientation). Orientasi kehidupan ke masa depan paling tidak memiliki tiga pengertian. Pertama, memperkirakan hal- hal yang akan terjadi di masa depan atau jangka panjang. Sekarang ini para ahli masa depan (futurolog) banyak menulis bagaimana keadaan dunia pada tahun 2100: bagaimana keadaan alam semesta, berapa penduduk dunia, bagaimana gaya hidup dan budayanya, dst.

Prediksi masa depan itu didasarkan atas analisis ilmiah dari berbagai disiplin ilmu. Kedua, membuat proyeksi: merencakan dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Ketiga, melakukan langkah-langkah strategis bagaimana prediksi-prediksi itu tidak terjadi atau bagaimana bisa bertahan jika prediksi itu terjadi.

Sebagai contoh, para ahli lingkungan hidup memperki- rakan bahwa pada tahun 2100 suhu dunia akan meningkat rata-rata 5 derajat celcius. Jika hal itu terjadi, es yang di kutub utara akan mencair dan permukaan laut akan pasang.

Beberapa bagian akan mengalami banjir abadi (tergenang air laut) dan beberapa negara akan tenggelam. Akibat genangan air laut, banyak species akan mati, pertanian akan gagal karena kadar garam dalam air tanah sangat tinggi. Manusia mengalami ancaman krisis pangan. Jika suatu negara tenggelam, peta dunia akan berubah dan mungkin saja terjadi krisis politik, dst. Bagaimana agar prediksi tersebut tidak terjadi? Manusia sekarang sudah melakukan berbagai langkah menyela- matkan dunia dengan membangun budaya ramah lingkungan, mengembangkan alternatif energi, dsb.

Ketiga, orientasi akhirat berarti berpikir sebab akibat dalam setiap perbuatan. Alquran melarang manusia hidup boros dan memerintahkan hidup hemat sebagai antisipasi masa depan dengan menabung dan berinvestasi. Kisah Nabi Yusuf a.s. tentang tujuh ekor sapi gemuk dimakan tujuh ekor sapi kursus (QS. Yusuf [12]: 46-50) adalah contoh bagaimana Alquran mengajarkan investasi. Alquran memperingatkan agar manusia memperhatikan makanannya.

Peringatan itu berisi tiga pesan: agar manusia mengingat Allah Swt. sebagai Tuhan yang menciptakan makanan, bagaimana proses memperoleh makanan, dan agar manusia memperhatikan akibat dari makanan yang dikonsumsinya. Sehat atau sakit, sebagian ditentukan dari makanan.

Keempat, orientasi akhirat mengandung prinsip optimistis bahwa masa depan itu harus lebih baik dari masa lalu dan masa kini. Allah Swt. berfirman di dalam surah adl- Dluha [93]: 4.

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأَوْلَى

Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia). (Qs. adl-Dluha [93]: 4)

Ayat tersebut dapat dimaknai secara tekstual bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dari kehidupan dunia (al- ula). Dalam pengertian lain dapat ditakwilkan bahwa masa depan kehidupan manusia, anak-cucu, generasi masa depan harus lebih baik dari generasi terdahulu. Generasi mendatang harus lebih maju sehingga harus dipersiapkan dengan pendidikan yang terbaik, lingkungan hidup yang sehat, mental-spiritual yang kuat, dsb.

Kelima, al-akhirat berarti sesuatu yang bersifat spiritual, bukan sesuatu yang bersifat material (duniawi). Alquran menjelaskan bahwa sesuatu yang bersifat spiritual bersifat abadi. Sebaliknya, sesuatu yang bersifat material, bersifat sementara, penuh tipu daya dan fatamorgana. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal, abadi:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (Al-A'la [87]: 17)

Meskipun demikian, walaupun bersifat sementara, rusak, dan binasa, sesuatu yang bersifat duniawi dan material bukanlah tidaklah penting. Di dalam Alquran terdapat doa kaum beriman yang meminta kebahagiaan dunia dan akhirat.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Di antara mereka ada juga yang berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka." (Qs. Al-Baqarah [2]: 201)

Dalam beberapa kitab tafsir disebutkan yang dimaksud dengan hasanah fi al-dunia adalah kebahagiaan (al-saadah) yang meliputi rezeki yang berlimpah, sehat jasmani dan rohani, memiliki keluarga yang salih-salihah, dan tercapainya cita-cita. Sedangkan kebahagiaan akhirat adalah selamat dari siksa, masuk surga, dan mendapatkan ridla Allah Swt.

Alquran tidak mempertentangkan kehidupan dunia dengan akhirat, tetapi justru memerintahkan agar men- jadikan anugerah Allah Swt. berupa kehidupan duniawi untuk kehidupan akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَا أَتْكَ اللهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash [28]: 77)

Karena itu, manusia yang berorientasi kehidupan akhirat tidak menghamburkan hartanya untuk kehidupan duniawi belaka, tetapi menjadikannya untuk bekal kehidupan akhirat.

وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ

Takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusannya tidak diterima, syafaat tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong. (Qs. Al-Baqarah [2]: 123)

Manusia yang berorientasi akhirat berusaha mengisi waktu dan kesempatan dengan berbuat baik, tidak menunda- nunda pekerjaan. Di dalam Hadis yang diriwayatkan Imam Hakim dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah. bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وصِحْتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوتِكَ

Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum fakir, sempat sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.

Allahu 'Alam

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 17 April 2024
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan