Bukan Cuma Harta, Ini Tingkatan Rezeki Menurut Para Ulama
Muhajirin
Ahad, 14 Januari 2024 - 11:00 WIB
ilustrasi
Dalam pandangan kebanyakan orang, rezeki sering kali diartikan sebagai harta atau kekayaan materi. Namun, menurut para ulama, rezeki memiliki tingkatan yang lebih luas dan mendalam. Mereka mengajarkan bahwa rezeki tidak hanya terbatas pada harta, melainkan juga mencakup berbagai aspek kehidupan.
Kata rezeki berasal dari bahasa Arab, yaitu ar-Rizqu yang berasal dari akar kata razaqa-yarzuqu-razqan wa rizqan. Secara bahasa razaqa artinya memberi dan ar-rizqu artinya pemberian.
Menurut Ibnu Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian atau porsi). Maka itu, apa saja yang dibagikan sebagai bagian atau porsi seseorang dari pemberian Allah adalah rizqan.
Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan, dengan kata lain, rizki juga dapat berarti apa-apa saja pemberian Allah kepada seorang hambaNya yang dapat dimanfaatkan disebut dengan rezeki.
Dikutip dari buku Istri-Istri Pembawa Rezeki karya Aulia Fadhli, rezeki yang selalu kita pikirkan identik dengan harta, baik barang atau jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Tetapi ternyata, rezeki itu tidak selalu soal harta, ada juga rezeki berupa kesehatan, tubuh yang sempurna, udara yang segar, kemerdekaan, keamanan, ketentraman, akal pikiran, keimanan dan keislaman bahkan termasuk di dalamnya itu keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, dan semua itu adalah rezeki yang patut disyukuri.
Pada dasarnya, muara dari hampir setiap usaha yang dilakukan oleh manusia adalah mencari rezeki. Pendidikan, kedudukan, dan pekerjaan kerap dimaknai sebagai wasilah menuju rezeki. Tapi sayang makna rezeki pada sebagian orang telah mengalami penyempitan.
Kata rezeki berasal dari bahasa Arab, yaitu ar-Rizqu yang berasal dari akar kata razaqa-yarzuqu-razqan wa rizqan. Secara bahasa razaqa artinya memberi dan ar-rizqu artinya pemberian.
Menurut Ibnu Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian atau porsi). Maka itu, apa saja yang dibagikan sebagai bagian atau porsi seseorang dari pemberian Allah adalah rizqan.
Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan, dengan kata lain, rizki juga dapat berarti apa-apa saja pemberian Allah kepada seorang hambaNya yang dapat dimanfaatkan disebut dengan rezeki.
Dikutip dari buku Istri-Istri Pembawa Rezeki karya Aulia Fadhli, rezeki yang selalu kita pikirkan identik dengan harta, baik barang atau jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Tetapi ternyata, rezeki itu tidak selalu soal harta, ada juga rezeki berupa kesehatan, tubuh yang sempurna, udara yang segar, kemerdekaan, keamanan, ketentraman, akal pikiran, keimanan dan keislaman bahkan termasuk di dalamnya itu keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, dan semua itu adalah rezeki yang patut disyukuri.
Pada dasarnya, muara dari hampir setiap usaha yang dilakukan oleh manusia adalah mencari rezeki. Pendidikan, kedudukan, dan pekerjaan kerap dimaknai sebagai wasilah menuju rezeki. Tapi sayang makna rezeki pada sebagian orang telah mengalami penyempitan.