Hezbollah Akui Tak Netral, Siap Terlibat dalam Perang Iran-Israel
Nabil
Jum'at, 20 Juni 2025 - 09:11 WIB
Pemimpin Hezbollah Lebanon, Naim Qassem. Dok: Istimewa
LANGIT7.ID-Jakarta;Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, menegaskan pada Kamis bahwa kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon itu “tidak netral” dalam konflik antara Iran dan Israel. Dalam pernyataannya, Qassem menyebut Hezbollah akan “bertindak sesuai yang kami anggap perlu” dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi brutal Israel dan Amerika.
“Amerika yang tiran dan Israel yang kriminal tidak akan bisa menundukkan rakyat Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC),” kata Qassem.
Ia juga menegaskan bahwa Hezbollah tetap punya tanggung jawab untuk mendukung Iran dengan segala cara, demi menghentikan penindasan ini.
Hezbollah sendiri sebelumnya mengalami kerugian besar dalam perang melawan Israel tahun lalu, yang berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata pada November.
Baca juga: Netanyahu: Ganti Rezim Iran Bukan Tujuan, Tapi Bisa Jadi Akibat Perang
Sementara itu, Kamis pagi, utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, memperingatkan Hezbollah agar tidak ikut campur dalam perang antara Iran dan Israel. Barrack, yang juga menjabat Duta Besar AS untuk Turki, sedang melakukan kunjungan pertamanya ke Beirut dan bertemu sejumlah pejabat tinggi Lebanon, termasuk Ketua Parlemen Nabih Berri yang dikenal dekat dengan Hezbollah.
“Atas nama Presiden (Donald) Trump, saya bisa bilang... itu akan menjadi keputusan yang sangat, sangat, sangat buruk,” kata Barrack usai pertemuan dengan Berri, saat ditanya soal sikap AS jika Hezbollah ikut terlibat dalam perang.
“Amerika yang tiran dan Israel yang kriminal tidak akan bisa menundukkan rakyat Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC),” kata Qassem.
Ia juga menegaskan bahwa Hezbollah tetap punya tanggung jawab untuk mendukung Iran dengan segala cara, demi menghentikan penindasan ini.
Hezbollah sendiri sebelumnya mengalami kerugian besar dalam perang melawan Israel tahun lalu, yang berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata pada November.
Baca juga: Netanyahu: Ganti Rezim Iran Bukan Tujuan, Tapi Bisa Jadi Akibat Perang
Sementara itu, Kamis pagi, utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, memperingatkan Hezbollah agar tidak ikut campur dalam perang antara Iran dan Israel. Barrack, yang juga menjabat Duta Besar AS untuk Turki, sedang melakukan kunjungan pertamanya ke Beirut dan bertemu sejumlah pejabat tinggi Lebanon, termasuk Ketua Parlemen Nabih Berri yang dikenal dekat dengan Hezbollah.
“Atas nama Presiden (Donald) Trump, saya bisa bilang... itu akan menjadi keputusan yang sangat, sangat, sangat buruk,” kata Barrack usai pertemuan dengan Berri, saat ditanya soal sikap AS jika Hezbollah ikut terlibat dalam perang.