Peringati Hari Anak Nasional, Menteri PPPA Ajak Orangtua & Anak Hidupkan Kembali Permainan Tradisional
Lusi mahgriefie
Senin, 21 Juli 2025 - 09:08 WIB
Foto: kemenpppa.go.id
Hari Anak Nasional jatuh pada Rabu, 23 Juli 2025 dan akan diperingati secara desentralistik di seluruh sekolah di Indonesia, agar lebih banyak anak dapat terlibat langsung tanpa harus datang ke satu lokasi pusat.
Demikian disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (20/7).
Menteri PPPA menyampaikan, lima kegiatan utama yang diusung dalam perayaan HAN 2025 adalah senam anak hebat, permainan tradisional, kesenian daerah, dongeng pahlawan lokal, dan pemeriksaan kesehatan gratis.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membangun kebersamaan, menumbuhkan cinta budaya, serta menjauhkan anak dari ketergantungan terhadap gadget.
Baca juga:Hari Anak Nasional 2025, Menbud Fadli Zon Ajak Masyarakat Tumbuhkan Cinta Budaya Sejak Dini
"Pendekatan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak yang banyak dipicu oleh pola asuh tidak tepat, penyalahgunaan gadget, dan minimnya interaksi sosial. Kami berharap HAN tahun ini membawa dampak nyata dalam kehidupan anak-anak sehari-hari tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal," kata Menteri PPPA.
Kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional kepada generasi Z dan Alpha. Permainan seperti congklak, gangsing, damdaman, galasin, hingga lompat tali karet diperagakan anak-anak sebagai alternatif hiburan sehat yang mengurangi ketergantungan pada gadget.
Demikian disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (20/7).
Menteri PPPA menyampaikan, lima kegiatan utama yang diusung dalam perayaan HAN 2025 adalah senam anak hebat, permainan tradisional, kesenian daerah, dongeng pahlawan lokal, dan pemeriksaan kesehatan gratis.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membangun kebersamaan, menumbuhkan cinta budaya, serta menjauhkan anak dari ketergantungan terhadap gadget.
Baca juga:Hari Anak Nasional 2025, Menbud Fadli Zon Ajak Masyarakat Tumbuhkan Cinta Budaya Sejak Dini
"Pendekatan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak yang banyak dipicu oleh pola asuh tidak tepat, penyalahgunaan gadget, dan minimnya interaksi sosial. Kami berharap HAN tahun ini membawa dampak nyata dalam kehidupan anak-anak sehari-hari tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal," kata Menteri PPPA.
Kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional kepada generasi Z dan Alpha. Permainan seperti congklak, gangsing, damdaman, galasin, hingga lompat tali karet diperagakan anak-anak sebagai alternatif hiburan sehat yang mengurangi ketergantungan pada gadget.