Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 14 Juni 2024
home edukasi & pesantren detail berita

Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 21)

nabil Ahad, 21 April 2024 - 12:11 WIB
Dari Buku Prof.Dr. Abdul Mu'ti Menjadi Manusia Bertakwa (Seri 21)


LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di dalam Alquran terdapat beberapa ayat tentang perintah bertakwa yang dikaitkan dengan perintah berkata yang benar. Di antaranya adalah surah an-Nisa [4]:9 dan surah al-Ahzab [33]: 70-71.

لا يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab [33]: 70)

Dalam Al-qur'an dan Tafsirnya yang diterbitkan Departemen Agama dijelaskan gaulan sadida terdiri atas dua kata qaul yang berarti perkataan atau pernyataan dan sadida yang berarti tepat atau benar. Allah Swt. memerintahkan ma- nusia yang beriman agar bertakwa dan berkata yang benar, selaras antara yang diniatkan dan diucapkan karena setiap selaras antara yang diniatkan dan diucapkan karena setiap perkataan dicatat oleh Malaikat Raqib a.s. dan Atid a.s. serta harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Muhammad As'ad dalam The Message of The Qur'an (1984: 652) menerjemahkan takwa dengan conscious of God: senantiasa sadar dan mengingat Allah Swt. Sedangkan gaulan sadida berarti berbicara, menyampaikan maksud dengan jujur dan benar. Menyampaikan sesuatu kepada orang secara terbuka, tidak ada yang disembunyikan, tidak menimbulkan kecurigaan, atau menyindir. Tidak ada niat lain dalam berbicara kecuali menyampaikan kebenaran. Karena manusia menyadari bahwa Allah Swt. Maha Mendengar, maka manusia akan selalu berkata yang benar, apa adanya, blak-blakan, tidak berpura-pura. Dalam konteks ini, berkata yang benar merupakan ekspresi atau perwujudan dari sikap takwa.

Pada ayat lain (Qs. An-Nisa [4]: 9) perintah bertakwa dan berkata yang benar dikaitkan dengan peringatan agar manusia tidak meninggalkan keturunan yang lemah.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعْفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيدًا

Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya). (Qs. An-Nisa' [4]: 9)

Ayat tersebut disebutkan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan tentang bagaimana memelihara anak yatim. Hendaknya wali (pengasuh anak yatim) memelihara dengan penuh kasih sayang, tanggung jawab, berkata yang baik (qaulan ma'rufa), lemah lembut, dan menjaga harta mereka dengan sebaik-baiknya. Larangan meninggalkan keturunan yang lemah mengandung perintah agar manusia meninggalkan generasi yang kuat.

Dalam konteks ayat-ayat tersebut, Alquran memberikan formula bagaimana membangun generasi yang kuat. Pertama, memberikan nafkah dan harta yang cukup. Kedua, melindungi dan memberikan kasih sayang sehingga anak-anak memiliki rasa percaya diri (confidence) dan tidak rendah diri (inferior) sebagai dasar membangun mental yang kuat. Ketiga, bersikap terbuka dan jujur baik kepada diri sendiri maupun kepada anak-anak sebagai dasar membangun sikap keberanian. Manusiawi yang bertakwa kepada Allah Swt. senantiasa welas asih, kasih sayang kepada kaum yang lemah, jujur, terbuka, menepati janji, memegang teguh amanah, dan bertanggung jawab.

Dalam pepatah bahasa Indonesia disebutkan: mulutmu harimaumu. Dalam Bahasa Arab:

سَلَامَةُ الْإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ

Keselamatan manusia tergantung pada menjaga lisan.

Dalam budaya Jawa, harta dan martabat manusia dinilai dari bagaimana ia berbicara: ajining raga ana ing busana, ajining diri ana ing lathi (kehormatan fisik tergantung busana, kehormatan diri tergantung tutur kata).

Bagaimana manusia berbicara merupakan parameter kualitas diri dan keunggulan budi. Alquran memerintahkan agar manusia bertutur kata yang mulia, bermakna, benar, bijak, dan sebagainya. Dalam berbagai konteks, Alquran menggunakan beragam istilah yang menunjukkan betapa pentingnya bertutur kata dan berbicara. Kata qaul yang berarti perkataan, ujaran, atau pembicaraan dikaitkan dengan hal yang baik dan yang tidak baik.

Beberapa ungkapan yang pengertian positif adalah qaulan ma'rufa yang berarti perkataan yang baik (Qs. Al-Baqa- rah [2]: 235, 263). Di dalam Alquran surah Al-Baqarah [2]: 263 disebutkan bahwa perkataan yang baik dan memberkati ampunan itu lebih baik dibandingkan dengan sedekah yang diikuti caci maki. Berikutnya adalah qaulan karima: tutur kata yang mulia, santun (Qs. Al-Isra [17]: 23) yang dikaitkan dengan akhlak berbicara kepada orang tua.

Qaulan maisura: berkata yang lemah lembut (Qs. Al-Isra [17]: 28) disebutkan dalam konteks berdakwah mengajak manusia agar hidup hemat, tidak boros. Qaulan layyina: bertutur kata, berdiplomasi yang tegas (Qs. Thaha [20]: 44) dikaitkan dengan perintah Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. agar mengingatkan Firaun supaya menghentikan kekejaman kepada rakyatnya.

Qaulan tsaqila: perkataan yang berat yaitu Alquran (Qs. Al-Muzammil [73]: 5), dan qaul al-tsabit: perkataan yang teguh atau kokoh yaitu kalimat tauhid (Qs. Ibrahim [14]:27), dll. Perkataan yang mengandung pengertian tidak baik antara lain gaulan adzima (Qs. Al-Isra [17]:40): perkataan yang mengandung dosa besar yaitu menyatakan bahwa Allah Swt. mempunyai anak para malaikat yang digambarkan sebagai perempuan. Termasuk qaul dalam pengertian negatif adalah qaul al-zur (perkataan yang sia-sia, tidak berfaidah) yang disebutkan di dalam Hadis tentang puasa.

Di dalam Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari r.a. dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةً فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta (sia-sia) dan dia melakukan serta berbuat bodoh, maka Allah Swt. tidak akan menerima puasanya; tidak makan dan minum.

Berkata benar, berkata apa adanya (jujur), menepati janji, dan bertanggung jawab merupakan ekspresi dan aktualisasi ketakwaan. Takwa dan kejujuran berhubungan sangat erat. Karena itu, Alquran memerintahkan kaum beriman untuk bertakwa kepada Allah Swt. dan bergaul dengan orang- orang yang jujur. Di dalam surah at-Taubah [9]: 119, Allah Swt. berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصُّدِقِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar! (Qs. At-Taubah [9]: 119)

Kejujuran adalah pangkal kebajikan. Sebaliknya, dusta adalah pangkal kejahatan. Dalam sebuah Hadis yang diriwa- yatkan Imam Bukhari r.a., Muslim r.a., dan Tirmidzi r.a. dari Abdullah r.a., bahwasanya Rasulullah bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرِّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرِّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Kamu harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.

Banyak masalah sosial terjadi karena perkataan yang menyakiti hati, kebohongan (hoaks), penyesatan informasi (disinformation), ujaran kebencian (hate speech), dan perkataan jahat lainnya. Persahabatan rusak karena perkataan yang tidak bijak. Konflik sosial merebak karena provokasi kebencian (hate splinter).

Dengan senantiasa berkata benar seorang akan dipercaya. Kepercayaan adalah kunci kesuksesan. Perkataan yang benar juga merupakan suluh yang menerangi dan memberikan secercah harapan jalan kebenaran, kebaikan, dan keselamatan.

Allahu 'alam.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 14 Juni 2024
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:57
Ashar
15:17
Maghrib
17:49
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan