Al-Quran menantang setiap generasi untuk berpikir. Namun, mengaitkan wahyu dengan sains memerlukan ketelitian: hanya fakta ilmiah yang mapan yang boleh menjadi pijakan tafsir, bukan teori yang masih labil.
Dari teori jagat mengembang hingga rahasia klorofil, Al-Quran membuktikan diri tidak bertentangan dengan sains. Quraish Shihab membedah bagaimana wahyu menjadi inspirasi riset masa depan.
Sains modern kerap terjebak pada dunia materi. Quraish Shihab menawarkan rekonstruksi ilmu lewat Al-Quran yang menyatukan fakta empiris dengan realitas metafisika demi kebahagiaan manusia.
Ilmu pengetahuan bergerak dari satu keyakinan ke keyakinan lain. Ia berubah, mengoreksi diri, dan tak pernah kekal. Lalu, di mana posisi wahyu yang absolut di tengah sains yang serba sementara?
Falsafah Islam lahir dari perjumpaan terbuka antara Muslim Arab dan peradaban lama. Dalam iklim toleransi dan percaya diri, ilmu Yunani, Persia, dan India diserap menjadi fondasi peradaban intelektual Islam.
Dalam pandangan Al-Quran, larangan atas makanan bukan sekadar soal gizi atau bahaya medis. Ia adalah ajaran tentang ketaatan, kebersihan jiwa, dan kesadaran spiritual manusia dalam menata hubungan dengan Tuhan.
Dari Leiden hingga Batavia, pengetahuan tumbuh di bawah bayang-bayang kuasa. Di tangan kolonial, ilmu bukan lagi jalan memahami, melainkan alat menundukkan dunia yang tak pernah mereka pahami sepenuhnya.
Dari arsip Leiden hingga benteng Batavia, pengetahuan Eropa tentang Islam tumbuh tanpa empati. Naskah dikaji, bahasa dipelajari, tapi ruh Nusantara tetap asing di mata penjajahnya.
Dari Leiden ke Mekah, Christiaan Snouck Hurgronje menjelma dari ilmuwan muda menjadi arsitek pengetahuan kolonial. Ia membela Islamtapi demi memahami, mengatur, dan menjaga kekuasaan Belanda di Hindia.
Pada 1812, Inggris menjarah Keraton Yogyakarta. Bukan cuma emas yang dibawa, tapi juga makna. Di tangan kolonial, manuskrip Islam Nusantara berubah jadi artefak, bukan warisan ilmu.
Dari jalan raya Daendels hingga rak-rak Leiden, naskah Islam Nusantara berpindah tangan di bawah bayang kolonialisme. Pengetahuan lahir, tapi juga menyimpan jejak penjarahan dan kuasa.
Sejak wahyu pertama, Al-Quran menolak semboyan ilmu demi ilmu. Tujuannya jelas: ilmu harus bermakna ibadah, demi Allah, dan untuk kesejahteraan seluruh makhluk.
Quraish Shihab menyebut ilmu laksana kepompong: bisa melindungi, bisa juga membinasakan. Semua bergantung pada bingkai nilai yang manusia pilih untuk menuntunnya.