Buya Yahya: Jangan Terlena Kemerdekaan, Isi dengan Keridhaan Allah
Muhajirin
Kamis, 18 Agustus 2022 - 16:23 WIB
Buya Yahya (foto: istimewa)
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya Zainul Ma’arif, menilai kemerdekaan Indonesia merupakan berkat rahmat Allah Ta’ala. Maka itu, kemerdekaan RI yang ke-77 harus diisi dengan tindakan yangmembuat Allah SWT ridha kepada kita.
“Bukan kita terlena mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang menjadikan Allah murka. Bukan mengisi kemerdekaan dengan kedurhakaan terhadap Allah. Bukan mengisi kemerdekaan dengan jauh dari syariat Nabi SAW,” kata Buya Yahya di Al-Bahjah TV, dikutip Kamis (18/8/2022).
Menurut Buya Yahya, peringatan kemerdekaan RI ke-77 harus dilandasi dengan rasa syukur. Kemerdekaan tak boleh hanya sebatas upacara atau kegiatan-kegiatan gebyar setahun sekali.
Baca Juga:Tausiah Kebangsaan UAS: Penjajahan Bertentangan dengan Hak Asasi Manusia
“Kita harus mensyukuri kemerdekaan ini dengan sesuatu yang Allah ridhai. Jika dulu saat ada penjajahan kita susah belajar semacam ini, akan tetapi saat ini kita bebas belajar, maka syukuri kesempatan belajar ini,” ujarnya.
Dia mengingatkan, para ulama selalu merindukan kebebasan melakukan aktivitas ibadah yang diridhai Allah. Menjalankan syariat agama selalu diintimidasi penjajah. Itu membuat mereka turun ke medan perang berjuang melawan penjajahan. Berkat perjuangan itu, masyarakat Indonesia saat ini bisa merasakan kemerdekaan.
Maka itu, kata dia, kemerdekaan harus diisi dengan hal-hal yang diridhai Allah. Dia tidak menolak jika ada perlombaan, hanya saja kesenangan itu harus berada dalam lingkaran dan batasan syariat, sehingga tetap dalam ridha-Nya.
“Bukan kita terlena mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang menjadikan Allah murka. Bukan mengisi kemerdekaan dengan kedurhakaan terhadap Allah. Bukan mengisi kemerdekaan dengan jauh dari syariat Nabi SAW,” kata Buya Yahya di Al-Bahjah TV, dikutip Kamis (18/8/2022).
Menurut Buya Yahya, peringatan kemerdekaan RI ke-77 harus dilandasi dengan rasa syukur. Kemerdekaan tak boleh hanya sebatas upacara atau kegiatan-kegiatan gebyar setahun sekali.
Baca Juga:Tausiah Kebangsaan UAS: Penjajahan Bertentangan dengan Hak Asasi Manusia
“Kita harus mensyukuri kemerdekaan ini dengan sesuatu yang Allah ridhai. Jika dulu saat ada penjajahan kita susah belajar semacam ini, akan tetapi saat ini kita bebas belajar, maka syukuri kesempatan belajar ini,” ujarnya.
Dia mengingatkan, para ulama selalu merindukan kebebasan melakukan aktivitas ibadah yang diridhai Allah. Menjalankan syariat agama selalu diintimidasi penjajah. Itu membuat mereka turun ke medan perang berjuang melawan penjajahan. Berkat perjuangan itu, masyarakat Indonesia saat ini bisa merasakan kemerdekaan.
Maka itu, kata dia, kemerdekaan harus diisi dengan hal-hal yang diridhai Allah. Dia tidak menolak jika ada perlombaan, hanya saja kesenangan itu harus berada dalam lingkaran dan batasan syariat, sehingga tetap dalam ridha-Nya.