Bagaimana Sunat bagi Laki-laki Bisa Cegah AIDS?
Muhajirin
Ahad, 03 Desember 2023 - 08:00 WIB
ilustrasi
Allah memberikan pedoman dalam Al-Qur'an untuk semua praktik kesehatan. Al-Qur'an bahkan membahas tentang penyebaran virus. Sementara HIV dan AIDS telah menjadi penyebab utama kematian di kalangan wanita berusia 20 - 40 tahun di Eropa, Afrika sub-Sahara dan Amerika Utara, industri obat HIV dan AIDS di dunia terus gagal dalam menemukan obatnya.
Caldwell, John & pat dalam buku The African AIDS Epidemic mengungkapkan, sebuah tim dari Amerika, yang dipimpin oleh John Bongaarts dari Population Council, menemukan daerah-daerah di sub-Sahara Afrika dengan tingkat infeksi HIV yang tinggi di antara masyarakat setempat sangat berhubungan dengan daerah-daerah di mana laki-laki tidak disunat.
Bukti epidemiologis menunjuk pada permukaan bagian dalam kulup, yang mengandung sel-sel Langerhans yang bertindak sebagai reseptor HIV - titik masuk yang mungkin bagi pria yang tidak disunat.
Szabo dan Robert dalam buku How Does Male Circumcision Protect Against HIV Infesction menjelaskan, sebuah eptelium skuamosa (bersisik) berlapis keratin (jaringan membran) menutupi batang penis dan permukaan luar kulup. Ini memberikan penghalang pelindung terhadap infeksi HIV.
Permukaan mukosa (lendir) bagian dalam kulup tidak berkeratin dan kaya akan sel Langerhans. Selama hubungan intim, seluruh permukaan bagian dalam kulup menyentuh cairan vagina. Dengan demikian, hal ini menyediakan lebih banyak area untuk penularan HIV.
Empat puluh penelitian memberikan bukti bahwa sunat pada pria dapat melindungi dari semua penyakit menular seksual. Pria yang disunat juga 2-8 kali lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi.
Robert Szabo menyimpulkan bahwa sunat, seperti yang diajarkan oleh Islam, akan menjadi intervensi yang paling efektif untuk mengurangi penularan HIV karena hal ini terjadi sebelum laki-laki aktif secara seksual.
Caldwell, John & pat dalam buku The African AIDS Epidemic mengungkapkan, sebuah tim dari Amerika, yang dipimpin oleh John Bongaarts dari Population Council, menemukan daerah-daerah di sub-Sahara Afrika dengan tingkat infeksi HIV yang tinggi di antara masyarakat setempat sangat berhubungan dengan daerah-daerah di mana laki-laki tidak disunat.
Bukti epidemiologis menunjuk pada permukaan bagian dalam kulup, yang mengandung sel-sel Langerhans yang bertindak sebagai reseptor HIV - titik masuk yang mungkin bagi pria yang tidak disunat.
Szabo dan Robert dalam buku How Does Male Circumcision Protect Against HIV Infesction menjelaskan, sebuah eptelium skuamosa (bersisik) berlapis keratin (jaringan membran) menutupi batang penis dan permukaan luar kulup. Ini memberikan penghalang pelindung terhadap infeksi HIV.
Permukaan mukosa (lendir) bagian dalam kulup tidak berkeratin dan kaya akan sel Langerhans. Selama hubungan intim, seluruh permukaan bagian dalam kulup menyentuh cairan vagina. Dengan demikian, hal ini menyediakan lebih banyak area untuk penularan HIV.
Empat puluh penelitian memberikan bukti bahwa sunat pada pria dapat melindungi dari semua penyakit menular seksual. Pria yang disunat juga 2-8 kali lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi.
Robert Szabo menyimpulkan bahwa sunat, seperti yang diajarkan oleh Islam, akan menjadi intervensi yang paling efektif untuk mengurangi penularan HIV karena hal ini terjadi sebelum laki-laki aktif secara seksual.