Eksistensi Manusia dalam Islam: Bekerja, Beramal dan Berkarya
Tim langit 7
Rabu, 16 Oktober 2024 - 10:30 WIB
ilustrasi
Rene Descartes dikenal luas dengan ungkapannya “Cogito ergo sum” yang berarti “Aku berpikir, maka aku ada.” Ungkapan ini merangkum pemikiran Descartes bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh kesadaran berpikirnya. Menurutnya, keraguan yang mengawali proses berpikir menjadi bukti paling dasar dari keberadaan manusia.
Namun, dalam perspektif Islam, eksistensi manusia tidak semata ditentukan oleh aktivitas berpikir. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, dalam salah satu khutbahnya memberikan pandangan yang menurutnya lebih sesuai dengan konsepsi Islam tentang eksistensi. Ia menegaskan, “Aku bekerja, maka aku ada,” yang menempatkan pekerjaan sebagai penanda utama dari keberadaan dan eksistensi manusia.
Konsep eksistensi dalam Islam bukan hanya soal kesadaran intelektual, tetapi tentang kontribusi nyata melalui kerja dan amal. Hal ini memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah QS. At-Taubah ayat 105, yang berbunyi, “Bekerjalah kamu sekalian, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.”
Ayat di atas menegaskan bahwa bekerja bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan tindakan yang mendapatkan perhatian langsung dari Allah. Pekerjaan yang dilakukan manusia, baik dalam bentuk profesi, sukarela, maupun karya, menjadi manifestasi dari keberadaan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama manusia.
Lebih lanjut, Syamsul Anwar menjelaskan bahwa bekerja bukan hanya jalan untuk memperoleh rezeki halal, tetapi juga menjadi tolok ukur pengakuan sosial atas kontribusi seseorang. Dengan bekerja, seseorang mendapatkan tempat di tengah masyarakat, yang mengakui keberadaannya melalui hasil kerja yang nyata.
“Setiap orang harus menciptakan lapangan pekerjaan atau setidaknya bekerja, karena melalui bekerja, mereka dianggap eksis. Sebaliknya, mereka yang tidak bekerja, baik dalam arti literal maupun figuratif, akan dianggap seolah-olah tidak ada,” jelas Syamsul dalam khutbah Jumat yang disampaikannya pada Jumat (27/01) di Masjid Agung Bangka Selatan.
Namun, konsep bekerja dalam Islam, sebagaimana diuraikan oleh Syamsul, sering kali mengalami penyempitan makna dalam pemahaman umum. Istilah “amal” yang dalam bahasa Arab berarti pekerjaan atau perbuatan, seringkali diartikan secara sempit sebagai sedekah atau infak. Padahal, dalam terminologi Islam, amal mencakup berbagai aktivitas produktif yang dilakukan manusia, baik yang menghasilkan manfaat ekonomi maupun yang bersifat sosial.
Namun, dalam perspektif Islam, eksistensi manusia tidak semata ditentukan oleh aktivitas berpikir. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, dalam salah satu khutbahnya memberikan pandangan yang menurutnya lebih sesuai dengan konsepsi Islam tentang eksistensi. Ia menegaskan, “Aku bekerja, maka aku ada,” yang menempatkan pekerjaan sebagai penanda utama dari keberadaan dan eksistensi manusia.
Konsep eksistensi dalam Islam bukan hanya soal kesadaran intelektual, tetapi tentang kontribusi nyata melalui kerja dan amal. Hal ini memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah QS. At-Taubah ayat 105, yang berbunyi, “Bekerjalah kamu sekalian, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.”
Ayat di atas menegaskan bahwa bekerja bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan tindakan yang mendapatkan perhatian langsung dari Allah. Pekerjaan yang dilakukan manusia, baik dalam bentuk profesi, sukarela, maupun karya, menjadi manifestasi dari keberadaan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama manusia.
Lebih lanjut, Syamsul Anwar menjelaskan bahwa bekerja bukan hanya jalan untuk memperoleh rezeki halal, tetapi juga menjadi tolok ukur pengakuan sosial atas kontribusi seseorang. Dengan bekerja, seseorang mendapatkan tempat di tengah masyarakat, yang mengakui keberadaannya melalui hasil kerja yang nyata.
“Setiap orang harus menciptakan lapangan pekerjaan atau setidaknya bekerja, karena melalui bekerja, mereka dianggap eksis. Sebaliknya, mereka yang tidak bekerja, baik dalam arti literal maupun figuratif, akan dianggap seolah-olah tidak ada,” jelas Syamsul dalam khutbah Jumat yang disampaikannya pada Jumat (27/01) di Masjid Agung Bangka Selatan.
Namun, konsep bekerja dalam Islam, sebagaimana diuraikan oleh Syamsul, sering kali mengalami penyempitan makna dalam pemahaman umum. Istilah “amal” yang dalam bahasa Arab berarti pekerjaan atau perbuatan, seringkali diartikan secara sempit sebagai sedekah atau infak. Padahal, dalam terminologi Islam, amal mencakup berbagai aktivitas produktif yang dilakukan manusia, baik yang menghasilkan manfaat ekonomi maupun yang bersifat sosial.