LANGIT7.ID-, Jakarta- - Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, shalat menjadi momen yang sangat intim antara hamba dan Penciptanya. Tidak jarang, kekhusyukan dalam ibadah ini memunculkan emosi yang mendalam, termasuk tangisan. Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap fenomena menangis saat shalat ini?
Buya Yahya, seorang ulama terkemuka, memberikan pencerahan mengenai topik ini dalam sebuah kajian yang menarik perhatian banyak kalangan. Beliau menegaskan bahwa menangis saat shalat, selama bukan merupakan rekayasa, justru merupakan anugerah yang patut disyukuri.
"Tangisan dalam shalat adalah tanda ketulusan," ujar Buya Yahya dilansir dari kanal YouTube Al Bahjah, dikutip Kamis (22/8/2024).
Dia melanjutkan "Ini menunjukkan kedekatan hati dengan Allah, entah karena tersentuh oleh ayat-ayat yang dibaca atau kesadaran akan dosa-dosa yang pernah diperbuat."
Meski demikian, Buya Yahya mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tangisan tidak membatalkan shalat. Yang utama adalah menjaga agar air mata tidak tertelan. "Jika air mata masuk ke mulut dan tertelan, shalat bisa menjadi batal," jelasnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Buya Yahya menyarankan beberapa langkah praktis. "Jika dirasa perlu, air mata boleh diseka. Namun, hindari melakukannya dengan tiga gerakan berturut-turut, karena itu bisa membatalkan shalat," tambahnya.
Bagi mereka yang sering mengalami hal ini, Buya Yahya menawarkan solusi yang unik namun praktis. "Penggunaan sorban di leher bisa menjadi alternatif untuk menyeka air mata. Sorban ini bisa dijemur setelah digunakan dan dipakai kembali, mengingat air mata bukanlah najis," sarannya.
Lebih jauh, Buya Yahya menekankan pentingnya memaknai tangisan dalam shalat. "Jika tangisan itu karena Allah, jadikanlah sebagai momentum untuk lebih takut akan dosa dan berusaha menjauhinya," ujarnya. "Dan jika karena teringat kesalahan pada sesama, segeralah meminta maaf dengan tulus seusai shalat."
Fenomena menangis dalam shalat ini mengingatkan kita akan kedalaman spiritual yang bisa dicapai dalam ibadah. Namun, sebagaimana ditekankan oleh Buya Yahya, penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara kekhusyukan dan kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah.
Pada akhirnya, yang terpenting adalah niat dan ketulusan hati dalam menghadap Allah. Tangisan dalam shalat, jika memang muncul secara alami, bisa menjadi tanda kedekatan dengan Sang Pencipta. Namun, kita juga diingatkan untuk tetap menjaga aspek-aspek teknis shalat agar ibadah kita tetap sah dan diterima.
Semoga pembahasan ini bisa menjadi pencerahan bagi kita semua dalam menjalani ibadah dengan lebih khusyuk dan penuh makna.
(lam)