Perbedaan awal puasa bukan sekadar persoalan teknis informasi, melainkan perdebatan teologis dan astronomis tentang mathla yang telah berlangsung selama empat belas abad dalam sejarah Islam.
Meneladani perilaku Rasulullah di bulan Ramadhan merupakan kunci kebahagiaan lahir batin. Penentuan awal puasa melalui hilal dan larangan puasa hari syak menjadi fondasi penting ibadah ini.
Ketika alam menutup pandangan mata terhadap hilal, Islam memberikan kepastian hukum melalui metode penyempurnaan bilangan bulan Syaban menjadi tiga puluh hari guna menjaga validitas ibadah umat.
Perdebatan klasik di kalangan ulama dunia mengenai jumlah saksi hilal menunjukkan kedalaman ijtihad Islam. Antara kesaksian tunggal dan ganda, integritas menjadi kunci utama penentu awal ibadah.
Empat madzhab besar sepakat menanggalkan metode hisab demi pengamatan mata telanjang. Integritas saksi menjadi kunci utama, dengan standar ganda yang membedakan awal ibadah dan akhir Ramadhan.
Penganut Madzhab Hanbali mengedepankan prinsip ihtiyath dengan menerima kesaksian satu orang untuk awal puasa, namun memperketat syarat menjadi dua saksi saat menetapkan jatuhnya Idul Fitri.
Madzhab Maliki mengedepankan keamanan informasi dari kebohongan massal dan kesaksian individu adil untuk menetapkan awal Ramadhan, sebuah mekanisme hukum demi menjamin validitas ibadah umat.
Madzhab Hanafi menerapkan standar ganda yang ketat dalam penentuan hilal: kesaksian massal saat langit cerah demi akurasi, dan kepercayaan pada individu adil saat mendung menghalangi pandangan.
Menimbang fatwa Ibnu Taimiyah dan Al-Albani tentang urgensi keseragaman puasa demi menghindari perpecahan sosial di tengah perbedaan metode rukyah dan penglihatan individu.
Syaikh Bin Baz menekankan pentingnya persatuan umat dalam memulai dan mengakhiri puasa. Ketaatan pada otoritas setempat menjadi kunci, meski harus menelan lapar lebih lama dari hitungan bulan biasanya.
Menentukan awal Ramadhan dan Syawwal bukan sekadar soal tajamnya penglihatan, melainkan tentang standar hukum yang membedakan antara pintu masuk dan pintu keluar sebuah ritual besar umat Islam.
Di balik hiruk-pikuk penentuan awal Ramadhan, tersimpan mandat teologis yang meletakkan penglihatan manusia sebagai penentu utama mulainya ritual suci di bawah bayang-bayang cakrawala.