Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyebut ancaman resesi global akan terjadi pada 2023. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu perekonomian negara.
Alasan ini didasari oleh properti sebagai kebutuhan pokok masyarakat, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap properti akan tetap meningkat. Peningkatan kebutuhan terhadap hunian tiap tahunnya mempengaruhi pula pertumbuhan kapasitas backlog hunian.
Para pelaku usaha mesti mengambil langkah tepat jelang resesi 2023. Hal ini penting agar bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan pengelolaan bisnis.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan teknologi masih bergulir. Sejumlah perusahaan dengan dalih efisiensi melakukan perampingan besar-besaran.
Menurut KH Marsuki perekonomian global saat ini tengah berada di pintu resesi. Salah satu penyebabnya adalah konflik Rusia-Ukraina. Konflik tersebut memicu krisis pangan dan energi global.
Ada 4 sektor bisnis yang diprediksi mampu bertahan di tengah resesi 2023. Shifting usaha dengan memilih salah satu dari keempatnya bisa jadi solusi bisnis.
Gejolak ekonomi yang diprediksi mendekati kondisi gelap membuat kita harus bijak mengelola keuangan. Sikap bijak finansial menjadi salah satu bentuk antisipasi dalam menghadapi situasi tersebut.
Dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai masyarakat tidak perlu takut menghadapi krisis ekonomi. Dia menilai krisis itu harus dilihat sebagai peluang.
Menurut Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), negara-negara di dunia sudah punya pengalaman menghadapi resesi. Dia menilai resesi itu hanya bersifat sementara. Meski begitu, negara-negara di dunia harus tetap berusaha.