Indonesia terancam mengalami deindustrialisasi dini saat ekonomi jasa tumbuh pesat. Prof Bambang Setiaji mengungkap bahaya transformasi ekonomi dan pentingnya AI.
Lebih dari 2.000 perguruan tinggi swasta disebut terancam kolaps di tengah meningkatnya jumlah mahasiswa. Benarkah kebijakan pemerintah justru menekan PTS, UMKM, hingga usaha rakyat? Simak analisis lengkap Prof. Bambang Setiaji.
Pendidikan Indonesia tak bisa hanya bergantung pada negara. Opini ini mengajak pemerintah memperkuat kolaborasi dengan masyarakat, pesantren, sekolah swasta, dan lembaga wakaf demi mewujudkan pendidikan bermutu yang berkelanjutan.
Prof. Dr. Bambang Setiaji menyoroti efek crowding out dalam kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai berpotensi mendesak UMKM. Ia mendorong regulasi agar program pemerintah bersinergi dengan usaha rakyat, bukan menjadi pesaing.
Guru Besar Bambang Setiaji menilai kolaborasi pemerintah dengan Muhammadiyah, NU, dan sektor swasta menjadi kunci mendorong inovasi, pendidikan, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pergerakan dolar AS terhadap rupiah dinilai masih dalam tren historis normal. Simak analisis Prof. Bambang Setiaji tentang USD, krisis 1998, hingga perbandingan investasi dolar, deposito, dan emas.
Prof Bambang Setiaji mengusulkan perguruan tinggi lebih terbuka terhadap penggunaan AI dalam karya ilmiah dan pembelajaran, dengan fokus pada inovasi, kejujuran akademik, serta efisiensi pendidikan.
Prof Bambang Setiaji menilai ekonomi bagi hasil berbasis transparansi dapat menjadi solusi mengatasi gejolak rupiah, aset mangkrak, kemacetan perbankan, dan ketergantungan pada ekonomi spekulatif.
Aksi BEM UI dengan Panca Tuntutan Rakyat memicu perdebatan soal APBN, harga kebutuhan pokok, MBG, hingga militerisme. Prof Bambang Setiaji menilai dialog menjadi jalan terbaik mencari titik temu.
Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Bambang Setiaji menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dinegosiasikan agar tekanan fiskal negara berkurang. Menurutnya, bantuan gizi sebaiknya lebih fokus kepada anak yang benar-benar membutuhkan.
Ekonomi Idul Adha bisa menjadi cermin kondisi ekonomi masyarakat. Prof Bambang Setiaji menjelaskan hubungan jumlah peserta kurban, pertumbuhan ekonomi, daya beli keluarga, investasi, hingga tantangan industrialisasi Indonesia.
Prof Bambang Setiaji menilai rakyat kecil bisa dilindungi dari gejolak dolar jika pemerintah fokus menjaga harga pangan, energi, dan memperkuat kebijakan subsidi serta instrumen ekonomi syariah.
Prof Bambang Setiaji menyoroti penyebab dunia Islam tertinggal. Ia menilai Muhammadiyah dan Iran menjadi bukti Islam kompatibel dengan kemajuan sains, teknologi, dan industri modern.