Ketika Madinah lumpuh oleh duka dan ancaman pedang Umar bin Khattab, Abu Bakr hadir membawa ketenangan nalar. Pidatonya memulihkan kesadaran umat: Muhammad adalah manusia, namun Tuhan tetap abadi.
Madinah berguncang saat kabar kematian Rasulullah tersiar. Di tengah histeria dan ancaman pedang Umar bin Khattab yang menolak kenyataan, umat Islam menghadapi ujian eksistensial pertama mereka.
Mukjizat Nabi Muhammad tidak tampil sebagai keajaiban sesaat. Al-Quran menghadirkan bukti yang bekerja lintas zaman: keindahan bahasa, presisi redaksi, dan keseimbangan makna yang terus diuji nalar manusia.
Di balik narasi besar sejarah Islam, perempuan pada masa Nabi bukan hanya pendamping, tetapi penggerak: pengasuh, pelindung, pedagang, mediator politik, hingga perawi ilmu yang membentuk fondasi peradaban.
Pertanyaan tentang asal-usul Nabi Muhammad kembali mengemuka. Qardhawi menimbangnya dengan pisau hadis dan akal sehat: kemuliaan Nabi tak lahir dari mitos penciptaan, melainkan dari akhlak dan risalahnya.
Seratus kali dalam sehari. Begitulah Nabi Muhammad bertobat, menurut sebuah hadis sahih. Bukan tanda cela, melainkan contoh spiritual: bahwa kedekatan dengan Tuhan lahir dari kesadaran diri yang tak pernah selesai.
Nabi Muhammad saw. menjahit sandalnya, Umar belajar dari istrinya, dan Zainab bersedekah untuk keluarga. Rumah tangga adalah ladang kolaborasi, bukan dominasi.
Sejak awal, Islam tegak bukan hanya di atas doa dan pedang, tapi juga kekuatan harta. Dari Utsman bin Affan hingga Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi menunjukkan: kaya itu wajib dijalankan sebagai dakwah.
Satu pengaduan perempuan mengguncang tradisi jahiliyah. Kisah Khawlah binti Tsalabah menjadi bukti suara perempuan diabadikan dalam Al-Quran. Berikut ini penjelasannya.
Dari Kairo yang gemerlap hingga Mekah yang hening. Saat dunia Muslim berpesta Maulid, Saudi justru menutup pintu. Wahabi menyebutnya bidah. Tapi benarkah Maulid mati di tanah kelahiran Nabi?
Nama itu semula terdengar asing. Bayi yatim, ditolak para penyusu, akhirnya diasuh perempuan miskin. Dari gurun yang keras, lahir pribadi yang kelak mengubah wajah sejarah dunia.
Di Najran, Rasulullah menggandeng Fatimah, Ali, Hasan, dan Husain. Sebuah doa tanding digelar, bukan untuk menjatuhkan lawan, tapi meneguhkan kebenaran dengan keberanian dan moral.
Di lereng Aqabah, dua perempuan berdiri sejajar dengan 73 laki-laki, mengikrarkan baiat yang mengubah sejarah. Momen ini bukan sekadar ritual, tapi pengakuan sosial dan spiritual terhadap martabat perempuan.