LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Jeje Zaenuddin mengajak masyarakat menghindari perayaan tahun baru 2022 dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya atau sekadar hura-hura. Pergantian tahun sebaiknya diisi dengan muhasabah
"Patut disayangkan jika setiap momen pergantian waktu satu tahun, yang terpikir banyak orang hanya masalah perayaan, pesta, dan kegembiraan-kegembiraan lainnya yang hampa dari evaluasi diri,” kata Kiai Jeje kepada
Langit7.id, Kamis (30/12/2021).
Menurut dia, segala bentuk perayaan, pesta pada tahun baru adalah kegiatan yang tidak layak manakala kita minim prestasi hidup bahkan sebaliknya bergelimang dengan dosa. Sepatutnya, manusia memperbanyak mengingat kematian karena bergantinya tahun berarti berkurangnya jatah hidup dan semakin dekatnya ajal.
Baca Juga: Tiga Mindset Sederhana Sambut Tahun Baru dengan Semangat Positif"Bagi orang beriman bergantinya tahun berarti peringatan jatah umurnya di dunia telah berkurang satu tahun," katanya.
Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) mengajak menjadikan momen pergantian tahun untuk mengevaluasi diri. Kemudian memperbaiki kualitas hidup sebagai pribadi, kekuarga, umat, maupun sebagai bangsa.
Baca Juga: Penghujung Tahun 2021, Istiqlal Gelar Muhasabah dan Qiyamul LailBerbagai kesalahan, kekurangan, dosa dan kemaksiatan yang dilakukan sepanjang tahun 2021 harus mampu diperbaiki pada 2022. Sehingga terjadi kekeliruan yang sama di tahun depan.
"Cukup sudah segala penderitaan, musibah dan malapetaka yang menimpa kita sepanjang 2021 menjadi pelajaran yang berharga bagi kita untuk lebih bersyukur atas segala karunia, bersabar dalam mengatasi segala cobaan, serta bekerja keras dalam mewujudkan kebajikan hidup di antara sesama umat manusia," imbuhnya.
Baca Juga: Ustadz Fadlan: Melupakan Allah, Bencana Terbesar Umat Manusia(zhd)