Prof Bambang Setiaji menilai ekonomi bagi hasil berbasis transparansi dapat menjadi solusi mengatasi gejolak rupiah, aset mangkrak, kemacetan perbankan, dan ketergantungan pada ekonomi spekulatif.
Aksi BEM UI dengan Panca Tuntutan Rakyat memicu perdebatan soal APBN, harga kebutuhan pokok, MBG, hingga militerisme. Prof Bambang Setiaji menilai dialog menjadi jalan terbaik mencari titik temu.
Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Bambang Setiaji menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dinegosiasikan agar tekanan fiskal negara berkurang. Menurutnya, bantuan gizi sebaiknya lebih fokus kepada anak yang benar-benar membutuhkan.
Ekonomi Idul Adha bisa menjadi cermin kondisi ekonomi masyarakat. Prof Bambang Setiaji menjelaskan hubungan jumlah peserta kurban, pertumbuhan ekonomi, daya beli keluarga, investasi, hingga tantangan industrialisasi Indonesia.
Prof Bambang Setiaji menilai rakyat kecil bisa dilindungi dari gejolak dolar jika pemerintah fokus menjaga harga pangan, energi, dan memperkuat kebijakan subsidi serta instrumen ekonomi syariah.
Prof Bambang Setiaji menyoroti penyebab dunia Islam tertinggal. Ia menilai Muhammadiyah dan Iran menjadi bukti Islam kompatibel dengan kemajuan sains, teknologi, dan industri modern.
Gagasan blockchain untuk 80.000 Koperasi Merah Putih dinilai bisa menghubungkan jutaan anggota, memperkuat transaksi, efisiensi modal, dan menekan potensi korupsi.
Bambang Setiaji ungkap tren kenaikan jamaah umrah seiring pertumbuhan GDP per kapita, menunjukkan penguatan ekonomi kelompok menengah syariah di tengah dinamika ekonomi Indonesia.
Prof Bambang Setiaji: upah sektor informal terus merosot di bawah 70% UMR, sementara elite menikmati layanan murah. Ekonomi tumbuh seimbang, tapi dalam kondisi yang sakit.
Analisis Prof. Dr. Bambang Setiaji mengenai tekanan fiskal RI: Beban utang mencapai 37%, tantangan program MBG, hingga urgensi penguatan sektor swasta dan industri untuk menghindari stagnasi ekonomi.
Pengeluaran subsidi dan bansos jadi sorotan di tengah tekanan harga minyak dan utang negara. Simak analisis pertarungan ekonomi konvensional vs ekonomi kerakyatan serta dampaknya bagi masyarakat bawah.
Prof. Dr. Bambang Setiaji mengulas daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global. Meski rentan terhadap kenaikan harga BBM, ekonomi nasional dinilai memiliki kelenturan untuk pulih berkat basis konsumsi yang kuat.