Wahyu kepada Muhammad SAW bukan sekadar risalah baru, melainkan penegasan untuk kembali pada millah Ibrahim yang lurus. Membenci jalan ini adalah bentuk nyata dari kebodohan diri di hadapan Sang Khalik.
Gelar Khalilullah bukan sekadar sebutan kehormatan, melainkan manifestasi al-khullah atau puncak kecintaan tertinggi antara hamba dan Sang Pencipta yang hanya dianugerahkan kepada dua manusia pilihan.
Pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah binti Abu Bakar pada Syawal tahun ke-2 Hijriah bukan sekadar pengikat kekerabatan. Inilah fajar lahirnya madrasah intelektual perempuan terbesar dalam sejarah Islam.
Ketika Madinah lumpuh oleh duka dan ancaman pedang Umar bin Khattab, Abu Bakr hadir membawa ketenangan nalar. Pidatonya memulihkan kesadaran umat: Muhammad adalah manusia, namun Tuhan tetap abadi.
Madinah berguncang saat kabar kematian Rasulullah tersiar. Di tengah histeria dan ancaman pedang Umar bin Khattab yang menolak kenyataan, umat Islam menghadapi ujian eksistensial pertama mereka.
Mukjizat Nabi Muhammad tidak tampil sebagai keajaiban sesaat. Al-Quran menghadirkan bukti yang bekerja lintas zaman: keindahan bahasa, presisi redaksi, dan keseimbangan makna yang terus diuji nalar manusia.
Di balik narasi besar sejarah Islam, perempuan pada masa Nabi bukan hanya pendamping, tetapi penggerak: pengasuh, pelindung, pedagang, mediator politik, hingga perawi ilmu yang membentuk fondasi peradaban.
Pertanyaan tentang asal-usul Nabi Muhammad kembali mengemuka. Qardhawi menimbangnya dengan pisau hadis dan akal sehat: kemuliaan Nabi tak lahir dari mitos penciptaan, melainkan dari akhlak dan risalahnya.
Seratus kali dalam sehari. Begitulah Nabi Muhammad bertobat, menurut sebuah hadis sahih. Bukan tanda cela, melainkan contoh spiritual: bahwa kedekatan dengan Tuhan lahir dari kesadaran diri yang tak pernah selesai.
Nabi Muhammad saw. menjahit sandalnya, Umar belajar dari istrinya, dan Zainab bersedekah untuk keluarga. Rumah tangga adalah ladang kolaborasi, bukan dominasi.
Sejak awal, Islam tegak bukan hanya di atas doa dan pedang, tapi juga kekuatan harta. Dari Utsman bin Affan hingga Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi menunjukkan: kaya itu wajib dijalankan sebagai dakwah.
Satu pengaduan perempuan mengguncang tradisi jahiliyah. Kisah Khawlah binti Tsalabah menjadi bukti suara perempuan diabadikan dalam Al-Quran. Berikut ini penjelasannya.
Dari Kairo yang gemerlap hingga Mekah yang hening. Saat dunia Muslim berpesta Maulid, Saudi justru menutup pintu. Wahabi menyebutnya bidah. Tapi benarkah Maulid mati di tanah kelahiran Nabi?