Tragedi Mei 1998 dan Kata “Massal”: Menbud Sebut Menulis Sejarah dengan Kepala Dingin dan Berpijak pada Fakta
Tim langit 7
Selasa, 17 Juni 2025 - 17:10 WIB
Tragedi Mei 1998 dan Kata Massal: Menbud Sebut Menulis Sejarah dengan Kepala Dingin dan Berpijak pada Fakta
LANGIT7.ID–Jakarta;Bukan menyangkal, apalagi menyudutkan korban. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan sikap yang justru mengajak publik bersikap dewasa dalam memaknai tragedi kelam Mei 1998. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk melihat sejarah secara jernih, tanpa kehilangan empati, tapi juga tidak menanggalkan akal sehat.
"Setiap luka sejarah harus kita hormati. Tapi sejarah bukan hanya tentang emosi, ia juga tentang kejujuran pada data dan fakta," kata Fadli Zon dalam keterangannya, menanggapi riuhnya kritik atas pernyataannya soal istilah "perkosaan massal", Selasa (17/6/2025).
Pernyataan itu memicu gelombang kekecewaan. Tapi jika dibaca utuh, maksudnya bukan menyangkal kekerasan seksual. Justru Fadli ingin mengajak semua pihak berhati-hati agar narasi sejarah tidak jatuh pada simplifikasi yang justru menyulitkan pencarian keadilan sejati.
Baca juga: Fadli Zon Menjawab Soal Perkosaan Massal pada Kerusuhan 13-14 Mei 1998
Isu ini memang sensitif. Tapi justru karena sensitif, kata Fadli, publik harus lebih hati-hati dalam menggunakannya. Kata "massal" bisa bermakna luas dan memerlukan bukti yang teruji secara akademik maupun legal. Ia mengutip laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tahun 1998, yang memang mencatat adanya kekerasan seksual, namun belum menyebut pola sistematis yang mengarah pada kategori 'massal' secara hukum internasional.
“Ini bukan soal menyangkal korban. Ini soal menghindari penyimpulan yang terlalu cepat, yang justru bisa membuat luka makin dalam dan kebenaran makin kabur,” ujar Fadli.
Fadli menegaskan ia tak pernah menihilkan penderitaan para korban. Ia bahkan menyatakan dukungan penuh pada penguatan institusi seperti Komnas Perempuan dan mekanisme keadilan transisional.
"Setiap luka sejarah harus kita hormati. Tapi sejarah bukan hanya tentang emosi, ia juga tentang kejujuran pada data dan fakta," kata Fadli Zon dalam keterangannya, menanggapi riuhnya kritik atas pernyataannya soal istilah "perkosaan massal", Selasa (17/6/2025).
Pernyataan itu memicu gelombang kekecewaan. Tapi jika dibaca utuh, maksudnya bukan menyangkal kekerasan seksual. Justru Fadli ingin mengajak semua pihak berhati-hati agar narasi sejarah tidak jatuh pada simplifikasi yang justru menyulitkan pencarian keadilan sejati.
Baca juga: Fadli Zon Menjawab Soal Perkosaan Massal pada Kerusuhan 13-14 Mei 1998
Isu ini memang sensitif. Tapi justru karena sensitif, kata Fadli, publik harus lebih hati-hati dalam menggunakannya. Kata "massal" bisa bermakna luas dan memerlukan bukti yang teruji secara akademik maupun legal. Ia mengutip laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tahun 1998, yang memang mencatat adanya kekerasan seksual, namun belum menyebut pola sistematis yang mengarah pada kategori 'massal' secara hukum internasional.
“Ini bukan soal menyangkal korban. Ini soal menghindari penyimpulan yang terlalu cepat, yang justru bisa membuat luka makin dalam dan kebenaran makin kabur,” ujar Fadli.
Fadli menegaskan ia tak pernah menihilkan penderitaan para korban. Ia bahkan menyatakan dukungan penuh pada penguatan institusi seperti Komnas Perempuan dan mekanisme keadilan transisional.