Tahun 1885, Snouck Hurgronje menanggalkan identitasnya, menyamar sebagai muslim bernama Abd al-Ghaffar di Mekah. Dari kota suci itu, ia belajar Islam bukan untuk beriman, melainkan untuk menaklukkan.
Aceh dan Banten abad ke-17 bukan sekadar kerajaan rempah. Dari balairung Safiyyat al-Din hingga utusan ke Mekah, Nusantara menegosiasikan teologi, politik, dan legitimasi global Islam.
Di bawah Iskandar Muda, Aceh menjelma kosmopolitan: pusat perdagangan rempah, istana megah, hingga gelanggang ulama besar. Namun, di balik kejayaan, perdebatan teologi ikut membara.
Dari Andalusia ke Makkah, Ibnu Arabi menulis puisi cinta yang dibaca sebagai doa mistis. Mahaguru Sufi ini membelah dunia: bidah bagi ortodoksi, tapi kunci rahasia Ilahi bagi para pencari.
Dari gemerlap Maulid di era Abbasiyah hingga sunyi di Hijaz modern. Mengapa perayaan kelahiran Nabi menghilang dari Makkah dan Madinah? Ini kisah benturan tradisi, fatwa, dan politik.
Nilai membentuk wajah peradaban. Al-Quran menegaskan, perubahan sosial lahir dari perubahan mental. Jika hanya mengejar dunia, masyarakat cepat puaslalu runtuh.
Dari Guatemala, para astronom menegaskan bahwa pemandangan itu hanyalah awan yang diposisikan sempurna. Namun bagi umat Islam, gambaran Bulan terbelah adalah gema mukjizat Rasulullah SAW lebih dari seribu tahun lalu.
Sejak awal Islam diturunkan, agama ini bukan hanya memuat ajaran spiritual, tetapi juga mengandung visi moral yang kelak mewujud menjadi sistem hukum yang lengkap.
Di balik batang-batang pohon kurma itu, ada sejarah panjang penyimpangan spiritual. Tapi ada juga keberanian para utusan Tuhan yang menebasnya demi membebaskan manusia dari perbudakan pada simbol.
Tak banyak yang menyadari bahwa Makkah adalah kota yang lahir dari doa. Ketika Ibrahim meninggalkan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail, di lembah tandus tak bertanaman, ia tak meminta hujan, tidak pula tanaman.
Tak seperti Banu Hasyim yang melahirkan Nabi Muhammad, atau Banu Umayyah yang kelak berkuasa, Banu Taim hidup di tepi sejarah. Tapi dari pinggiran itulah Abu Bakar meniti jalan sunyi menuju panggung sejarah Islam.
Malam jatuh perlahan di kota Makkah, saat para lelaki Quraisy menyesap nabidh di sekeliling Kakbah. Mereka duduk melingkar, menyimak kisah dari utara dan selatan, dari Yaman hingga Hira, dari Ghassan hingga pedalaman Hijaz.